Oleh: Dengah
Soeara Ra’jat Edisi Tahun 2 — 24 Juli 1919
Saudara-saudara, abad yang ke-20 ini sudah mulai kejadian apa yang ditentukan oleh kaum uang dan orang-orangnya penjaga diri, yaitu orang-orang yang berilmu, tak akan kejadian.
Memang abad yang ke-20 ini yang akan membuka matanya berjuta-juta orang bodoh dalam politik supaya dapatlah ia orang ketahui maksudnya hidup dalam dunia.
Tidak ada satu pengajaran agama yang sudah menetapkan yang sebagian kecil menderita dalam dunia ini, mesti hidup dengan senang sentosa, sedang sebagian besar mesti menahan susah.
Dunia ini telah tempat tinggallah kami manusia, tetapi dengan aturan yang kami tidak boleh berlaku seperti binatang. Bedanya binatang dengan manusia itulah yang binatang tiada berpikiran manusia sedang manusia itulah binatang yang ada berpikiran manusia.
Tetapi saudara-saudara, pandanglah keadaan dunia sekarang dalam pencaharian.
Manusia sudah tidak berbeda lagi dari binatang dalam hal pencaharian, yakni barang siapa yang kebetulan lahir dengan “kantong uang” ialah masuk binatang yang bertenaga kuat dan wajiblah ia membunuh mensia-siakan barang siapa yang tidak ada kekuatan, yaitu kekuatan “uang”.
Periksalah undang-undang Belanda dalam Nederlandsch Oost Indie (burgerlijke wet, undang-undang hukum perdata—ed) nyata sekali yang juga wet ini terima baik yang kami manusia dalam hal pencaharian melakukan diri kami seperti binatang-binatang.
Tapi mengertilah saudara-saudara yang undang-undang di mana juga pun adanya dibikin untuk si kaum pemerintah, artinya untuk si kaum uang.
Sebenarnya “kaum uang” ialah yang mempunyai kuasa besar dalam dunia ini, jadi juga di tanah India ini; ialah yang berkuasa atas pemerintah, sebab katanya kalau “kapitalisme sama kapitalnya tidak ada, tidak bisa berdiri si Regeering (pemerintah—ed)”.
Jadi dengan tidak usah khawatir apa-apa saja berani berkata yang undang-undang (burgerlijke wet) ini telah dibikin oleh kekuatan maunya kaum uang.
Mengertilah saudara-saudara yang tiap-tiap bestuurs-ambtenaar (pampng/pangreh praja—ed) di tanah Hindia, yang diserahkan keperluan beribu-ribu orang dari “volk” (Rakyat—ed) dapat pengajaran yang keras yang wajib ia orang jaga dengan sebetulnya supaya berjuta-juta orang-orang bodoh itu tinggal bodoh, supaya ia orang tinggal ditindih oleh “disiplin”.
Mengertilah yang seorang beruang yang hendak-hendak membuka satu onderneming (perusahaan—ed) di tanah Jawa (umpamakan) tidak akan dapat mendekatkan maksudnya atau mendapat untung kalau bukan si “kuli”, yaitu si “kromo” yang bekerja yang membuka hutan, menebang, pokok-pokok kayu besar-besar, memacul, dan menanam.
Pada habis tahun bilamana ditutup buku buat hitung keuntungan nyatalah yang ongkos-ongkos kuli itu ditambah dengan ongkos-ongkos lain dipotong dari pendapatan hasilnya masih ada keuntungan kira-kira 25% buat si tuan uang yang duduk suruh bekerja beratus-ratus orang itu dengan gaji sedikit.
Mengertilah yang kami juga manusia seperti si kaya.
Apa pantaskah, saudara-saudara, cobalah pikir dengan betul yang berjuta-juta orang kaum buruh telah dari lahirnya sampai pada hari kematiannya senantiasa mesti menahan susah, sedang sedikit bahagia dari manusia, yaitu si kaum kaya hidup dengan senang sampai pada kematiannya?
