Musuh Pemuda

Musuh Pemuda

Musuh Pemuda
Musuh Pemuda. Sumber: Harian Rakjat/reproduksi.

Oleh: Asmudji

Harian Rakjat Edisi 25 September 1952

Sudah selayaknya apabila pemuda selalu dan mesti memperhatikan segala persoalan yang sedang dan akan dihadapi di semua lapangan yang mau tidak mau memengaruhi hidupnya, karena pemudalah yang mempunyai masa panjang dalam menentukan hidup di hari depan.

Dalam sejarah kemajuan pergaulan hidup manusia, pemuda tidak hanya berdiri di tengah-tengah antara kekuatan progresif dengan kekuatan konservatif yang selalu bertentangan, sehingga dapat ditarik ke sana ke mari dengan tidak mengetahui ke mana akan di bawah.

Tetapi ia ikut serta menentukan dan menyokong semua gerak langkahnya untuk memastikan di mana ia berada dan bagaimana ia mesti bertindak.

Menurut proses pengalaman yang hingga kini masih berjalan, pemuda sama sekali tidak tertarik dan hanyut dalam alam konservatif, tetapi meluncur menyatakan diri ke dalam barisan progresif dengan menerobos semua dinding-dinding dan jala-jala yang mengikat mereka.

Sebaliknya, sebagian kecil pemuda-pemuda yang dalam kedudukan ragu-ragu, akan terembus oleh dua kekuatan itu, sehingga mau tidak mau apabila telah tiba waktunya, mesti dan harus menentukan diri, di mana mereka mesti bergabung.

Sebab-sebab daripada ini, adalah karena pemuda yang juga tidak berbeda dengan golongan-golongan lain, tidak terlepas akan semua akibat-akibat pertentangan yang langsung menimpa dirinya. 

Di mana dapat dirasakan sendiri sepanjang hidupnya untuk ditarik suatu garis langkah terang atas dasar pengalaman hidupnya sehari-hari dengan pandangan dan perhitungan yang tersaring antara pengaruh luaran dan sekeliling penghidupan sehari-hari.

Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa dalam abad kedua puluh ini, tidak seorang pemuda pun yang memuji kebaikan daripada feodalisme dan imperialisme, demikian juga yang mempertahankannya.

Sedang pada sesungguhnya, meskipun masih ada beberapa orang pemuda yang di dalam jiwanya masih melekat pengaruh-pengaruh feodalisme dan imperialisme itu, sekali-kali tidak berani membuka suara atau mengatakan bahwa ia cinta akan itu apalagi jika diterkanya, ia mesti akan menyangkal keras.

Sebab akibat dari feodalisme dan imperialisme itu telah dirasai sendiri, bahwa tiada membawa kebahagiaan dan kesejahteraan hidupnya sehari-hari, tetapi sebaliknya membawa kebodohan, kesengsaraan, kemelaratan, dan kehinaan.

Setelah mengutarakan sendiri akan kejelekan dan kebiadaban feodalisme dan imperialisme, pemuda-pemuda tidak bergoyang kaki sebagai penonton dalam taraf untuk menghancurkannya.

Tetapi dari benua barat sampai timur, berjuta-juta pemuda telah gugur sebagai kontributor perjuangan bersama-sama dengan Rakyat lainnya di seluruh dunia.

Meskipun demikian, cita-cita dari pemuda-pemuda untuk mencapai hidup bahagia itu, hingga sekarang belum lagi terlaksana seluruhnya.

Bagi pemuda Indonesia sendiri, ketakutan, penghinaan, kekhawatiran, kelesuan, dan macam-macam kesulitan masih tetap berdampingan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Dari sebagian besar adik-adik kita yang baru berumur enam tahun, selalu bertanya-tanya dalam hatinya, apakah kiranya dapat bersekolah berkenaan dengan tidak mempunya orang tua.

Sedari bangun pagi, mereka selalu mengamati ibu dan bapaknya, adakah makan untuk mengisi perutnya pada siang dan sore nanti; dapatkah kiranya mereka hidup panjang, karena mereka sedari kecil telah ikut bekerja berat untuk membantu orang tuanya sedang badan belum cukup kemampuan, dan demikianlah masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan.

Dari sebagian besar adik-adik kita yang hampir tamat Sekolah Rakyat, dengan sehari-hari membantu orang tuanya, setelah mendekati—tahun pelajaran baru di mana mereka mesti akan meningkat ke sekolahan yang lebih tinggi, semalam-malaman mereka selalu merenungkan diri, dengan menengok kemiskinan orang tua, mereka telah putus pengharapan akan dapat meneruskan sekolahnya yang lebih atas.

Dalam hal ini terutama kepada adik-adik pelajar tamatan sekolah menengah yang untuk meneruskan sekolah lebih tinggi, sebelum mereka mesti mondar-mandir mencari pekerjaan lebih dahulu agar dapat membiayai sekolahnya yang lebih tinggi itu.

Kita semua dapat menggambarkan sendiri keadaan sekarang, bagaimana rasa khawatir pemuda-pemuda buruh kita di salah satu lingkungan yang setelah mengetahui teman-temannya di pabrik atau perusahaan lain yang beratus-ratus di-ontslag (dipecat—ed) dari pekerjaannya.

Mau tidak mau mereka selalu waswas jangan-jangan mengenai dirinya sendiri, sedang mereka tahu bagaimana sedih dan gelisahnya seorang pemuda yang sedang kehilangan mata pencahariannya, terutama bagi pemuda-pemuda yang telah mempunyai tanggungan rumah tangga.

