Oleh: Soewarti
Harian Rakjat Edisi 14 Juli 1954
Jika kita meneliti betul-betul—selama seperempat abad lebih gerakan wanita Indonesia—dapat kita catat tidak sediki pejuang-pejuang wanita yang aktif dan militan dalam menjalankan tugasnya.
Dari bermacam-macam organisasi wanita, ada beberapa anggota-anggotanya yang menunjukkan militansi yang patut menjadi suri teladan bagi gerakan wanita pada umumnya.
Bayangkan! Bagaimana repotnya seorang ibu yang mempunyai banyak anak! Mengurus anak-anaknya saja sudah memakan waktu yang tidak sedikit, belum mengurus suami (bapak anak-anaknya) yang mesti bekerja keras untuk memberikan makan keluarganya, yang notabene tidak bergaji besar.
Ibu yang harus membereskan rumah tangga yang berkeluarga besar dengan nafkah terbatas itu sudah minta banyak tenaga dan pikiran, tetapi walaupun demikian masih sempat, malahan menjadi penggerak dan tenaga yang vital dari organisasinya dengan tidak merugikan kewajibannya sebagai istri, ibu, dan pengurus rumah tangga.
Aktivis yang mempunyai lima orang anak yang masih kecil-kecil, suaminya ditimpa pengangguran, jadi selain ia mesti mengurus anak-anaknya yang serba minta tenaga, pikiran, dan biaya, juga ia mesti mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, tetapi ia masih dapat turut serta memperkembangkan organisasi!
Seorang buruh wanita juga pada waktu menghadapi pemogokan dicoba oleh majikannya secara halus untuk dibujuk dan disuap supaya tidak turut dalam menggerakkan aksi pemogokan, tidak menghiraukan suapan-suapan tersebut, dan tetap aktif dalam aksi-aksi, sampai pemogokan itu mendapat kemenangan.
Mengapakah wanita-wanita itu begitu aktif dan setia terhadap organisasinya dan dengan tabah menghadapi segala rintangan dari luar maupun dari dalam rumah tangganya.
Karena mereka cinta kepada organisasinya, mereka insaf dan sadar bahwa organisasinyalah yang membawa mereka ke arah cita-citanya untuk mendapat hak-haknya menuju hari depan yang bahagia, adil, dan makmur.
Mengingat, bahwa organisasi adalah suatu alat untuk mencapai tujuan, maka tiap wanita pasti akan menginsafi pentingnya organisasi bagi dirinya dan masyarakat, hingga nantinya tak ada seorang wanita pun yang tidak berorganisasi.
Tetapi mengapa sekarang masih sedikit sekali wanita yang sudah berorganisasi? Karena kebanyakan kaum wanita belum mengerti perlunya organisasi sebagai senjata dalam memperjuangkan nasibnya.
Walaupun tidak berorganisasi, banyak sekali wanita yang secara perseorangan menyampaikan penderitaannya tentang bagaimana ia sebagai manusia diperlakukan secara tidak adi.
Sebagai buruh wanita upahnya dibedakan—kurang dihargai—kadang-kadang diperlakukan tidak senonoh oleh majikannya—malahan ada yang dirusak kehormatannya.
Sebagai istri diperlakukan sewenang-wenang oleh sang suami—diceraikan dengan tak ada jaminan, dalam rumah tangga dianggap sebagai perhiasan atau sebagai budak yang selalu harus tunduk kehendak tuannya.
Sebagai ibu tak ada jaminan waktu melahirkan, memelihara, dan membesarkan anak—pokoknya seribu satu kepincangan dalam masyarakat yang mereka alami sepanjang hidupnya.
Mereka bingung tidak tahu bagaimana mesti mengatasi dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya.
Karena itu adalah kewajiban organisasi-organisasi wanita untuk selalu terus-menerus dan dengan tidak ada jemu-jemunya, serta secara sabar meyakinkan mereka akan pentingnya organisasi bagi tiap perjuangan.
Dan menarik mereka ke dalam barisan yang terorganisasi, agar jadi kekuatan yang senantiasa siap untuk menghadapi rintangan dalam perjuangan, baik untuk membela nasib kaumnya, maupun dalam perjuangan Rakyat umumnya.
Di samping kenyataan tersebut, bagi wanita yang telah menceburkan diri dalam organisasi, banyak juga persoalan-persoalan yang dijumpai. Justru timbul karena mereka berorganisasi, dalam rumah tangga masing-masing maupun di luar rumah tangganya.
Orang tua dan keluarga juga masih berpandangan kolot, berpegang teguh pada tradisi-tradisi usang yang sangat menghalangi langkah maju dari tiap wanita anggota keluarganya.
Begitu juga sampai yang belum insaf akan pentingnya organisasi bagi wanita dan yang tidak mau tahu perubahan zaman senantiasa merintangi tiap gerak tindak istrinya.
Di luar rumah tangga, ada juga persoalan-persoalan yang tidak kurang pengaruhnya bagi kaum wanita yang rajin mengikuti organisasi, ialah pandangan yang berat sebelah kepada wanita, tradisi kolot yang meremehkan malahan tidak sedikit datang dari kalangan wanita sendiri.
Sungguh berat bagi kaum wanita yang berjuang, karena mereka mesti dapat mengatasi rintangan-rintangan itu untuk menjadi anggota organisasi yang aktif dan militan.
Berat mengatasi penderitaan batin yang ditimbulkan dari kalangan keluarga dan lingkungannya—dan untuk keluar dari kesukaran serta kesulitan yang dijumpai dalam organisasi itu sendiri misalnya: kas organisasi kosong, tenaga kader banyak yang jatuh sakit, perselisihan pendapat yang tidak prinsipil dalam pengurus, anggota berkurang akibat intimidasi dari pihak reaksi dan sebagainya. Untuk mengatasi segalanya itu diminta keuletan dan militansi dari tiap-tiap aktivis.
Alangkah bahagianya seorang aktivis wanita yang mendapat bantuan dari keluarganya, orang tua, dan suaminya, dapat penghargaan dan pengertian yang dalam dari anggota keluarganya.
Segala apa yang dijalankan untuk kepentingan organisasinya dapat sambutan baik dalam arti mendapat bantuan moral dan materiil.
Bukankah organisasinya selalu memperhatikan nasib dan penderitaannya serta senantiasa memperjuangkan hak-haknya?
Dari organisasinya ia diinsafkan akan kedudukannya, diberi pengertian bagaimana ia mesti mengadakan aksi untuk memperkuat tuntutannya.
Jadi, pokoknya organisasi selalu menjadi tempat tumpahan isi hatinya, tempat memperjuangkan nasibnya, tempat latihan dan pendidikan kesadaran akan hak dan kewajibannya.
Organisasi wanita yang ingin dicintai anggota-anggotanya mesti sanggup memperjuangkan kepentingan anggota-anggotanya, memperhatikan soal-soal yang dihadapi sehari-hari oleh anggota-anggotanya, walaupun kelihatannya remeh.
Dari aksi-aksi yang kecil-kecil itu, organisasi mendidik dan melatih anggota-anggotanya hingga dapat menimbulkan kepercayaan dari pengikutnya.
Wanita yang menyadari dan menginsafi akan arti organisasi bagi dirinya, tentu menjadi aktif dan militan.