Saudara-saudara, pikirlah yang betul, apa adilkah yang berjuta-juta anak kami yang oleh serba tak berpunya uang tak dapat pengajaran yang cukup, sedang melainkan anak-anak si kaya yang dapat pengajaran yang betul?
Cobalah saudara-saudara, kami tanya pada saudara-saudara guru-guru biarpun ia guru di desa yang terkecil, berapakah manusianya yang menurut pengetahuannya memang berotak tajam, tetapi oleh sebab orang tuanya tak ada uang, otak yang tajam itu dibiarkan saja.
Saudara-saudara mengertilah yang dalam dunia ini penghidupan kami tergantung dari dua pasal, yang terutama, yaitu: satu, kebaikan pasal-pasal (hal) penghidupan; dua, kebaikan pengajaran (levens–en opvoedingsvoorwaarden—kondisi kehidupan-pola asuh—ed), tetapi berapa juta orang-orang yang telah dibiarkan saja sebab “kemiskinan”.
Cobalah mengambil dua saudara “kembar” (tweelingbroers), yang (…) (…) (…) (…) (…) juga pun tingkah lakunya; yang satu kami hendak kasih ajar “ilmu tinggi”, sedang kedua kami kasih ajaran kerja tangan umpama tukang besi.
Kemudian sepuluh tahun jika kami ketemu kedua saudara itu tak dapat tiada kami mesti heran sekali, sebab betapa besar bedanya sudah. Samakanlah tangan si juru tulis dengan seorang tani.
Seorang tukang tembaga mudah saja kami bedakan daripada seorang guru dan lain-lain. Jadi keadaan manusia senantiasa tergantung dari keadaannya penghidupan dan pengajaran, yang didapatinya.
Lagi pun saudara-saudara tidakkah keadaan manusia dalam dunia sekarang ini sama dengan keadaan tanam-tanaman?
Beribu-ribu bibit telah jatuh di tempat yang sudah ada berdiri pokok-pokok besar yang mengambil cahaya matahari dan mengisap makanan tanaman yang kecil-kecil dan tanah sampai bibit tak dapat bertumbuh sedang tanaman yang kecil-kecil mati.
Sudah begitulah juga kami manusia dalam dunia ini.
Saudara-saudara oleh sebab keadaan dunia ini sebegini buruk timbullah pikirin atas jalan manakah kami manusia dapat hidup seperti manusia dalam dunia ini.
Jikalau masing-masing dapat penghidupan yang cukup buat hidup seperti manusia (menschwaardig bestaan—kehidupan yang manusiawi—ed) dan buat semua tidak peduli bangsa dan juga di mana seorang kebetulan dilahirkan, pendeknya buat semua sama rata sama rasa, baik perempuan baik laki-laki.
“Sama rata-sama rasa” yaitu semua yang bisa bekerja, yaitu tidak yang tak bisa kerja umpama orang sakit, buta, dan lain-lain (niet zij die stiefmoederlijk bedeeld zijn door de natuur) mesti kerja baik laki baik perempuan, tetapi pekerjaan itu lain sekali dari pekerjaan sekarang yang tidak cocok dengan hasilnya.
Dalam maatschappij (masyarakat—ed), sama rata sama rasa kami semua akan kerja dengan senang hati, sebab satu kerja buat semua sedang semua kerja buat satu dan bukan lagi seperti sekarang bekerja buat menambahkan kekayaan si kaum uang (ujtbuiling).
Beberapa jam sehari kami hendak bekerja itu tergantung dari keperluan kami, tetapi menurut hitungan tuan Marx, tuan sosialis yang tertinggi, tentu tidak akan lebih dari tiga jam.
