Oleh: Pramoedya Ananta Toer
Harian Rakjat Edisi 3 Januari 1953
Kawan, engkau sudah pernah dengan nama kampungku, bukan? Kebun Jabe Kober—500 meter garis lurus dari istana. Dan engkau pun sudah tahu juga, bukan? Got-gotnya diselubungi tai penduduk kampung.
Memang kemarin pak lurah sudah jatuhkan perintah: tak boleh lagi berak di got. Dan reaksi pertama ialah: seorang tetanggaku memberakkan anaknya di got orang lain, bukan di gotnya sendiri. Dan di malam hari demikian juga halnya dengan orang-orang yang sudah dewasa.
Itu bukan hal yang patut dikagumi atau dikutuki. Aku sudah tinggal dua tahun di kampung ini. Aku sudah banyak melihat kejadian di kampung ini, dan rasa-rasanya aku pun sudah jadi sebagian kecil dari kampung ini.
Kawan, kampung ini tidaklah begitu luas. Lebar 200 meter kurang lebih dan demikian juga panjangnya. Jadi luas kurang lebih 40.000 meter persegi, dilintang-lintangi oleh tujuh buah gang. Penduduknya takkan kurang dari 900 orang dalam luas daerah yang 40.000 meter persegi itu.
Kawan, yang hendak kuceritakan padamu ialah keadaan gangku—sebuah gang di antara yang tujuh buah. Tahu kau mula-mula kudatang ke kampung ini? Suatu pagi yang cerah cemerlang.
Tapi aku tak melihat tanda-tanda pagi karena banyak benar pohon-pohon yang menyita daerah pernapasan penduduknya. Tapi penduduk di kampungku sudah biasa dengan pohon-pohonnya yang belum tentu berguna untuk dapurnya itu.
Dan sejak aku tinggal di sini, sejak itu aku punya rasa kangen pada sinar matahari pagi hari yang melimpah ruah. Dan pola begini rapat rumah di sini, hingga hawa segar tak kuasa mengusir hawa yang mengandung gas tai dan gas selokan.
Selokan ini, kawan, dia tak bisa mengalir kalau tak datang buruh haminte (gemeente/buruh di bawah pemerintahan kota praja—ed) untuk mendorongnya, karena tiap penduduk membuang sampahnya di situ. Ini sudah pekerja biasa, karena mereka tahu juga tak ada yang bakal melarang perbuatannya.
Kawan, yang akan kuceritakan padamu tentang gangku ini ialah tentang keadaan yang tadinya menggoncangkan hatiku, tetap jadi hal yang biasa. Yakni: seringnya sang Jibril datang ke gangku itu. Betul kawan, akan kuceritakan hubungan antara Jibril dan gangku itu saja.
Kalau sebuah pasukan gerilnya kecil yang hati-hati belum tentu kehilangan sepuluh orang dalam dua tahun, maka di kampungku yang damai dengan bau dan keadaannya ini, berganti-ganti orang mati.
Mati, mati murah, kawan. Begini, kawan, di belakang rumahku, dekat setelah aku tinggal di Kampung Kebun Jabe Kober ini, seorang meninggal karena penyakit kotor yang kronis.
Kemudian di rumah itu juga seorang perempuan meninggal setelah bilang: gua sih kagak takut mati daripada hidup semacam beginian.
Dan matilah ia, tenang dan bahagia setelah dua bulan lamanya tidur terus-menerus di ambinnya—tak mau masak, juga tak mau makan kalau makanan tak datang juga padanya.
Dan anak-anaknya yang sudah jadi orang tak bicara apa-apa tentang hal itu. Tiga bulan kemudian anak perempuannya beranak: kembar dua orang.
Sang cucu yang dua orang itu, yang muda hidup sampai tiga bulan. Kemudian yang pertama menyusul ke surga dijemput oleh sang Jibril.
Dan kematian yang beruntun-runtun dalam satu rumah itu tak lebih lama dari dua tahun. Cobalah pikir, kawan, betapa giatnya sang Jibril bekerja di kampungku.
Di depan rumahku, kawan, tinggal seorang perempuan yang begitu cinta pada anak lelakinya karena semua anaknya perempuan melulu. Anak yang terakhir adalah anak kembar—perempuan kedua-duanya, sehat dan tak sehat.
Tentu saja sang ibu lebih cinta pada yang sehat. Pada suatu kali yang sehat diberinya obat cacing. Karena cintanya jadi dibanyakkan obat yang diberikan itu. Tentu saja pantaskah usus-usus anak kecil makan obat cacing di luar batas kekuatannya.