Kenyataan yang dialami oleh pemuda-pemuda kita yang penuh dengan rasa keresahan di mana hingga kini belum ada tanda-tanda lenyap dihadapan mukanya, kini akan mengalami bencana yang lebih-lebih hebat lagi daripada yang sudah-sudah, yaitu tanda-tanda timbulnya peperangan baru yang sedang disiapkan oleh kaum imperialis Amerika penghasut perang yang akan memusnahkan berjuta-juta jiwa manusia.

Di beberapa sektor di mana pengaruh imperialis masih bercokol di dalamnya, kita pemuda-pemuda bukan saja hanya mendengar berita-berita adanya persiapan perang yang kegila-gilaan itu, tetapi telah langsung merasakan dan mengalami bagaimana kesukaran-kesukaran yang mesti dihadapi.

Kiranya bagi kita pemuda Indonesia, bukan lagi akan bertanya, bencana apa yang akan timbul apabila terbit peperangan baru karena telah kenyang akan akibat-akibat peperangan itu, tetapi yang penting adalah, bagaimana usaha kita pemuda-pemuda bersama-sama Rakyat seluruh dunia dapat mengenyahkan bahaya itu.

Bahaya yang paling langsung dan dekat dengan kita, adalah adanya persiapan peperangan baru di daerah Asia dan Pasifik dan dalam hal ini, imperialis Amerika dan komplotannyalah yang langsung menjadi musuh nomor satu dari pemuda-pemuda seluruh Asia dan Pasifik.

Kita boleh percaya bahwa imperialis Amerika bukan satu-satunya musuh dari pemuda-pemuda Asia dan Pasifik, seandainya tiada bala tentara Amerika Serikat menduduki jazirah Korea Selatan dengan pembatasan sampai 5.000 mil dari daratan Amerika.

Kita boleh menganggap bahwa Amerika sebagai profesor sejati dari pemuda-pemuda Asia dan Pasifik seandainya tidak ada armada ketujuh dan angkatan udaranya ke-13 yang mengangkangi daerah Tiongkok (Taiwan). 

Kita akan menyebut Amerika sebagai pendukung peri kemanusiaan, apabila ia tidak memperluas lapangan terbang militer sejumlah lebih dari 400 tempat di Jepang dan tidak membebaskan penjahat-penjahat perang fasis Jepang.

Dan kita akan menganggap pecinta kebudayaan kepada Amerika Serikat, apabila yang sebanyak 50 miliar dolar itu tidak diperuntukkan biaya perang Korea dan remiliterisasi Jepang dan Jerman, demikian juga usaha Amerika yang memaksakan embargo terhadap Tiongkok dan MSA (Mutual Security Act, program bantuan Amerika Serikat—ed) terhadap Indonesia.

Tetapi bukti menunjukkan, bahwa imperialis Amerika tetap menjadi lawan yang berbahaya dari pemuda-pemuda Asia dan Pasifik yang harus dibasmi.

Lebih dari 175 juta pemuda-pemuda dunia telah memberikan tanda tangannya anti-perang, karena itu kita yakin bahwa perjuangan kita bersama-sama Rakyat seluruh dunia yang cinta damai akan dapat menghalau semua rencana agresif dari Amerika Serikat.

Seandainya fasisme tidak dapat dibasmi, kita boleh jadi percaya bahwa peperangan pun juga tidak mungkin dapat dihancurkan.

Tetapi sejarah membuktikan pula, bahwa dengan kekuatan raksasa anti-fasis yang didukung oleh seluruh Rakyat yang tak terkalahkan itu, sanggup memusnahkan fasisme yang terkutuk itu dari permukaan bumi kita.

Jadi, terang bahwa dengan kekuatan anti-perang yang sekarang meluas di seluruh penjuru dunia itu, akan sanggup pula menumpas segala usaha-usaha persiapan perang.

Mendung tebal yang mengarungi pemuda-pemuda Asia dan pasifik yang penuh kegelisahan dan kekhawatiran, akan lenyap di pandangan matanya dengan terselenggaranya Konferensi Perdamaian Asia dan Pasifik yang dibuka di Peking tanggal 26 September ini (1952—ed).

Konferensi Peking yang juga diikuti oleh duta-duta perdamaian dari Tanah Air yang akan memperbincangkan masalah pembelaan perdamaian dunia, menjelaskan semua pertikaian-pertikaian dengan jalan damai, menjamin kemerdekaan dan kedaulatan bangsa-bangsa Asia dan Pasifik.

Memajukan kerja sama secara damai antara berbagai sistem ekonomi dan menentang semua intervensi asing ke dalam urusan dalam negeri sendiri-sendiri, adalah penting sekali bagi penghidupan kita pemuda-pemuda Indonesia di hari depan dan merupakan jawaban yang konkret terhadap usaha-usaha perang Amerika, apa sesungguhnya kemauan dari Rakyat dan pemuda-pemuda seluruh Asia Pasifik.

Baik pemerintah maupun partai-partai juga organisasi-organisasi pemuda sendiri yang mempunyai program perdamaian atau setidak-tidaknya menyatakan bahwa ia adalah cinta damai, akan diuji di hadapan pemuda-pemuda sampai di mana kebenarannya dan sampai di mana dilaksanakannya.

Sebaliknya, apabila menyimpang daripada itu, mesti akan menemui kegagalan-kegagalan yang tak dapat dielakkan lagi.

Kata Kunci:

Kawan Redaksi

Penulis:
Editor: Akbar Ridwan

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!