Tetapi kami ingat itu perhitungan dibikin waktu perubahan-perubahan masing-masing belum begitu besar seperti sekarang, sedang dalam maatschappij yang akan datang artinya maatschappij yang kami bermaksud pendapatan tuan-tuan yang berilmu semua sudah bebas tidak lagi terikat dengan ketakutan concurrentie (kompetisi—ed) dan lain-lain sampai pendapatan-pendapatan dalam maaatschappij sekarang sudah seperti “uang” atau “barang”.
Sebab banyak pendapatan yang sudah mati dengan orang mendapatnya, sebab tidak ada orang yang boleh atau tidak ada uang cukup buat mengeluarkan pendapatan ke dalam dunia.
Dalam maaatschappij kami, yaitu maaatschappij sama rata barang siapa yang dapat pendapatan yang berhasil ialah tolong dirinya dan juga semua-semua, sebab semua buat satu dan satu buat semua, sedang “uang” kami tidak kenal lagi sebab tidak ada barang yang akan dijual.
Kalau si kaum kaya dengar cerita begini, mudah saja ia maki-maki dan bilang; ya orang sosialis itulah seorang malas yang mau makan tetapi suka tidur saja, ya mau kerja saja dua atau tiga jam.
Ya kasian betul kaum uang dengan serdadu-serdadunya artinya (serdadu ilmu, geestelijke, lijfwachters [pendeta, pengawal—ed]) katanya berotak tajam, tetapi ia orang tak mengerti yang barang siapa yang suruh kerja lain orang buat keuntungan sendiri (…) boleh dibilang malas.
Si tukang uang (rentenir) yang duduk di kursi panjang saban hari minum bir dan susu dan lain-lain, dan tidak kerja lain melainkan hitung rente saja untung rugi, ia bukan malas katanya, sedang si kromo yang satu hari di kebun sawah kerja di panas ia “malas”.
Kami sosialis, bukan bermaksud akan hidup tak mau bekerja, tidak kami mesti kerja tetapi buat kesenangan semua, bukan buat kesenangan sebagian kecil.
Saudara-saudara dalam maaatschappij sama rata tidak akan timbul lagi perkara yang pokoknya kemiskinan, sebab tidak ada orang miskin lagi sedang tidak ada pengisap darah lagi.
Semua dapat makanan, pakaian, pengajaran cukup sedang pokok kejahatan, yaitu “uang” seperti kami sudah tahu akan tidak dipakai lagi, sebab maaatschappij kami tidak mau mencari untung seperti di maaatschappij sekarang yang menimbulkan segala rupa-rupa perkara jahat karena memburu uang, seperti mencuri, memalsukan wissel–tanda tangan, angkat sumpah palsu, kasih keterangan palsu, terima uang dari orang di luar seperti oleh tuan-tuan yang kerja di gubernemen (pemerintahan—ed)dan di particulier (swasta—ed) juga, ya macam-macam perkara-perkara yang busuk.
Ya, “uang” itu iblis besar dalam dunia ini yang sudah mematikan banyak bapak oleh beberapa anak-anak karena budel, yang sudah membunuh orang menyusahkan perkara selaku saksi, yang sudah membunuh dengan racun saudara, bini dan lain-lain dalam musim kolera atau influenza dan lain-lain.
Tetapi iblis besar penggoda yang besar ini tidak dikenal di dalam maaatschappij kami sama rata.
Saudara-saudara, saya minta pada saudara-saudara supaya suka dengar sedikit cerita mimpian saya, di mana nyata bagaimana besar kejahatan “uang” itu. Ini mimpian sedikit panjang jadi saya minta supaya saudara-saudara suka dengar dengan sabar, yaitu:
Pada satu malam saya mimpi ketemu satu imam besar yang panggil pada saya dan paksa saya masuk ke dalam hatinya, lihat apa yang ada di dalam hatinya. Saya berasa jadi lebih kecil dan terus turut permintaan tuan imam itu lantas masuk ke dalam hatinya.
