Oleh: Sekar Kawis
Sedar Edisi Nomor 6-7 — Januari-Februari 1932
Perkataan “pekerjaan perempuan” mengandung pendapat yang tidak dijunjung begitu tinggi.
Pekerjaan perempuan hanya dipandang sebagai kejahatan yang perlu, baik buat mencari penghidupan bagi perempuan yang tidak berkawin dan perempuan yang tidak dapat menggunakan temponya.
Pekerjaan tidak dipandang penting dan perlu sekali bagi semua makhluk.
Berkawin, dan beranak, itu saja dan hanya di situ saja perempuan dapat digunakan, dan dengan begitu ia memenuhi kewajiban. Hanya dalam perkawinan perempuan dapat menjalankan pekerjaan yang diminta kepadanya.
Beranak, itu satu pekerjaan yang bagus sendiri bagi perempuan. Jika ia tidak berkawin, itu ia dipandang sebagai perempuan yang tidak mengetahui kewajiban.
Salah, salah, seribu kali salah pendapat demikian itu.
Di dalam perkawinan, pekerjaan perempuan selainnya mendidik anak, mengurus rumah tangga, dan memajukan kesenangan penghidupan di dalam rumah, harus perempuan juga menjalankan pekerjaan yang berarti lain, bekerja untuk memuaskan segala hajat jasmani dan rohani, yang juga di luar perkawinan menjadi kebutuhan yang terpenting.
Berkawin jangan dipandang perlu sekali buat mengerjakan dan memuaskan kebutuhan bagi perempuan.
Segala perangan dari rencana harus menjalankan pekerjaan dengan peraturan: harus berbuah, jangan kurang, jangan juga lebih dari kekuatannya. Begitu jalannya di dunia tumbuh-tumbuhan dan di dunia hewan, harus begitu juga di dunia pergaulan hidup manusia.
Untuk mencapai pergaulan hidup demikian, semua makhluk harus bekerja, dan perempuan sebagai makhluk juga harus tiada ketinggalan.
Pekerjaan harus dijalankan atas tiga penuntutan:
- Pekerjaan itu harus perlu;
- Harus sepakat dengan tabiatnya yang menjalankan pekerjaan itu; dan
- Segala pekerjaan harus dijalankan sebenar-benarnya.
Di antara kaum buruh kecil, pekerjaan yang dijalankan oleh orang lelaki jauh dari menyempurnakan tiga penuntutan ini, berhubung dengan keadaannya. Hanya penuntutan yang pertama dapat dipenuhi, oleh karena ia orang terpaksa memenuhi itu.
Penuntutan yang kedua, yaitu pekerjaan harus sepakat dengan tabiatnya yang menjalankannya, itu tidak sama sekali dapat dipenuhi tiada lain hanya dari sebab keadaannya yang sukar untuk memilih pekerjaan demikian.
Terhadap pada penuntutan yang ketiga dapat dicukupi dengan lama kelamaan jika si buruh telah paham dalam pekerjaannya yang dijalankan sehari-hari itu (rutin).
Sekarang kita melihat bagaimana keadaan pekerjaan perempuan dari kaum buruh kecil?
Oleh karena terpaksa juga perempuan ini bekerja. Akan tetapi, di sini juga tidak sekali-kali pekerjaan yang dilakukan itu sepakat dengan tabiatnya si buruh.
Kebanyakan ia kerjakan apa macam kerjaan saja, yang sering-sering terlalu berat, tiada sesuai dengan kekuatan badannya.
Oleh karena perempuan buruh tidak mempunyai pengetahuan yang dalam (vakkennis) terhadap pada pekerjaannya, dan juga tiada mempertunjukkan energinya di dalam pekerjaan itu, ia hanya digunakan untuk menjalankan pekerjaan yang gampang-gampang saja, akan tetapi tiada kurang dari berat.
Buruh lelaki sering diserahi membikin ini dan itu, yang tidak akan diserahkan kepada buruh perempuan. Misalnya di kerjaan membikin rumah. Lelaki yang mendirikan tembok, yang mencampur semen, yang mengukur-ukur, yang memikir segala hal pasang-pasangan.
