Oleh: Sugiarti Siswadi
Harian Rakjat Edisi 1 Mei 1961
Sepasang anak muda itu menyimpang pada satu lorong kecil yang sudah gelap pada keremangan senja.
“Mi, aku tunjukkan kau sekarang jalan memintas yang panjang,” kata si lelaki.
“Gelap jalan ini Mas Tris, dan rupanya… sunyi benar. Agaknya menyeramkan.”
“Memang Mi, jalan-jalan itu seperti manusia. Membawa watak masing-masing. Ada yang riang gembira, hingga siapa pun juga melewatinya seperti mau menyanyi dan bersenang hati.
Ada yang suram menyedihkan, hingga setiap pejalan mempercepat langkah, takut ikut mendukung kedukaan yang bersembunyi di tiap-tiap sudut rumah.
Dan bagiku Mi, jalan ini memang suram, menyedihkan, dan membawa kembali kepada kenangan yang lama lampau.
Dan memang malam ini aku akan berkisah padamu, kisah yang panjang, kisah sedih, sebelum aku…”
Si lelaki memutuskan kata-katanya. Dipandangnya gadis yang berjalan didekatnya, yang membawa tas plastik biru muda. Gadis manis sederhana, lembut, dan menjadi bunga impiannya tiap malam.
Ia sambung kata-katanya dengan pelan-pelan dan pasti.
“Aku akan berkisah panjang, sebelum aku besok malam meminangmu.”
Gadis itu diam, dan terasa sesuatu menggeletar di dalam dadanya. Takut kalau geletarnya nampak oleh pemuda itu, ditekannya dadanya dengan tasnya biru muda yang dipeluk sekarang dengan kedua belah tangannya.
Ia berjalan dengan menunduk, kemudian dirasanya bahwa mukanya merah. Darah yang naik itu dirasanya menghangatkan seluruh wajahnya.
Meminangnya. Ya, itu akan datang juga, pikirnya, pada suatu waktu. Itu hanyalah ketukan isyarat saja bagi keduanya yang berdiri berhadapan di ambang pintu.
Ia tahu pasti, bahwa mereka saling mencinta, namun kata kepastian yang diucapkan masih juga kuasa membawa getaran pada dadanya. Ia tidak berani berkata, khawatir suaranya akan menggetar.
“Aku tidak bisa akan meminangmu malam ini Mi. dan aku tidak ingin mendapatkan kepastianmu malam ini.
Kau mesti tahu dahulu siapa saya, dan apa cita-cita saja, bagaimana saya sebetulnya, ya kau harus tahu dan kenal dulu benar-benar pada Trisno,” sambung pemuda itu lagi.
“Jalan ini adalah jalan terakhir yang dilewati oleh ayahku, beliau melewati jalan ini diusung dalam keranda, dan dibungkus selembar tikar usang. Itulah sebabnya mengapa jalan ini senantiasa membawakan kenangan yang menyedihkan bagiku.
Ayah seorang masinis. Tiap pagi, seminggu dua kali, ia berada di loknya dan membawa iringan kereta panjang menuju ke Palembang.
Tiap dua hari, kira-kira jam delapan malam, ayah mengetuk pintu rumah kami, dan anak-anaknya berlarian memeluk leherya yang tegap, yang masih berbau asap dan minyak mesin.
Ayah mendukung kami di pundaknya yang kokoh dan membawa kami mendekati ibu yang menyeduh teh panas di gelas ayah yang besar. Teh itu panas mengepul-ngepul, dan Tiar selalu berkata:
“Teh ayah mengepul seperti lokomotif.”
“Ya, akulah lokomotif,” kata ayah. Ia hirup teh panasnya dengan muka penuh senyum. Memang Mi, ayahku adalah manusia lokomotif, yang penuh daya hidup.
Kenang-kenangan seindah itu, setiap ayah pulang, aku bawa terus sampai aku sebesar ini, dewasa.
Tetapi pada suatu hari, ketukan tiap jam delapan malam itu tidak terdengar oleh kami. Besok malamnya, ketukan itu tidak pula tiba.
“Mungkin sepur terlambat masuk,” kata ibu menghibur dirinya sendiri.
Waktu itu, sudah dua tahun Jepang mendudukan Tanah Air kita Mi, dan sepur terlambat tidak lagi menjadi barang aneh.
Seminggu telah pula lampau. Seharusnya sudah tiga kali ayah mengetuk pintu depan. Teh ayah di gelas besar masih penuh pada tiap pagi kami bangun. Teh itu menjadi dingin, dan kami siramkan pada pot bunga bendul jendela.
Dua minggu telah lampau, dan sekarang hati kami menjadi gelisah tidak menentu. Tiap malam, kami terbangun mendengar seolah-olah ada ketukan di jendela. Tetapi tidak ada suara apa pun, kecuali hati kami sendiri.
Dan setiap kali kami mendengar deru sepur masuk stasiun, serta peluit panjangnya yang gagah itu, hati kami berdetak penuh harapan.
“Pasti ayah datang,” kata Tiar. Tetapi lagi-lagi, teh ayah menjadi dingin pada pagi hari.”
Sepasang anak muda itu sampai pada palang kereta api. Di sebuah gardu kecil tua, duduklah seorang laki-laki memegang lentera. Ia menyuluhi sebentar kedua anak-anak muda itu, lalu menegur dengan ramah.
“Kau kiranya Tris,” dan menepuk punggung si jejaka. “Sepur dari Palembang terlambat masuk,” katanya tanpa tujuan.
