Catatan Redaksi: Seri Kliping 17 Agustus

Catatan Redaksi: Seri Kliping 17 Agustus

Catatan Redaksi: Seri Kliping 17 Agustus
Catatan Redaksi: Seri Kliping 17 Agustus. Sumber: Gemini.

Adalah salah bila perang gerilya disematkan pada peran lelaki semata. Perempuan punya peran krusial, tidak hanya saat masa revolusi setelah proklamasi 17 Agustus (1945-1949), pula dalam gerakan bawah tanah zaman pendudukan Jepang (1942-1945).

Nyawa adalah risiko perempuan dalam menjalankan tugas-tugas bawah tanah, juga perang gerilya, terutama sebagai “kurir” informasi.

Pada masa pendudukan Jepang, mereka yang tertangkap pastilah disiksa sejadi-jadinya. Diperlakukan lebih buruk daripada binatang sekalipun.

Bilamana kita punya kesempatan untuk bertanya, pilih disika atau langsung dieksekusi mati, pikir saya, para penyintas lebih condong memilih yang pertama. 

Sebab, kehidupan setelah serangkaian penyiksaan adalah kematian itu sendiri yang sakitnya terus dirasakan hingga embusan napas terakhir.

Pada masa perang gerilya saat revolusi, tak sedikit pula perempuan yang bertugas sebagai pengantar informasi, selayaknya yang catatan harian Sjaraswati yang terbit di Api Kartini.

Pengalaman keterlibatan perempuan dalam perang gerilya juga terekam dalam novel Merentang Purnama karya Sulami. 

Sulami adalah jurnalis, esais, cerpenis, novelis, dan aktivis perempuan yang aktif di Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani).

Merentang Purnama adalah novel yang ia tulis berdasarkan pengalamannya ketika terlibat dalam perang gerilya di bawah kaki Gunung Lawu, terutama di daerah Sragen, Jawa Tengah.

Keterlibatan perempuan dalam berjuang tidaklah mudah. Kesukaran ini dijelaskan dengan detail oleh Soewarti dalam esainya di Harian Rakjat.

Rintangan-rintangan yang dihadapi perempuan berlipat-lipat lebih dari ganda, yang seluruhnya bersumber dari dalam atau luar keluarganya, malahan dari perempuan itu sendiri.

Soewarti menekankan pentingnya berogranisasi untuk perempuan. Dan organisasi ini mesti, “Sanggup memperjuangkan kepentingan anggota-anggotanya, memperhatikan soal-soal yang dihadapi sehari-hari oleh anggota-anggotanya, walaupun kelihatannya remeh.”

17 Agustus: Potret Nelayan, Tani, dan Buruh

Delapan dekade lebih satu tahun sudah Indonesia merdeka. Tapi toh tiga soko ekonomi: nelayan, tani, dan buruh, masih berkutat pada persoalan yang sama.

Pada nelayan, tengkulak adalah salah satu biang keladi kemelaratan. Satu dari tujuh setan desa ini, jelas-jelas mengeksploitasi keringat nelayan, dengan sewenang-wenang menentukan harga dari jerih payahnya.

Persoalan nelayan menghadapi tengkulak menjadi sorotan bagi organisasi pergerakan. Satu di antaranya adalah Barisan Tani Indonesia (BTI). 

Secara khusus, melalui Suara Tani, BTI memberi ruang kepada M. Aminzen untuk menguraikan bagaimana cara nelayan di Dumai, Riau, melawan tengkulak. Benang merah dalam keberhasilan gerakannya adalah solidaritas!

Juga selama delapan dekade kemerdekaan, tani masih melulu menghadapi persoalan yang sama: tengkulak, lintah darat, dan tuan tanah. Tiga dari tujuh setan desa ini masih bergentayangan!

Merespons hal itu, Suta memberikan penjelasan bagaimana gerakan koperasi di kalangan kaum tani dapat menyelamatkan tani itu sendiri, termasuk buruh tani.

Namun, BTI sadar betul koperasi tidak bisa serta merta didirikan. Sebelum sampai ke sana, perlu ada fase yang oleh Asmoe Tjiptodarsono, disebut sebagai organisasi gotong royong pertanian.

Bagi kelas buruh, pengupahan, diskriminasi, dan hak-hak normatif, masih jadi soal hingga hari ini. Kesukaran hidup makin berlipat setelah harga sandang pangan naik pula.

Lebih spesifik, kesulitan-kesulitan itu tentulah banyak dialami buruh perempuan, yang oleh Setiati Surasto disampaikan dengan bernas dalam esainya di Api Kartini.

Menyoal buruh perempuan, sebelum Indonesia merdeka, Sekar Kawis, sudah menuliskan bagaimana rintangan perempuan dalam hidup di media Sedar.

Tantangannya tidak hanya terbatas pada stigma dan sempitnya pengertian tentang pekerjaan bagi perempuan, tapi ketika perempuan bekerja pun, ketimpangan itu jelas dirasakan. 

Sama Rata Sama Rasa: Gejolak Pemuda, Kekangan Pers, dan Potret Kemiskinan

Pengangguran termasuk isu utama bagi kalangan muda hari ini. Kesulitan-kesulitan masih mereka hadapi, hingga menciptakan satu momok menakutkan. 

Dalam esainya, Asmudji menulis, “Bagi pemuda Indonesia sendiri, ketakutan, penghinaan, kekhawatiran, kelesuan, dan macam-macam kesulitan masih tetap berdampingan erat dengan kehidupan sehari-hari.”

Syahdan, pernyataannya masih relevan sampai hari ini, di mana anak mudah sulit mendapatkan ruang gerak: saat ingin bekerja lowongan tak memadai, kritis malah dihadapkan dengan persoalan hukum.