Baru saja saya masuk pintu pertama saja dapat baca yang tertulis di papan dengan huruf-huruf yang terang, yakni: “memang badanku sudah hancur sebab melihat beribu-ribu macam sengsara dan kesusahan dalam dunia, sedang saya terpaksa turut memberatkan sengsara dan kesusahan itu, sebab saya memperdengarkan pada saudara-saudara saya perkataan yang bunyinya lemah lembut manis dan rupa-rupanya ada kebenarannya, tetapi ya saya tahu diri uang apa saya siarkan seperti.”
Biar kamu sudah menahan susah sabarlah, sebab sesudahnya hujan nantilah datang panas, dan tuhan yang berkuasa segala sesuatu akan datang dan tolong pada kami.
Janganlah kamu berasa susah sebab tuhan sudah tetapkan dari kelahiran masing-masing untung malang dan nasibnya satu-satunya. Jadi apa yang kejadian itu datang dari tuhan “dusta sama sekali, tetapi apa boleh buat kalau saya tidak jalankan kewajiban saya tentu saja tidak dapat makan”.
Sesudahnya saya baca saya masuk terus di kamar nomor satu penuh dengan macam-macam figura, seperti muka orang merupakan alim, muka orang-orang merupakan seorang pengisap uang dan lain-lain.
Saya masuk kamar nomor dua, dan betapa heran sekali saya lihat ada beberapa orang yang membetulkan beratus-ratus hati orang. Si tukang terus datang pada saya dan tanya apakah maksudku datang ke kamar itu. Saya menyahut yang saya telah panggil buat lihat-lihat di sini.
Ya menyahut si tukang, kalau begitu baik boleh saja saudara lihat. Saya tanya padanya apa sebab hati-hati ini dibetulkan, maka menyahutlah si tukang: sebab inilah hati si jahat.
Bertanya saya, apa hati si jahat itu hati seorang pembunuh atau pencuri. Ha, engkau terlalu bohoh sekali dan semua kamu (artinya kebanyakan) pikir yang seorang yang mencuri atau si pencuri itu jahat terlalu.
Marilah turut padaku ke kamar yang ketiga di mana saya ada simpan hati-hati yang baru diterima kata si tukang. Saya turut saja tetapi dengan gemetar hati dan kaku.
Ia buka kamar nomor tiga itu dan tarik saya ke dalam kamar yang di mukanya ditaruh “verboden toegang/dilarang masuk—ed”. Ia terus jalan ke satu tempat dan lihatkan saya satu hati besar dari seorang pencuri besar katanya, tetapi hati itu halus dan lembek sekali.
Ini hati katanya lain dari hati-hati yang mau dibetulkan di kamar nomor dua. Betul ini hati seorang pencuri, tetapi marilah kita baca apa yang tertulis di dalamnya.
Dengan lekas saya terus bilang yang saya tidak tahu baca sebab tidak kelihatan huruf-huruf. Mataku digosok dengan darah otak sedikit maka terus saja kelihatan huruf-huruf di dalam itu hati. Saya baca:
Saya seorang pencuri. Dari kecil saya saban hari biasa lihat muka susah yaitu senantiasa si bapak dan si ibu saya dalam kesusahan. Keduanya terlalu beragama.
Saban hari keduanya minta doa pada tuhan agar supaya ia tolong padanya keluarkan dari kesusahan, tetapi tahun bertahun sudah, belum ada lagi perubahan dalam pencahariannya, sedang anak bertambah banyak.
Si bapak saban hari jam lima pagi sudah keluar rumah dan kembalinya itu sudah sore. Pada suatu hari si bapak telah jatuh sakit sedang ibu, yang oleh sebab sayangnya pada si anak-anak, makan setengah peruh kurang, kuat badanya buat bekerja (ondervoed/kurang gizi—ed).