Perempuan hanya baik buat menggebuk batu merah, memikul air, mengayak, dan lain-lain pekerjaan yang tidak usah memakai pikiran banyak-banyak, akan tetapi toh berat sekali.
Di pabrik-pabrik, lelaki yang menjalankan mesin-mesin, sebab ia tahu, atau lekas mengerti jalannya dan peranannya mesin-mesin lain daripada perempuan; dan oleh karena itu tempat pekerjaan perempuan di pabrik hanya di afdeeling (bagian—ed) bungkus-bungkus, pilih-pilih (sortir), dan sebagainya.
Sekarang kita mengetahui yang kedudukan perempuan di dalam pekerjaan di kalangan kaum buruh kecil ada sangat di bawahnya kaum lelaki.
Bagaimana sekarang keadaan di kalangan kaum pertengahan dan kaum luhur (atas—ed)?
Di kalangan kaum luhur orang lelaki dapat memenuhi tiga-tiga penuntutan yang perlu buat menjalankan pekerjaan, asal ia dapat didikan dan pengajaran yang baik di kalanya ia masih muda.
Ini hanya tergantung pada kekayaan orang tuanya dan kemauan anak lelaki sendiri. Banyak, akan tetapi masih jauh dari sempurna, sekarang yang telah memenuhi penuntutan tiga-tiga tadi.
Di kalangan kaum pertengahan, keadaan hal ini dapat kita pandang jelek. Anak lelaki di situ hanya dididik buat menjadi kaum buruh, dan pemburuhannya kebanyakan juga tidak sepakat dengan tabiatnya. Hal ini telah sering kali diuraikan, dan kita akan tidak memanjang lebar lagi.
Kita hanya akan melebarkan sedikit tentang kedudukannya perempuan di dalam dua golongan itu.
Anak perempuan hanya dididik untuk berkawin. Pengajaran buat memuaskan salah satunya pengetahuan hampir sama sekali tidak diberi kepadanya. Hanya sedikit orang tua yang mengerti gunanya atau faedahnya pemberian pengetahuan yang dalam buat anaknya perempuan.
Kebanyakan memandang sayang pada uang ongkos belajar dan tidak ada gunanya untuk belajar terus, jika anak perempuan sudah tamat dari sekolah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP—ed).
Akan tetapi, kesalahan ini bukan terletak di orang tua saja, anak perempuan pula menanggung kesalahan ini. Sebab, apa ia tiada bergerak lagi, jika orang tuanya memutuskan pelajarannya sampai begitu saja?
Oh, memang anak perempuan sekarang kebanyakan belum insaf dan sadar dan mengetahui apa gunanya melebarkan dan mendalamkan pengetahuan. Mereka tiada mempunyai levensenergie (daya hidup—ed)dan memandang lebih baik ia tinggal di rumah dengan ikut mengurus rumah tangga.
Pengharapan apa lagi yang dikandungnya di dalam kehidupan ini? Moga-moga lekas datang jodohnya…
Berkawin lebih dulu dan di situ ia lantas dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang perempuan. Pemandangan lain tak ada atau tak mempunyai. Sampai di situ batasnya pengharapan hidup buat diri sendiri.
Sering-sering anak perempuan dikawinkan sonder ditanya lebih dulu apa ia cinta pada bakal suaminya. Orang tua pandang itu tidak perlu. Kalau orang tua sudah cinta pada sang bakal mantu, toh anak juga akan cinta kepadanya.
Bukan orang tua selalu mencari bahagia anaknya? Anak harus percaya saja pada pilihan orang tua. Tak ada orang tua akan membujuk anaknya dan menjerumuskan anaknya ke lubang. Dan anaknya percaya padanya, toh tak ada jalan lain lagi…
Barangkali ada pengharapan anak itu dapat hidup mulia dengan suaminya. Dan anak perempuan toh mesti mentetapi kewajiban berkawin!
Orang tua yang selalu mendidik anaknya untuk berkawin itu membikin palangan besar bagi pendidikan yang diberikan dengan luas pemandangan.