Dan pada suatu sore matilah anak itu. Tentu saja kematiannya itu ditangisi seperti jamaknya terjadi antara manusia. Tetangga-tetangga datang melawat dan terjadi omong-omong sedikit tentang kematian.
Tapi sungguh, kesadaran taklah datang pada kalbu orang-orang tua seperti sang ibu itu, bahwa ialah yang sesungguhnya membunuh anaknya sendiri. Membunuh karena ia dilahirkan oleh keluarga yang tak mengerti dan melahirkan keluarga yang tak mengerti pula.
Dan lagi, kawan, kampungku ini sudah lama berdiri, beratus tahun sebelum aku tinggal dan juga beratus tahun sebelum aku dilahirkan.
Tentu saja membunuh anaknya sendiri tak dapat dikatakan pada mereka, karena mereka akan bilang merekalah yang lebih kenal pada kampungnya dan sejak dahulu tak ada orang yang terlampau lancang bacot. Mereka punya dalil sendiri yang mengatur hidup bersama-sama.
Di samping rumahku, kawan, ada terjadi suatu perkawinan yang mana sepuluh bulan kemudian dikaruniai seorang anak.
Dan karena tiap orang ingin juga mewah hidup segampang mungkin dengan keuntungan sebanyak mungkin, ini opas dari satu anak suatu kali ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.
Tentu saja semua kejahatan tidak ada bila diberi alasan yang bijaksana. Dan sang opas ini punya alasannya: hidup seperti seharusnya manusia harus hidup ditambah dengan kemewahan sedikit-sedikit saja.
Dengan demikian, ia tak dipandang jahat di kampung kami, tapi dipandang baru kena sial. Dan di rumah tangga sampingku itu pernah juga terjadi suatu kematian yang menggoncangkan kampungku. Begini cerita sewajarnya:
Ia adalah netter. Sudah lima belas tahun berpengalaman, yang mana artinya sudah juga bisa tahan hidup sebagai setter. Suatu kali ia sakit, baik dan masuk kerja lagi, sakit, baik dan masuk kerja lagi, sakit, baik dan masuk kerja lagi.
Gonta-ganti ini tambah lama tambah sering, dan dalam tiga bulan begitu melulu. Tentu saja sang sep percetakan yang tahu penyakit percetakan yang harus bersarang pada pegawai-pegawainya bila dengan lemah lembut padanya: kami ongkosi berobat ke dokter.
Dan si netter-pun berangkatlah berobat. Dokter bilang: engkau harus dibedah. Tentu saja ia terlompat karena kagetnya dan terhuyung-huyung pulang ke kampungnya yang dicintai, karena kampung itu juga yang membesarkannya, dan kampung itu pula yang telah banyak memberinya persahabatan dan rahmat hidup.
Tapi orang-orang kampung kami yang datang menengok tak kurang yang bilang: ah, operasi perut kagak berat. Sebentar saja jadi, dan beberapa hari lagi baik lagi.
Si netter datang lagi ke sep-nya. Ia mau dibedah. Ia dikirimkan kembali ke rumah sakit dan minta buru-buru dibedah.
Pankreasnya bonyok-bonyok dimakan racun timah selama lima belas tahun berpengalaman itu—penyakit yang membawa kematian begitu banyak netter. Dan dokter ini hanya mau mencocokkan diagnosanya dengan kenyataan.
Setelah dibedah si netter teriak-teriak melulu kerjanya dan dari porosnya mengalir darah. Ia minta dipulangkan ke kampung. Ia tidak mau mati sonder saksi. Jadi ia pun dibawah pulang.
Kalau di rumah sakit, ia harus diam-diam jangan bergerak, di rumah ia mendapat kesempatan untuk berguling-guling kesakitan. Enam jam setelah sampai di rumah ia pun dijemput oleh sang Jibril.
Lima belas hari sebelumnya bayinya yang baru beberapa jam dilahirkan telah terlebih dahulu dijemput oleh Jibril karena tetanus. Orang-orang bilang (karena sudah tahu bapaknya sudah payah sakitnya): wah, anak ini sih ngegantiin babanya. Panjang umur babanya.
Tapi Jibril tak mau dengar suara-suara orang kampungku. Si netter itu diharuskan mati olehnya sekalipun bayinya sudah dibawanya terlebih dahulu.
Kematian si netter ini mengingatkan aku pada murid netter di percetakan pemerintah dengan gaji pokok delapan puluh rupiah sebulan dan tiap hari kerja harus menelan racun timah yang akan membunuhnya beberapa tahun yang akan datang.