Saya masih kecil belum bisa dapat pekerjaan. Si bapak sudah dapat tiga hari sakit maka makanan dan uang pun habis. Adik-adik tinggal menangis saja, dan si ibu tidak bisa tahan percobaan tuhan lagi,
Bimbang hati saya lantas lari ke kiri ke kanan tidak tahu di mana perginya. Kebetulan datanglah saya di satu kebun yang ada pohon pisang yang pisangnya sudah matang. Dengan lekas saya tarik saya punya pisau belati dan curi itu pisang.
Begitu lekas saya lari ke rumah dan masak pisang itu buat adik-adik, bapak dan mama, tetapi betapa heran sekali saya waktu saya lihat yang ibu rupa-rupanya terlalu marah pada saya,
Ia panggil padaku dan terus kasih pengajaran sebab mencuri itu terlalu jahat, dan kalau kedapatan tentu saja saya dipukul atau dihukum.
Saya terus keluar air mata sebab menyesal, tetapi dengan kaget kedengaranlah suara:
“Hai anak jangan kau susah sebab tuhan tidak marah padamu; ia sudah kasih tanah pada kamu manusia, supaya kamu bekerja dengan betul, tetapi bukan hasil tanah itu menjadi pokok kejahatan di dunia.
Orang yang punya pohon pisang itu ia tidak mau makan pisang itu, tetapi ia mau jual dan uangnya ia mau simpan sampai berkarat.”
Waktu saya dengar perkataan sedemikian baru saya berani angkat muka saya dan betapa senang sekali hatiku, saya lihat yang si ibu punya roman muka jadi lain, rupa-rupanya juga ia ada dengar itu perkataan roh.
Maka berkatalah ibuku, kasihlah pisang yang dicuri itu, sebab saya juga sudah pikir betul sesudahnya menahan susah beberapa tahun sedang saban hari saya minta doa, sampai dapat itu kekuatan (yang didapati saja oleh pikiran sendiri) buat memikul pikulan yang berat yaitu kesusahan, yang kalau sekarang saya tidak makan tentu saja saya mati, dan orang yang mati sebab kurang makanan bukan mati menurut panggilan tuhan. Itu bukan nasibnya.
Wah, betapa senang sekali saya mendengar perkataan mama itu dan terus saya berkata: itu betul saja sebab cobalah mama pikir dan percaya yang ini hari saya punya adik bukan nasibnya mati, tetapi kalau saya bawa dia diikat dengan batu dan dibuang ke dalam sungai tentu saja ia mesti mati.
Jadi itu “nasib” itu saja perkataan sebab kalau papa sekarang yang sakit ini dapat makan dan obat cukup, artinya kami ada punya uang cukup buat beli selimut dan lain-lain tentu saja kami tak usah takut yang ia akan meninggalkan dunia sebab tak dapat makan, kami akan dengar dari orang-orang “sudah nasibnya” itu tidak akan kami dengar.
Kemudian dua tahun saya telah ditinggalkan oleh papa dan mama saya dengan empat saudara, yang tiga daripadanya belum bisa bekerja. Saya cari saudara orang tua saya dan minta tolong padanya jaga akan adik-adik, nanti saya pergi ke negeri besar buat cari pekerjaan.
Waktu saya datang di negeri besar saya jalan-jalan di muka rumah satu tuan, saya diburu oleh anjing.
Terus saya minggat sebab takut pada itu anjing, tetapi wah begitu lekas datanglah satu opas dan tangkap dibilang kandidat jahat sebab pakaian saya sudah robek semua sedang muka bodoh sebab tidak sekolah.
Saya ditangkap dan dimasukkan penjara selaku orang yang tidak ada pencaharian dan suka putar-putar coba mencari dan lain-lain (vagebond/gelandangan—ed).
Waktu saya dalam penjara senanglah sebab dapat makan, tetapi jika kupikir keadaan adik-adik di kampung dan kesusahannya paman saya yang tentu akan cari pada saya maka keluarlah air mukaku.