Pendidikan akan berkawin itu berarti mendidik anaknya akan menggandul, akan dapat diperintah, akan tergantung pada lelakinya, akan takluk selama hidupnya.
Hai kaum orang tua, didiklah anakmu perempuan menjadi orang yang teguh dan bijaksana, orang yang sadar, percaya pada kekuatan dan kebisaan diri sendiri, orang yang dapat menjunjung tinggi derajatnya, saudara-saudaranya perempuan lain, jangan membikin anakmu menjadi orang yang pasrah dan lemah.
Jangan takut, bahwa anakmu perempuan akan tidak dapat berkawin, jika ia sangat pintar, sangat tajam pikirannya.
Memang betul banyak orang lelaki terlebih ia suka mempunyai bini seperti boneka, yang hanya dieman-eman, daripada bini yang berdiri di sampingnya sebagai kawan, yang dapat memikirkan segala hal penghidupan, yang berani dan dapat memikul segala beban tanggungan yang berat.
Oh, lelaki semacam itu tidak seberapa harganya. Jika benar perempuan yang sadar dan insaf, teguh dan berani tidak disukai pada orang lelaki, toh pergaulan hidup manusia ini akan lebih digunai oleh sedikit perkawinan daripada banyak perempuan yang rendah kedudukannya.
Kaum ibu dan bapak, kamu dosa pada dunia pergaulan hidup jika kamu tidak memberi pendidikan yang tinggi bagi anakmu perempuan, jika kamu tidak berhalangan. Perempuan yang pintar, insaf, sadar, dan gagah berani itu akan menurunkan anak yang tinggi derajatnya.
Jangan sayang pada uang yang dibuat memberi pelajaran pada anakmu perempuan agar supaya pengetahuan mereka bersama harga dengan anakmu lelaki.
Bunuhlah pemandangan “toh anak perempuan akan meninggalkan dan tidak mempergunakan pengetahuannya jika ia hendak berkawin, dan uang banyak yang telah diberi untuk mencari pelajaran akan tidak ada faedahnya”.
Ini pendapat yang sangat onlogisch (tidak logis—ed). Jika perempuan yang tinggi pengetahuannya itu berkawin, ia akan dapat mengatur rumah tangganya lebih praktisch (praktis—ed), anak-anaknya dapat pendidikan yang lebih sempurna yang timbul dari kepandaian dan kemauan ibunya, yang menumbuhkan tahanan akan dirinya, yang memasakkan budi pekertinya.
Segala pendidikan dan pengajaran tinggi akan ada buahnya bagi perempuan di kemudian hari. Akan menguntungkan diri sendiri dan anak suaminya, dan juga menguntungkan semua sekelilingnya.
Dan apakah uang yang dibuat mencari pelajaran tadi tidak berbunga berpuluh-puluh ya beratus persen, jika kamu mengetahui, bahwa perkawinannya anakmu ada satu tali yang mengikat dua orang atas pikiran yang suci dan murni, bukan sebagai menjual dirinya untuk mendapat pengayupan dan makanan atau titel?
Perempuan yang dapat pelajaran tinggi akan tidak terjerumus dalam kesukaran pencarian penghidupannya. Dengan bekerja, membikin produktif kepandaiannya, ia dapat menolong membesarkan pendapatan buat keperluan hidupnya.
Ia kan hidup lebih merdeka, tidak tergantung pada suaminya. Kita tidak sama sekali menjurungkan semua perempuan buat menjalankan pekerjaan yang ia dapat gaji. Kita hanya memajukan kemerdekannya mereka tentang hal ini.
Sebab paling pertama perempuan harus dipandang sebagai manusia, berdiri sendiri, merdeka, mempunyai pikiran, kebutuhan, dan pengharapan dan pemandangan sendiri.
Suatu titah yang dilahirkan dan yang akan musna, dan di dalam tempo di antara dua peristiwa itu wajib juga mencerdaskan segala perangan dari jiwanya dan mendapati kecerdasan yang setinggi-tingginya sampai berbuah sebanyak-banyaknya.
Surabaya, 1 Februari 1932.