“Numpang jalan saja pak,” kata Trisno. Dan mereka melewati rel yang nampak samar-samar saja sekarang.
Si pemuda melanjutkan kisahnya.
“Entah telah berapa hari kami berharap, kami tidak tahu. Ibuku tambah tua nampaknya. Rupanya ibu telah tahu, di mana bapakku waktu itu berada.
Pada suatu malam, kami masih duduk-duduk di bendul jendela, melihat kunang-kunang berkelip dari rumpun bambu sebelah rumah.
Sepur dari Palembang sudah satu jam masuk, dan harapan menyala di hati kami. Sepur itu pasti membawa pulang bapakku.
Dan benar Mi, bapakku dibawa pulang oleh sepur itu, lebih lagi, bapakku dibawa pulang oleh teman-temannya, di dalam usungan, dibungkus selembar tikar usang. Ayah telah pulang. Tetapi beliau sudah tidak ada.”
Gadis itu mengeluarkan keluhan kecil, dan tangannya menekan dadanya lagi.
“Aku tidak dapat melihat wajah ayahku untuk penghabisan kali Mi. orang-orang mendorongku pergi, ketika jenazah ayah dimasukkan ke dalam kamar. Hanya ibu diperkenankan oleh mereka masuk. Jerit ibu, tidak dapat terlupakan olehku, seumur hidupku.
Dia sudah hancur, diremukkan badannya. Mukanya bengkak, kakinya patah. Hangus tubuhnya,” jerit ibu. Aku menangis, melolong sepanjang malam. Aku tidak tahu Mi, mengapa ayahku hanya pulang nama saja.
Hanya kesedihan dan kedukaan kehilangan saja, yang terasa merenggutkan jantungku. Sampai pada satu malam, pamanku bercerita kepadaku.
“Tris, kau sudah besar. Wajib kenal siapa ayahmu, yang badannya hancur diremukkan. Ayahmu seorang anggota kelas buruh Tris. Ia ditangkap oleh Polisi Rahasia Jepang di Palembang pada waktu menjalankan tugas kelasnya yang terakhir dan disiksa sampai mati.
Sekarang kau harus menggembirakan ibumu, dan menjadi kebanggaan ayahmu, dan kebanggaan kami semua.”
Waktu paman bercerita, ibu pun duduk di dekatku. Diusapnya kepalaku dengan kasih sayang. “Ya, Tris, benar pamanmu. Gembirakanlah hati ibu, dan jadilah kebanggaan ayahmu.”
Semenjak itu Mi, di tangan ibu yang miskin, yang sedih, aku dibangun menjadi seorang yang sekarang kau kenal.
Seorang yang ingin menjunjung tinggi amanat bapak, aku pun adalah juga anggota kelas buruh. Aku akan junjung tinggi sejarah keluargaku, keluarga kelas buruh.
Banyak penderitaan ibuku Mi, beliau seorang diri dan harus menghidupi kami, dan membuat kami manusia-manusia yang berharga.
Segalanya dikerjakan, ia berjualan nasi lauk pauk, baju usang, ya apa saja yang dapat menghidupi kami sekeluarga. Hanya satu, ibuku tidak pernah menjual keyakinan dan kesetiaannya.”
Mereka berdua sempat di mulut kampung. Pelita minyak samar-samar nampak dari balik dinding-dinding bambu.
“Ketik aku kenal kau, seketika terbayang di mukaku, bahwa kau akan sanggup mendampingi aku. Tetapi bayangan itu pudar, apabila kuingat, bahwa bagiku, mungkin terjadi seperti apa terjadi pada ayahku.
Aku hilang tidak tentu rimbanya, dan kembali menjadi mayat yang dibungkus dengan selembar tikar. Dan istriku, dapatkan ia tabah seperti ibuku, melanjutkan sejarah keluarga kelas buruh?
Sebab itu sebelum aku meminangmu, kau harus tahu, bahwa kehidupan yang dituntut oleh orang-orang seperti aku, akan mungkin bisa sampai ke puncaknya, ialah kembali dalam bungkusan tikar usang, atau tidak kembali sama sekali, hanya namanya saja digemakan, harapanku, oleh kawan-kawanku, oleh anak-anakku, dan oleh… istriku.”
Gadis itu mengusap matanya dengan punggung tangannya. Jalannya menjadi terhuyung-huyung, tidak pasti, karena luapan perasaannya.
Mereka sampai ke pintu pagar halaman rumah Tris.
“Aku katakan kepadamu tadi, bahwa ibu ingin melihat kau. Tetapi sebetulnya tidak Mi, aku ingin agar kau melihat ibuku, sesudah kau mendengar riwayat hidupku.
Memang telah kau kenal ibuku Mi, tetapi ibu keluarga kelas buruh yang tabah, baru akan kau lihat ini nanti.”
“Kau tidak adil Mas Tris,” kata gadis itu dengan sedu sedan. “Sebelum kau akan meminangku besok, kau tidak menanyaiku dulu, apa dan siapa saja sebetulnya.”
“Biarlah, itu besok giliran kau.”
Pemuda itu berhenti di depan pintu depan yang tertutup memandangi kekasihnya dengan lembut. Matanya memancarkan sayang yang besar.
“Dan sekarang Mi, hapus air matamu dulu. Aku tidak ingin kalau ibu mengira, bahwa kita habis bertengkar.”
Darmi menghapus matanya, kemudian menyandarkan kepalanya pada bahu Trisno. Trisno mengetuk pintu…
Awal Mei 1961.