Massa yang tergabung dalam Aliansi Organisasi Masyarakat Sipil mengalami tindak kekerasan dari aparat kepolisian dan keamanan saat menggelar aksi demonstrasi di depan Swissotel Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (4/11/2026) siang. Aksi yang semula berlangsung damai ini berujung pada tindakan represif seperti pemukulan, penjambakan, serta perusakan spanduk dan poster terhadap para demonstran.
Aksi ini digelar bertepatan dengan agenda pertemuan tahunan seluruh anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), sebuah asosiasi perusahaan bisnis kelapa sawit, yang dilaksanakan di dalam hotel tersebut. Dalam aksi ini, massa mendesak RSPO untuk turut bertanggung jawab atas bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Indonesia sejak Januari 2026.
Awalnya, puluhan demonstran melakukan aksi secara damai dengan membentangkan poster dan spanduk bertuliskan tuntutan sambil berorasi di atas trotoar. Sejumlah aparat kepolisian dan petugas keamanan tampak berjaga dan membatasi pergerakan massa aksi agar tidak mendekat ke depan lobi hotel.
“RSPO harus bertanggung jawab!” pekik salah satu demonstran dalam orasinya, diikuti massa lainnya.
Tak lama berselang, sekitar 12 perwakilan massa aksi diperbolehkan masuk ke dalam hotel untuk menyampaikan pendapat di ruang pertemuan tahunan RSPO itu. Sembari menunggu hasil, massa aksi diminta aparat keamanan untuk bergeser untuk duduk dan beristirahat.
Namun, belum sampai 30 menit, seorang pria tiba-tiba menyerobot masuk ke dalam barisan dan memaksa para demonstran untuk menurunkan spanduk serta poster mereka.
“Mulanya, kita diminta untuk geser, kita turuti. Kita duduk, kita tidak melakukan aksi lagi, beristirahat. Tapi beberapa puluh menit kita istirahat, tiba-tiba dari pihak pengamanan itu datang dan meminta secara paksa untuk menurunkan spanduk yang sedang kita taruh,” kata Richie selaku koordinator aksi saat ditemui di lokasi.
Massa aksi tetap duduk dan menolak permintaan pria tersebut. Merasa tak didengar, pria dengan kemeja flanel itu lantas melakukan perusakan spanduk dan poster secara paksa.

Sontak, massa langsung berdiri dan berusaha mempertahankan atribut aksi yang mereka bawa itu. Ketegangan antara massa aksi dan aparat keamanan pun tak terhindari hingga menyebabkan beberapa orang mengalami luka-luka akibat pemukulan, penjambakan, penyikutan hingga dipiting lehernya.
“Di situ tentu kawan-kawan berdiri, mempertahankan barisan. Tapi akhirnya, terjadi dorong-dorongan, bahkan pemukulan. Ada penjambakan dan beberapa kawan jadi korban. Termasuk beberapa poster, bendera, ditarik, dirobek,” ujar Richie.
Salah satu korban bernama Radja mengalami luka goresan di tangan kanan dan leher. Tak sampai di situ, ia juga dijambak dan dipukul hingga bibirnya pecah berdarah.
“Dari pihak-pihak keamanan pun ternyata represif ya, di mana saya menjadi korban. Saya didorong ke semak-semak dan bibir saya sampai berdarah juga,” ujar Radja.
Korban lainnya adalah Rara, seorang perempuan muda yang juga ikut dalam barisan massa aksi. Ia menyebut tindak kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terjadi setelah mereka mencabut poster, bendera, dan spanduk secara paksa.
“Teman-teman didorong, tangan saya dipegang, ditarik, serta rambut saya juga (ditarik). Itu salah satu bentuk represi dari polisi, dari aparat negara yang seharusnya menjamin keselamatan rakyat,” ucap Rara.
Rara mengaku sangat kecewa dengan aparat keamanan dalam merespons suara rakyat yang mendesak para perusahaan anggota RSPO untuk bertanggung jawab terhadap bencana karhutla.
“Hari ini kita turun untuk memperingati mereka yang di dalam. Kalimantan saat ini masih terbakar. Tindakan-tindakan seperti ini (kekerasan) seharusnya tidak dilakukan oleh aparat,” tambahnya.
Adapun acara pertemuan tahunan anggota RSPO ini dijadwalkan berlangsung pada 3-4 November 2026 di Jakarta PIK Avenue, Jakarta Utara. Pertemuan dengan tajuk “Strong Foundation: Impact in Action” ini berfokus pada prinsip keberlanjutan dalam industri sawit, yakni mendorong kebijakan nol toleransi (zero tolerance) terhadap pembukaan hutan dengan cara dibakar.