Tapi, toh anak muda tidak harus tinggal diam. Menurut Asmudji, “Tetapi ia (pemuda) ikut serta menentukan dan menyokong semua gerak langkahnya untuk memastikan di mana ia berada dan bagaimana ia mesti bertindak.”

Jauh sebelum Indonesia merdeka, Dengah dalam Soeara Ra’jat, juga menyontohkan bagaimana sulitnya anak muda dalam mencari penghidupan, lebih-lebih dari keluarga miskin.

Tumbuh tanpa pendidikan, miskin, dan status sebagai jajahan membuat seorang anak muda bisa dengan mudah dicap sebagai gelandangan dan penjahat. 

Dalam menyambung hidup, imajiner Dengah yang realis itu menyebut, seorang anak mesti mencuri untuk bertahan hidup. Bukan karena ia tidak mau bekerja, tapi sistemlah yang membuatnya demikian. 

Mencuri jelas salah, tapi solusi yang ditawarkan Dengah adalah meleburkan diri dalam suatu tatanan masyarakat yang ia sebut sebagai sama rata sama rasa.

Bagaimana suatu negara memperlakukan Rakyat dengan tidak manusiawi adalah potret era kolonial, yang hingga kini masih ada, hanya berubah bentuknya saja.

Tabiat serupa itu termaktub dalam Max Havelaar karya Multatuli, yang oleh S. Djin, diuraikan dengan nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya.

Pada hari ini, buah pikir S. Djin untuk Max Havelaar tentu masih menarik dibaca, dan bagaimana suasana kolonial itu masih terasa hingga delapan dekade lebih satu tahun kemerdekaan Indonesia.

Pers menjadi soal lain. Bukannya berkembang maju, tapi masih pula menghadapi persoalan yang sama: pengekangan!

Pramoedya Ananta Toer, secara khusus menulis bagaimana potret media massa sekitar 1960-an yang menghadapi pemberedelan dan kekangan dari penguasa.

Bagi Pram, pemberedelan, pencabutan izin terbit, izin terbit kembali dengan syarat, tidak bisa diterima oleh naluri individu atau nation manapun juga yang membutuhkan kebenaran dan keadilan di dalam hidupnya.

“Kebenaran bukan harus ditakuti, tetapi justru diperjuangkan dan dimuliakan,” tegas Pram.

Dalam kesempatan yang lain, Pram turut menulis suatu karya berkepala “Kampungku”. Ini bak surat kepada kawan “imajiner”, yang menunjukkan bagaimana kematian lekat sekali pada kampung yang jaraknya hanya 500 meter dari Istana Negara.

Ironi memang, bagaimana kemiskinan dan kematian yang terjadi daripadanya justru rutin datang pada kampung yang lokasinya tidak jauh dari pusat kekuasaan.

Dalam tulisannya itu, Pram menunjukkan bagaimana kemiskinan masih menjadi persoalan pelik, dan sesuatu yang turut berkontribusi atas ketidaktahuan masyarakat.

Nahasnya, kegelisahan Pram masih berlaku hingga hari ini. Kita tidak perlu jauh-jauh menengok keluar ibu kota, di Jakarta saja, di pusat kekuasaan, potret kemiskinan masih jamak ditemukan, setelah 81 tahun kemerdekaan!

Daftar Isi

Seri kliping ini dimaksudkan sebagai refleksi, yang menunjukkan kepada kita apa yang telah ditulis oleh para pendahulu masih relevan hingga hari ini.

Dalam 12 tulisan ini, redaksi menyertakan pula cerita pendek karya Sugiarti Siswadi, yang menurut redaksi, tidak bisa dilihat sebagai karya sastra semata, melainkan realitas yang masih berlaku hingga kini.

Tidak ada kewajiban bagi para pembaca untuk membaca secara berurutan. Semerdekanya sajalah. Dibaca, alhamdulillah, nggak dibaca, ya, itu hak. 

Selamat menikmati suguhan kami, tabik!

  1. Pantang Menyerah – Sjaraswati, Api Kartini Edisi Nomor 7-8 Tahun IV —  Juli-Agustus 1962
  2. Militansi Wanita dalam Perjuangan – Soewarti, Harian Rakjat Edisi 14 Juli 1954
  3. Aksi Kaum Nelayan Kalahkan Tengkulak Ikan – M. Aminzen, Suara Tani Edisi Tahun XII Nomor 12 — Desember 1961
  4. Gerakan Koperasi di Kalangan Kaum Tani – Suta, Suara Tani Edisi Tahun XII Nomor 7 — Juli 1961
  5. Buruh Wanita Berjuang untuk Hak Sama dan untuk Sandang Pangan – Setiati Surasto, Api Kartini Edisi Nomor 5 Tahun II — Mei 1960
  6. Pekerjaan Perempuan – Sekar Kawis, Sedar Edisi Nomor 6-7 — Januari-Februari 1932
  7. Musuh Pemuda – Asmudji, Harian Rakjat Edisi 25 September 1952
  8. Jangan Dibikin Bengek – Pramoedya Ananta Toer, Harian Rakjat Edisi 7 Mei 1960
  9. Multatuli Menggugat – S. Djin, Api Kartini Edisi Nomor 10 Tahun VI — Oktober 1964
  10. Sama Rata Sama Rasa – Dengah, Soeara Ra’jat Edisi Tahun 2 — 24 Juli 1919
  11. Kampungku – Pramoedya Ananta Toer, Harian Rakjat Edisi 3 Januari 1953
  12. Keluarga Kelas Buruh – Sugiarti Siswadi, Harian Rakjat Edisi 1 Mei 1961

Kawan Redaksi

Penulis:
Editor: Akbar Ridwan

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!