Oleh: Hasan Raid
Berita Organisasi Sarbupri Edisi Th. III No. 7 – 20 April 1955
Mulai tanggal 18 April ini, Konferensi Asia Afrika, yang lebih terkenal dengan nama Konferensi Afro-Asia, telah dimulai di Bandung.
Konferensi ini dikunjungi oleh utusan-utusan dari 29 negara, yang sistem sosialnya berbeda-beda.
Mulai dari yang memakai sistem feodal seperti Thailand, sampai kepada yang memakai sistem Demokrasi Rakyat, seperti Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Republik Demokrasi Vietnam (RDV).
Mulai dari yang menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sampai kepada yang masih berdiri di luar PBB.
Mulai dari yang masuk dalam Persekutuan Seato (pak perang Amerika) sampai kepada yang menjalankan politik bebas.
Ide melangsungkan Konferensi Afro-Asia ini, adalah satu ide yang sehat. Dapatnya berlangsung Konferensi ini adalah satu kemenangan dari pikiran yang sehat atas pikiran yang jahat.
Kita katakan ini kemenangan pikiran yang sehat atas yang jahat, adalah karena satu kenyataan: bahwa Konferensi ini bertujuan untuk mempererat kerja sama di lapangan ekonomi dan kebudayaan, akan memperluas daerah perdamaian di Asia dan Afrika.
Bukankah hanya pikiran yang jahat yang tidak akan menyetujui adanya kerja sama di lapangan ekonomi dan kebudayaan serta perdamaian di Asia dan Afrika?
Bagi golongan yang berpikiran sehat tidak ada kebahagiaan yang lebih bahagia daripada redanya ketegangan di Asia-Afrika, terciptanya perdamaian di dunia.
Bukankah satu hal yang ganjil, jika golongan yang berpikiran jahat menjadi gelisah dan marah-marah, serta tidak enak makan melihat berlangsungnya Konferensi ini.
Sebab, dengan berlangsungnya Konferensi Afro-Asia, maka usaha mereka untuk menghalang-halangi kerja sama di lapangan ekonomi dan kebudayaan antara bangsa-bangsa di Asia dan Arika, menjadi berantakan.
Bukan saja itu! Tetapi usaha mereka untuk melancarkan persiapan perang atomnya menjadi kalang kabut.
Karena itu bukanlah satu hal yang kebetulan, jika mereka berusaha mencoba menggagalkan Konferensi.
Seperti juga usaha mereka yang lain, usaha reaksi menggagalkan Konferensi Afro-Asia ini telah mengalami kegagalan.
Bagaimana seharusnya sikap kaum buruh perkebunan terhadap Konferensi Afro-Asia ini?
Untuk menjawab ini baiklah kita periksa keadaan penghidupan buruh perkebunan dewasa ini.
Satu kenyataan yang tak dapat disangkal lagi, bahwa pihak majikan terus menerus berusaha untuk mengurangi jaminan sosial yang ada dan menolak setiap tuntutan buruh guna jaminan sosial yang layak.
Bukan itu saja! Majikan dengan mudah saja melakukan pemecatan-pemecatan. Di samping ini, berusaha untuk memperpanjang jam kerja, dengan mengubah sistem kerja tersebut.
Mengapa majikan bersikap demikian? Bahwa majikan bersikap demikian kepada kaum buruh, itu bukanlah satu keganjilan.
Adalah satu keanehan jika modal monopoli Belanda di perkebunan berusaha memperbaiki jaminan sosial bagi kaum buruh.
Tetapi apakah alasan yang dipergunakan majikan untuk melakukan tindakan semacam itu?
Salah satu di antara alasan yang sering dipergunakan majikan ialah produksi turun, harga hasil perkebunan merosot dan sebagainya.
Benarkan alasan majikan ini? Statistik yang disusun pemerintah sudah menjawab: tidak. Tentang ini sudah berulang-ulang dituliskan dalam Warta Sarbupri (WS) dan Berita Organisasi Sarbupri (BOS).
Tentang harga hasil perkebunan merosot, sebagian ini memang benar. Tetapi siapakah yang menyebabkannya?
Yang menyebabkan harga hasil perkebunan merosot, ialah karena perdagangan yang normal yang saling menguntungkan antara Indonesia dengan lain negeri, terutama dengan negara-negara Demokrasi Rakyat, tidak berjalan.
Tidak adanya hubungan dagang yang normal ini, menyebabkan menjadi sempit pasaran Indonesia di luar negeri.
Hukum ekonomi mengajar kita, jika satu barang pembelinya banyak di pasaran, maka masing-masing pembeli akan berlomba untuk mendapat itu barang, kalau perlu dengan harga lebih tinggi.
Tetapi jika pembelinya kurang, apalagi jika hanya seorang saja yang akan membeli, maka dengan sendirinya si pembeli dapat menentukan harga barang itu sesuka hatinya.
Mengapa ini terjadi? Hal ini terjadi adalah hasil pekerjaan Kabinet Sukiman (dari Masyumi). Yaitu di masa Kabinet inilah ditandatangani perjanjian embargo bikinan Amerika itu.