Memang bukan barang yang mengagumkan lagi kalau banyak orang memilih lapangan pekerjaan di mana ia akan memperoleh kematian yang murah pula. Sungguh tak mengagumkan lagi, namun hal itu tak jarang mengejuti pikiranku.
Jibril juga pernah datang ke rumah depan rumahku agak ke kiri. Toko Tionghoa! Karena kalah konkurensi dengan warung se-gang yang dipegang oleh orang Indonesia, lakinya makan ati dan saban hari meringkuk di bale sambil batuk-batuk.
Kemudian bilang pada istrinya yang juga orang Tionghoa bercelana: biarin ue mati asal di negeri ue.
Dan pada suatu waktu yang tak terduga-duga oleh para tetangga, ia tak ada nampak lagi—dibawa oleh kapal ke negeri nenek moyang yang tercinta—dan setahun kemudian bininya yang tak bisa mempertahankan diri untuk penghidupannya dipaksa oleh sang Jibril terbatuk-batuk tiap hari dan akhirnya dibawanya pergi juga ke akhirat.
Kawan, ini belum semua yang harus kuceritakan padamu tentang kegiatan Jibril di kampungku. Di sebelah sana lagi dari rumahku diam seorang opas kantor—bangun pagi-pagi dan pulang kerja nanti jam lima sore.
Tentu saja seluruh isi rumah harus bersama kerja untuk menolak datangnya sang Jibril. Tapi Jibril ini sungguh pesuruh yang punya inisiatif yang amat besar.
Sering benar ia datang ke rumahnya. Kalau sang bini bunting atau beranak ia tak mengganggu, tetapi kalau anak itu sudah merangkak dimasukkan cacing dalam tubuh makhluk yang tak berdosa itu.
Kemudian anak-anak itu dijemputnya. Tentu saja emak dan bapaknya menangis sedikit melihat hasil hidupnya dipungut begitu saja oleh Jibril. Tetapi dalam hidupnya kurban-kurban cacing itu dibiarkan saja oleh kedua orang tuanya.
Dan mereka pura-pura tak melihat saja melihat anaknya panas dingin selalu dan kadang-kadang meleleh-leleh matanya. Kalau si anak sudah tak kuat lagi menggerakkan anggota tubuh barulah si emak mengucurkan air mata sedikit.
Dan dari tiga belas anaknya kini tinggal tiga. Tiap dua tahun lahir dan akan lahir anak baru untuk dijemput jauh-jauh oleh Jibril.
Kalau pembunuhan dengan senjata dihukum oleh pemerintah, pembunuhan karena kebodohan dan kemiskinan tidak dilarang di kampungku, sekalipun pembunuhan itu dikerjakan atas anak sendiri. Ini keadaan biasa dan barangkali juga sudah selayaknya begitu.
Tentu saja takkan kuceritakan padamu tentang seringnya kunjungan Jibril di gang-gang lain. Cukuplah kuceritakan yang terjadi di gangku saja.
Belum kuceritakan padamu tentang rumah petak yang lengket pada belakang rumah yang terletak di seberang rumahku. Keluarga opas lagi. Engkau tak perlu heran mengapa opas saja yang kusebut.
Benar, kawan, engkau tak perlu heran karena ada perbandingan yang tipis untuk kampungku. Dan perbandingan ini terdapat di keluarga tetanggaku yang ada di sana lagi agak ke kiri.
Waktu anak lelakinya masih kecil ditimang-timangnya dengan kata-kata: kalau besar nanti jadi mandor seperti baba, ye?
Memang mandor gede gajinya. Dan yang dikatakannya itu benar belaka bila dibandingkan dengan gajiku waktu jadi pegawai negeri dengan ruang IV/b—jauh lebih besar dari gajiku.
Malah sopir yang tinggal di depan rumahku gajinya juga lebih besar dari IV/b-ku. Dan engkau tahu juga orang bisa belajar dalam tujuh hari untuk bisa menyopir, bukan?
Dan tentang keluarga opas yang akan kuceritakan tadi… Kawan, engkau pernah melihat anak kurus, bukan? Demikianlah keadaan anak-anaknya: barisan kurus, termasuk dia sendiri dan bininya.
Sang opas yang bukan main senangnya makan. Kesukaannya itu begitu besar hingga bila sedang makan tak ingat anak-bini, sekalipun mereka ada di bawah matanya sekalipun.
