Aksi Kaum Nelayan Kalahkan Tengkulak Ikan

Aksi Kaum Nelayan Kalahkan Tengkulak Ikan

Aksi Kaum Nelayan Kalahkan Tengkulak Ikan
Aksi Kaum Nelayan Kalahkan Tengkulak Ikan. Sumber: Suara Tani/reproduksi.

Oleh: M. Aminzen

Suara Tani Edisi Tahun XII Nomor 12 — Desember 1961

Dumai, sebuah ibu kota kecamatan dari Daswati II Bengkalis (Riau). Dalam kecamatan tersebut ada 19 kepenghuluan (desa) yang letaknya terpencar-pencar di tepi pantai.

Jadi, bukanlah suatu kebetulan kalau penduduk kecamatan ini terdiri dari sebagian besar kaum pekerja laut yang biasa disebut nelayan, misalnya tukang jaring, pukat rawe, pengerih, pancing, dan lain-lain.

Pulau Rupat, suatu tempat yang kenamaan di wilayah ini, menghasilkan banyak ikan sesudah Bagan Siapi-api.

Dari sini banyak diangkut ikan ke daerah-daerah lain. Ke semenanjung tanah Melayu dan untuk Kota Dumai itu sendiri.

Kalau saudara datang ke Dumai, setiap hari saudara akan melihat para nelayan dalam kesibukan. 

Sampan-sampan berderet-deret membawa ikan ke pasar atau yang sedang pergi ke laut ataupun nelayan yang sedang memperbaiki perahu dan alat-alat penangkap ikan.

Kaum nelayan bebas menjual hasilnya ke mana ia suka dan menetapkan harga tanpa ada orang lain yang memaksa. 

Kadang-kadang nelayan itu langsung menjajakan ikannya ke tempat tinggal kaum buruh dan pegawai atau ke mana saja yang dianggapnya dapat menjual dengan harga yang baik. 

Tetapi kaum nelayan lebih suka menjual borongan dari sampannya kepada pengecer, yaitu pedagang-pedagang kecil.

Dengan demikian, ia segera dapat memperoleh uang guna membeli kebutuhan sehari-hari, seperti beras, garam, sayur-sayuran, minyak, dan sebagainya, dan dapat segera kembali pulang ke rumah di mana pekerjaan pun sudah menunggu.

Di rumah ia segera memperbaiki sampan dan alat-alat yang rusak, mengatur persiapan untuk ke laut, sementara hidangan siap dimasak oleh istrinya. 

Jadi dengan penghasilan ikan, kaum nelayan hidup sekadarnya, para pengecer ikan di pasar pun dapat pula hidup, dan rumah tangga tidak terlantar.

Sejak Dumai berkembang pesat menjadi kota minyak dan kota pelabuhan, di mana maskapai minyak asing Caltex membangun besar-besaran dan pemerintah mulai membangun pelabuhan, keadaan kaum nelayan menjadi lain.

Tengkulak ikan rupanya mulai tumbuh di Dumai, tengkulak-tengkulak mengeksploitasi keringat nelayan. 

Memang keadaan Dumai sekarang dapat dimengerti, kaum buruh dan pegawai-pegawai Caltex banyak sekali dipindah ke Dumai.

Pegawai pemerintah pun bertambah banyak, lalu lintas bertambah di sekitar Dumai beserta kaum buruh yang bekerja pada perusahaan-perusahaan kayu dan arang, dengan demikian bertambah berlipat ganda kebutuhan orang akan “protein hewan” dari ikan.

Pendapatan kaum nelayan lebih lumayan dari masa yang sudah-sudah meskipun jika dibandingkan harga kebutuhan pokok yang cepat melonjak, pendapatan kaum nelayan jauh tidak seimbang.

Di sini pulalah tumbuhnya tengkulak-tengkulak itu karena melihat kesempatan-kesempatan yang mudah mendapat untung tanpa keringat. 

Tengkulak tersebut kabarnya mendapat dukungan pula dari seorang pejabat di Dumai, maka itu tengkulak merasa kuat.

Tengkulak-tengkulak memaksa kaum nelayan agar langsung menjual ikan kepadanya, tidak boleh kepada orang lain. Dan tengkulak-tengkulak memaksa kaum pengecer membeli ikan dari mereka.

Semua ikan dibon dulu kepada kaum nelayan, harganya tengkulak yang menetapkan. Kaum nelayan disuruh menunggu dulu sampai ikan dijual habis oleh tengkulak, barulah harga ikan dibayar kepada nelayan.

Siapa para pengecer yang berani membeli ikan langsung kepada nelayan diancam akan dipukul. Juga kepada kaum nelayan demikian dan intimidasi pun terus-menerus.

Akibatnya kaum nelayan mengalami kerugian yang tidak sedikit, harga ikannya merosot dan waktu pun banyak terbuang. 

Sebagai contoh pada bulan Juli/Agustus 1961 yang lewat, harga ikan ditetapkan tengkulak per kilogram Rp12,50, potong cukai Rp1, tetapi tanpa kwitansi. Harga yang diterima Rp11,50 per kilogram. 

Pada bulan tersebut harga ikan rata-rata Rp30 per kilogram. Jadi lebih dari separuhnya penghasilan nelayan di makan oleh tengkulak.

Keadaan ini menimbulkan rasa tidak senang bagi kaum nelayan. Juga di kalangan alat negara yang patriotik di Dumai terdapat perasaan yang tidak senang terhadap tingkah laku tengkulak-tengkulak itu.

Oleh karena kaum nelayan Dumai pada umumnya tergabung dalam organisasi Persatuan Nelayan Daerah Riau (Penyadar), mereka melaporkan kepada organisasi. 

Penyadar yang barusan saja berdiri sudah dijumpa lawan. Satu-satunya jalan bagi kaum nelayan memperkuat persatuan kaum nelayan, memperkuat organisasi mereka Penyadar, bersatu dengan golongan yang cinta nelayan lainnya dan dengan para pengecer guna melawan tengkulak ikan, sambil mempersiapkan aksi kaum nelayan.

Bentuk aksi pertama yang dilakukan nelayan ialah tidak memedulikan paksaan/intimidasi tengkulak, kaum nelayan dari sampan menjual ikannya kepada siapa saja yang suka membeli, kaum nelayan pergi ke komplek kaum buruh dan pegawai dan ke mana saja dirasanya perlu.

Rupanya melihat persatuan kaum nelayan demikian, tengkulak mundur teratur, mencari siasat baru. 

Bagi kaum nelayan satu-satunya jalan selain memperkuat Penyadar juga lebih memperkuat front persatuan dengan golongan demokratis lainnya sebagai senjata untuk melawan tengkulak ikan dan terwujudnya pelelangan ikan secara kooperatif di Dumai.

Kaum nelayan semakin menyadari tentang betapa pentingnya memperkuat dan memperkuat organisasi massa dan koperasi-koperasi kaum nelayan untuk melawan segala bentuk eksploitasi juragan besar dan tengkulak-tengkulak yang bersifat feodal.

Kata Kunci:

Kawan Redaksi

Penulis:
Editor: Akbar Ridwan

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!