Menurut embargo, negara penandatangan dari perjanjian tersebut (termasuk Indonesia) tidak boleh menjual barang-barang yang strategis kepada negara-negara Demokrasi Rakyat, terutama RRT.
Hasil perkebunan Indonesia (terutama karet) adalah salah satu di antara barang yang dianggap strategis.
Pendeknya embargo telah mempersempit pasaran Indonesia. Embargo ini bukan saja telah menyebabkan banyaknya perkebunan-perkebunan Rakyat yang gulung tikar, tetapi telah dipergunakan oleh modal Belanda di perkebunan sebagai alasan untuk mengurangi jaminan sosial, untuk menurunkan upah, untuk memperpanjang jam kerja, untuk melakukan pemecatan dan sebagainya.
Inilah di antara lain keadaan buruh perkebunan. Sekarang buruh perkebunan menghadapi satu kenyataan: Konferensi Afro-Asia.
Konferensi ini antara lain bertujuan untuk mempererat kerja sama di lapangan ekonomi dan kebudayaan antara bangsa-bangsa di Asia dan Afrika, akan memperjuangkan hapusnya penjajahan, akan memperluas daerah perdamaian.
Jika Konferensi Afro-Asia ini berhasil baik, maka perdagangan normal yang saling menguntungan antara Indonesia dengan negara-negara lain, terutama dengan negara-negara Demokrasi Rakyat seperti RRT, akan lebih terbuka.
Adanya hubungan dagang yang normal ini akan menyebabkan timbulnya persaingan antara si pembeli dalam menawar hasil perkebunan Indonesia. Pendeknya dapat diharapkan harganya akan naik.
Dengan naiknya harga perkebunan, maka akan hilanglah salah satu alasan majikan untuk mengurangi jaminan sosial, untuk menurunkan upah, untuk memperpanjang jam kerja, untuk memecat sesuka hatinya.
Kita juga mengerti, bahwa naiknya harga hasil perkebunan bukan berarti majikan terus akan menaikan upah kaum buruh, atau akan memperbesar jaminan sosial.
Majikan tetap akan menjadi majikan. Ia akan berusaha mencari keuntungan sebesar mungkin, di atas keringat dan darah kaum buruh.
Karena itu adalah menjadi kewajiban kita untuk berjuang terus, guna perbaikan nasib. Hubungan dagang yang normal memperkuat alasan kita guna mencapai kemenangan.
Di samping ini kita juga mengerti, bahwa negara-negara yang hadir di dalam Konferensi Afro-Asia itu akan memajukan usul-usul guna kepentingan negara yang mereka wakili.
Tentu saja dengan pertimbangan, jangan merugikan negara Asia-Afrika lainnya. Pendeknya untuk keuntungan bersama.
Oleh karena itu bukan hal yang aneh nanti, jika India mengajukan persoalan “gua” yang masih diduduki Portugis; Indonesia mengajukan persoalan Irian Barat yang diduduki Belanda; Mesir mengajukan persoalannya dengan Israel; RRT mengajukan persoalan masih didudukinya Taiwan oleh Amerika dan sebagainya.
Bukan satu hal yang kebetulan, jika India, Birma, RRT mengajukan usul supaya ko-eksistensi (hidup berdampingan secara damai) yang telah mereka adakan antara India-RRT, Birma-RRT dijadikan pendirian Konferensi Afro-Asia.
Kita yakin sistem ko-eksistensi ini, di mana di dalamnya dijamin tidak akan saling menyerang, tidak akan saling mencampuri soal dalam negeri yang lain, akan mendapat sambutan hangat dari semua negara yang tidak mau diserang, dari semua negara yang tidak mau dicampuri soal intern-nya.
Pendeknya semua negara yang berjuang untuk keselamatan bangsanya, untuk perdamaian, tak ada alasan untuk menolaknya.
Bagaimanapun juga, Konferensi Afro-Asia ini tidak ada membawa kerugian apa-apa bagi kaum buruh perkebunan, bagi Rakyat Indonesia, bagi Rakyat-Rakyat Asia dan Afrika.
Konferensi Afro-Asia hanya dan hanya akan mengantarkan kita ke satu tempat yang lebih baik dari tempat yang sekarang.
Pada hakikatnya mendukung Konferensi Afro-Asia, bagi buruh perkebunan berarti mendukung perjuangannya sendiri untuk perbaikan nasib, untuk jaminan sosial, untuk hari depan yang lebih terang.
Oleh karena itu, bikinlah pernyataan-pernyataan yang isinya mendukung Konferensi tersebut, serta mendorong guna berhasilnya Konferensi mengambil putusan yang menguntungkan perjuangan kemerdekaan nasional dan perdamaian, dan sampaikan kepada massa kaum buruh perkebunan arti Konferensi ini serta populerkan putusan-putusannya nanti.
Akhirnya kepada pengikut-pengikut Konferensi Afro-Asia kita harapkan, agar kerja sama yang telah berjalan selama Konferensi dapat diteruskan dengan lebih sempurna lagi, sesudah Konferensi ini selesai.