Dan belum lagi lama ia diangkat jadi juru tulis dari ke-opas-annya. Tapi angkatan itu ditolak karena juru tulis harus berpikir sedikit, sedang opas tidak. Di situlah kemenangan opas—kemenangannya.
Pendek kata, ia tak mau—sungguh-sungguh tidak mau. Jadi ia tetap opas dengan risikonya dalam lingkungan keopasannya. Karena di waktu yang akhir-akhir ia sering mangkir, ia diperiksakan oleh kantor pada dokter: masuk kamar gelap!
Besoknya ia disuruh datang lagi. Sekali ini menerima surat lepas yang tak diduga-duganya: TBC yang menyebabkan. Dan TBC tidak mengherankan lagi di kampungku. Ia barang biasa.
Malah si babu cuci bisa cerita baik: waktu iparku kena sakit begituan gua kagak takut. Semua sisa makannya sih gua makan abis saja. Dan dalam lima belas tahun kemudian penyakit itu tak nampak berpindah pada dirinya.
Tapi lakinya dilepas kena penyakit yang itu-itu juga dari dinas ke-opas-annya dan dapat pensiun enam puluh rupiah sebulan. Karena enam puluh tak cukup untuk makan sekeluarga, apalagi di kota serba mahal seperti Jakarta, jadi ia maju di kantor lain jadi opas lagi.
Keluarga opas sana lagi anaknyalah yang kena TBC. baru berumur empat bulan sudah kena. Kelabakan juga orang tuanya—si opas itu. Ia sendiri seistri yang tahu diri, karena itu diusahakan benar anaknya jadi baik.
Umur dua tahun anak itu baru bisa duduk dan banyak makan. Tapi si opas ini sudah kehilangan nafsunya untuk bicara banyak-banyak seperti waktu perjaka.
Sungguh tak banyak orang seperti dia di kampung kami, karena opas adalah pekerjaan sambil lalu di samping menikusi kertas, pita mesin, dan sebangsanya.
Tapi opas yang satu ini adalah opas yang tahu diri. Ini pun tak perlu diherankan amat. Tidak. Sudah begitu biasa dan jadi sebagian dari hidup sehari-hari. Tak begitu mengherankan daripada peristiwa yang terjadi di rumah tangga ujung gang.
Suatu hari kedatangan seregu polisi. Terdapat uang logam yang hendak diselundupkan. Dan waktu komandan mendapat uang jajan dua ribu rupiah regu itu pun pergilah dengan amannya.
Maklumlah, rumah berdesak-desak di kampung dan apa yang terjadi di rumah yang satu terdengar juga di rumah yang lain.
Dan kalau di pengkolan gang yang satu orang lumpuh dan anak-anak kecil yang pekerjaannya tiap hari menangis berjam-jam, di pengkolan yang kedua terdapat juga penderita TBC, seorang pegawai pemerintah yang tetap juga bekerja.
Dan di depan rumahnya, seorang lagi yang disarangi penyakit terkutuk—tetapi penyakit biasa untuk kampung kami.
Dan di gang sana lagi diamlah keluarga Arab yang juga pernah mengejutkan kami dengan penyakitnya yang mendadak sontak jadi pengamuk, memencak-mencak, dan menyakiti orang-orang yang tertangkap oleh tangannya.
Dan nanti kalau sang Jibril datang lagi untuk menjemput salah seorang di antara kami, anak-anak berebutan masuk ke langgar dan memukul beduk karena untuk jasa ini kiai-kiai menjanjikan pahala akhir nanti.
Beginilah keadaan kampungku dengan Jibrilnya yang (…) Dan engkau, kawan, suatu kali boleh juga datang ke kampungku. Kampungku pun bisa jadi kampung turis yang akan menyalakan jiwa.
Dan mencarinya pun tidaklah susah, karena tiap orang di Jakarta tahu di mana istana negara berdiri. Lima ratus meter garis lurus di sebelah barat daya, di sanalah kampung berdiri megah menentang para dokter dan para teknikus.
Tapi semua itu tidak mengherankan di kampungku sendiri buat penduduknya. Kalau mengherankan, ini hanya untuk para turis di antaranya termasuk juga engkau, karena letaknya yang begitu dekat dengan istana di mana segala kesehatan dan segala tetek bengek terjamin.
Tapi kampungku tetap aman dan tak dimasuki pengacau. Cuma nanti kalau ada seorang lagi yang dijemput oleh sang Jibril yang rajin itu, dan setelah beduk berbunyi, orang akan berkata dingin saja: siapa sih yang mati?
Orang lain akan menjawab: si Polah. Dan kemudian percakapan ditutup oleh saling mengerti.