Saya cerita sedikit dengan teman-teman saya yang kena hukum, dan juga kebanyakan nyata pada saya yang ia orang mencuri atau berbuat jahat sebab “kemiskinan” dan kurang dapat pengajaran atau tidak dapat pengajaran sama sekali (verwaarloosde opvoeding/pola asuh penuh pengabaian—ed).
Sesudah saya dilepaskan datanglah roh lagi pada saya dan berkata:
“Sebenarnya saja itu bukan keadilan yang beribu-ribu orang simpan uang dan makanan di toko-toko dan di gudang-gudang ada kalanya sampai busuk makanan dan uang berkarat, pakaian rusak, sedang berjuta-juta orang menahan lapar, pakai celana saja atau baju robek, dan beribu-ribu mati kelaparan”.
Mulai daripada itu saya telah jadi orang mencuri dan perampok, tetapi buat tolong orang-orang yang miskin.
Sehabis baca saya dipanggil oleh si tukang akan turut ke lain kamar, yaitu kamar nomor dua di mana ia ada betulkan hati-hati.
Sementara kami berjalan bertanyalah saya: apa sebab hati si orang pencuri itu dikirim di sini sedang menurut penglihatan saya tidak ada rusaknya,
Maka menyahutlah ia: engkau betul masih bodoh, sebab tidak mengerti yang biarpun itu hati tidak ada rusaknya, ia mesti dibikin bersih sebab jalannya ada salah, mestinya ia turut campur perkumpulan “sama rata sama rasa” sebab vereeniging (perkumpulan—ed) ini bermaksud bikin pendek yang panjang dan bikin panjang yang pendek sampai semua sama panjang, sama pendek.
Sementara kami bicara datanglah kami di tempat orang bikin betul hati. Kata si tukang: itu hati yang kuning, itulah hati seorang miliuner. Ia ambil pisaunya potong itu hati dan suruh saya baca di dalamnya yang bunyinya begini:
Saya lahir dengan kantong uang. Saya dapat pengajaran bagaimana bisa tambah kekayaan. Saya tidak peduli keperluan lain orang seperti orang miskin dan lain-lain.
Masing-masing jaga dirinya sendiri dan tuhan tidak buat semua. Saya sudah isap darah beribu-beribu orang dengan rente uang saya dan dengan senjata kelaparan dengan kekuatan uang, sebab uang itu yang berkuasa besar dalam satu peperangan; uang saya bersama punyanya teman-teman saya, itulah jiwa dari satu peperangan.
Pemerintah, saya punya uang yang perintah dan saya sehati dengan teman-teman saya minta supaya dikasih pengajaran yang cukup pada pemerintah dan paksa pada pemerintah supaya cari tipu daya akan menjaga uang kami.
Kami sudah bilang yang lain daripada “discipline (disiplin—ed), vaderlandsliefde (patriotisme—ed), dan uang” tidak bisa menang di perang dan saya ada uang cukup dengan teman-teman saya, jadi pemerintah mesti jaga supaya orang-orang volk dibikin selaku senjata.
Saya sudah kasih tahu pada pemerintah yang barang siapa diangkat turut bantu pemerintah seperti tuan Dr. Kuijper dan lain-lain terlebih tuan bestuursambtennar (pejabat administrasi—ed) mesti merupakan dirinya seorang alim supaya mudah saja menahan volk dalam kebodohan, lempar pasir di matanya volk.
Dengan kaget saya buka mata dan baru kedadatan yang saya saja mimpikan.
Saudara-saudara memang uang itulah setan penggoda alias pengisap dalam dunia ini, tetapi dalam maatschappij kami ini uang tidak ada seperti saya sudah bilang, sebab maatschappij kami tidak mau pelihara pokok-pokok racun yang dapat membinasakan penghidupan berjuta-juta orang.
(Akan disambung)
Catatan redaksi:
Redaksi Diakronik meminta maaf kepada pembaca karena edisi kelanjutan esai ini tidak dapat (atau belum) terlacak.