Oleh: S. Djin
Api Kartini Edisi Nomor 10 Tahun VI — Oktober 1964
Sebuah karya sastra telah menggemparkan kaum penjajah Belanda pada bulan Mei 1860. Bagaikan sebuah ledakan bom yang dahsyat demikianlah buku Multatuli: Max Havelaar of de Koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappij telah mengguncangkan sendi-sendi pejabat-ejabat kolonial di Keizersgracht.
Sebuah karya yang mencatat kekejaman-kekejaman serta pengisapan tiada taranya dalam sejarah dunia yang dilakukan oleh kaum penjajah Belanda di bumi Indonesia.
Eduard Douwes Dekker atau Multatuli adalah seorang pengarang dan manusia yang besar, seorang internasionalis yang muak melihat ketidakadilan dan kekejaman penjajahan-penjajahan yang dilakukan oleh bangsanya sendiri terhadap bangsa lain.
Sebagai seorang amtenar (pegawai negeri—ed) kecil, tak ada jalan lain yang bisa dilakukan kecuali menggugat. Gugatan-gugatan yang digubah dalam surat-surat serta cetusan-cetusan pikiran yang kemudian dikumpulkan dalam buku-bukunya.
Max Havelaar yang kini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa menjadi kekayaan sastra dunia. Dalam buku ini Multatuli membicarakan dengan gaya sastra yang unik, jelas tak terbantahkan tetapi indah dalam mengabdi kebenaran dan keadilan.
Gugatan Multatuli tercermin dalam penutup bukunya:
“Didengarkan… itulah yang kukehendaki. Akan kuminta tempat dalam Dewan Perwakilan Rakyat. Dan apabila aku ditolak? Akan kuterjemahkan bukuku untuk menanyakan kepada seluruh Eropa, apa yang tidak kujumpa di negeri Belanda. Dan di semua ibu kota akan dinyanyikan lagi: sebuah negeri perampok terletak di tepi laut, di antara Friesland Timur dan Sungai Schelde…!
Dan apabila itu pun tidak berhasil? Akan kuterjemahkan buku ini ke dalam Bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Alfur, Bugis, Batak. Dan akan kulemparkan nyanyian perjuangan hukum klewang dalam dada korban-korban yang tersiksa, yang telah kujadikan pertolongan—aku, Multatuli—melalui jalan hukum bilamana mungkin, melalui hukum kekerasan bila diperlukan.
Dan hal itu akan sangat merugikan Pelelangan Kopi Maskapai Dagang Belanda, tetapi hal itu akan tidak perlu.
Sebab kepada Tuan Willem ke-III, Raja … … Kaisar dari Insulinde, negeri indah, sebuah rangkaian zamrud yang melingkar sepanjang khatulistiwa, kepada tuan aku bertanya, adalah kehendak tuan… bahwa di sana… lebih dari 30 juta manusia hamba-hamba tuan sedang disiksa dan dihirup atas nama tuan…?”
Gugatan Multatuli nyata dan jelas, ketika dilukiskan dalam keadaan penderitaan di Jawa sebagai berikut:
“Benarlah orang Jawa memang dikejar-kejar oleh kekuasaan yang rangkap, benarlah dia memang direnggut dari sawah ladangnya, benarlah bahwa kelaparan sering kali merupakan akibatnya, tetapi di Betawi, Semarang, Surabaya, dan lain-lain, bendera-bendera dengan riangnya berkibar di kapal-kapal penuh muatan hasil bumi yang membuat negeri Belanda kaya raya.
Kelaparan? Di atas bumi Pulau Jawa yang kaya raya, subur makmur, dan penuh rahmat, kelaparan? Ya, pembaca! Selama beberapa tahun saja berbagai daerah telah habis musnah penduduknya akibat kelaparan. Ibu-ibu menawarkan anak-anaknya untuk ditukar dengan makanan. Ibu-ibu telah makan anak-anaknya…”
Dalam kisah “Saidjah dan Adinda” dari Kecamatan Parungkujang, Lebak, sebuah roman derita dan gugatan terhadap penjajahan Belanda, Multatuli menampakkan dirinya sebagai seorang seniman halus tetapi tajam.
“Saidjah pergi ke Betawi untuk bekerja dan menabung untuk dapat membeli dua kerbau sedangkan tunangannya Adinda akan menunggunya.
Hitunglah bulan-bulan berlalu… katanya. Aku akan pergi selama dua belas bulan. Goreslah coretan pada penumbuk-penumbuk padi pada tiap bulan muda.
Setelah tiga tahun Saidjah kembali tetapi… tak satupun dijumpainya. Didengar olehnya, bahwa kerbau ayah Adinda telah diambil dan bahwa mereka telah mengungsi dari Lebak karena tidak dapat membayar pajak tanah,
Ia telah pergi bersama Adinda dan saudara-saudara laki-lakinya ke daerah Lampung dan Saidjah memutuskan untuk mencarinya.
Demikian sampailah Saidjah di daerah Lampung, tempat kaum pemberontak berjuang melawan kekuasaan Belanda. Pada suatu hari ketika kaum pemberontak dikalahkan lagi, ia berjalan menyusur sebuah desa, yang baru saja dirampas oleh pasukan belanda dan sedang dalam keadaan terbakar.
Didapatinya mayat-mayat ayah serta saudara-saudara lelaki Adinda dan… dan tak jauh dari tempat itu, juga mayat Adinda, telanjang serta rusak tersiksa…
Kemudian berlarilah Saidjah menuju arah serdadu-serdadu yang dengan bayonet terhunus melemparkan sisa-sisa pemberontak ke dalam api rumah-rumah sedang terbakar.
Dipegangnya bayonet erat-erat dan dengan segenap kekuatan yang ada majulah ia ke depan, mendesak serdadu-serdadu itu mundur dengan daya kekuatan terakhir ketika ujung bayonet itu menancap pada dadanya.
Tak lama kemudian di Betawi diadakan pesta pora besar-besaran. Dan gubernur jenderal menulis ke Tanah Air, bahwa ketegangan di Lampung telah dipulihkan kembali.”
Dalam konsep surat Multatuli kepada gubernur jenderal tertanda 9 April 1956 (1856–ed) yang tak jadi dikirim, tetapi kini terdapat dalam museum Multatuli di Amsterdam dinyatakan:
“Aku telah banyak menderita. Kukira aku mempunyai tugas untuk membebaskan berjuta-juta manusia yang meringkuk di bawah beban pengisapan, kekejaman, perampokan, serta pembunuhan.”
Di mana-mana terjadi kekejaman. Dan ini terjadi pada polisi dengan segenap kebinasaan serta penjara, dan ini terjadi pada politik dengan kapal-kapal perang, mesin, pembakaran-pembakaran serta kepahlawanan-kepahlawanan yang tidak perlu yang membantu perubahan…”
Jeritan itu sampai di langit.
“Barang siapa yang sangsi, ia harus membaca Valentij (seorang pendeta Kristen yang pada permulaan abad ke-18 menulis tentang daerah Timur) yang telah menceritakan tentang kekejaman-kekejaman.
Ia harus membaca kisah sekilas tentang orang komandan pasukan yang menancapkan ujung tombak ke dalam mulut musuhnya yang gagah berani tetapi kalah dengan ejekan.
Bagaimana ia menyuruh memotong lengan dan kakinya satu per satu agar membunuhnya dengan perlahan-lahan dan terutama harap membaca, bagaimana Hamba Evangelie Valentijn yang alim ini menambahkan pada kisah tersebut:
Inilah akhir riwayat seseorang yang telah memberi kesukaran banyak kepada kompeni Yang Mulia.
Barang siapa yang ragu-ragu, silakan bertanya orang-orang Banda telah pergi? Pembantu kami ketika kami lemah, budak-budak kami pada saat kami kuat.
Pizarro, Cortez, serta penerus-penerus mereka masih meninggalkan orang-orang Indian di Amerika Selatan, tetapi apakah yang telah diperbuat oleh Belanda dengan orang Banda? Tak terdapat seorang Banda lagi!
…
Adakah Yang Mulia pernah melihat mayat-mayat hanyut ke hilir sungai, biru membengkak, luka-luka mengerikan?
Itulah berita yang dikirim dari daerah pedalam ke pantai-pantai, itulah surat-menyurat antara ikan hiu di hutan rimba, dengan ikan-ikan hiu di samudra. Itulah penuntut-penuntut, mayat-mayat para penuntut, Yang Mulia!
Bukti-bukti? Saksi? Memang, aku tidak percaya, bahwa Yang Mulia akan senang untuk mendengar serta melihat mereka, beribu-ribu di Taman Istana Yang Mulia.
Aku tidak minta kepada Yang Mulia sedikipun untuk diriku sendiri. Aku minta keadilan bagi manusia yang tertindas.
Akan kusampaikan kepada raja, bila kutunjukkan kepada mutumanikam pada mahkota raja, kepada negeri Belanda, bila kutunjukkan kepada modal-modalnya, mutumanikam itu barang curian, modal-modal itu harta rampasan, Istana Yang Mulia adalah sebuah pohon yang mempunyai akar-akaranya dalam rawat ketidakadilan.
Dan apabila hal itu tidak berhasil?!
Akan kupelajari semua bahasa untuk menyalinnya dalam sajak, agar ibu-ibu menunjukkan kepada anak-anaknya: nun di sanalah terletak sebuah negara perampok sepanjang pantai laut antara Friesland Timur dan Sungai Schelde.”
Sangat menggemparkan adalah pidato Multatuli dalam Kongres Kolonial di Amsterdam tahun 1864, ketika sekali lagi diajukan gugatan Max Havelaar dalam Bahasa Prancis.
Tetapi tidak berhasil waktunya belum masak, meskipun Multatuli sampai pula kepada konsekuensi terakhir yang diucapkannya dalam surat pada tahun 1876.
“Programku adalah: Enyahlah Belanda! Kukira saatnya kini tiba. Revolusi toh akan datang. Ia akan datang dengan atau tanpa diriku. Persoalannya ialah adakah aku bisa mencegah agar piramid yang telah goyah itu tidak terbalik ke arah yang keliru, ialah dalam pangkuan perampok-perampok Amerika dan sebagainya?”
Tetapi pada saat itu kekuatan perlawanan belum cukup terorganisasi. Multatuli telah meninggal dalam kepahitan dan penderitaan, tetapi cita-citanya, gugatannya demi kebebasan manusia yang terisap, demi keadilan, menggema melalui karya-karyanya.
Gubahan-gubahannya yang merupakan jeritan langsung dari hati sanubari pengarang yang mengabdi Rakyat tertindas adalah gugatan-gugatan terhadap kekejaman kolonialisme.
Ujung pena Multatuli tajam mengena ulu hati penjajah, menelanjangi keburukan sistem penjajahan dengan tiada ampun.