Oleh: Sjaraswati
Api Kartini Edisi Nomor 7-8 Tahun IV — Juli-Agustus 1962
… 17 Agustus 1949 di timur kota.
Kutulis kata-kata ini di bawah kerdipan pelita minyak kelapa di gubuk kecil. Kawan-kawan telah tertidur lelap, setelah sehari penuh merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-4 jauh terlempar di bukit dan desa.
Pasukan gerilya terpaksa mundur terpencar di sekeliling kota, berpuluh kali “markas” kami berpindah dan kini di desa Pijenan, sebuah bukit terlindung rumpun bambu tak jauh dari Jumapolo, kira-kira 40 kilometer dari Solo.
Pertempuran agak mereda beberapa hari ini, mungkin Belanda mundur mengubah siasat untuk menggempur kami.
Kami biasa siap waspada siang malam, senjata-senjata tetap diminyaki, bren, sten, senapan-senapan trek-bom telah siap, sedang Pak Dasir kepala suplai berusaha keras menampung perbekalan: jagung, ubi, dan singkong.
Penghadangan-penghadangan patroli musuh tetap dilakukan dan Ompi girang mendapat kuda, meskipun kurus dan tua.
Gerilya berkuda, betapa bangga Ompi dengan menyandang bren berat, meski bajunya telah usang koyak.
Tati, Mul, dan aku masuk staf I dan sering dikirim ke daerah musuh, bergantian kami membawa surat-surat dan pesan ke markas-markas lain dan kota, tetapi di saat lega kami kumpulkan anak-anak desa sekitar itu.
Betapa segar gembira anak-anak itu menyanyikan lagu-kagu perjuangan “Sorak-Sorai Gembira”, “Dari Barat sampai ke Timur…”, “Dwiwarna”, dan lain-lain, dan tak lama bila kami berkejaran mandi di sungai terdengar lagu-lagu itu menggema di lereng-lereng bukit.
Kami pelajari anak-anak membaca dan menulis dengan mencorat-coret di atas tanah merah di belakang markas. Semakin banyak anak-anak ikut serta, juga dalam latihan berbaris.
Bapak ibu mereka bangga dan mengirimkan sayur-sayur maupun singkong dan buah-buahan tanda terima kasih mereka, lebih-lebih dalam menjelang perayaan 17 Agustus yang takkan kami lupakan meski tersembunyi di desa-desa.
Ompi girang dan tiap hari membaca cerita penghadangan yang berhasil,… senjata kami bertambah banyak dan Pak Pi bersiul gembira dalam merencanakan peledakan-peledakan trek-bomnya.
Ternyata Pak Pi dan Pak Tjik, ajudan komandan kami, dengan diam-diam melatih sandiwara dengan keduanya sebagai pemain utama dan sutradara.
Siapa berkata gerilya tak ada waktu untuk berseni? Belanda takkan memimpin bahwa kami merayakan 17 Agustus dengan meriah di hutan dan desa, namun tetap menghirup udara merdeka.
Kudengar gerilya dalam kota merayakan 17 Agustus dengan bertubi-tubi mengadakan gerakan-gerakan bergabung dengan pasukan-pasukan yang masuk pada malam hari.
Pagi itu lebih cerah dari biasanya. Batalion kami, Brahmastra (Panah Api) berbaris kompi per kompi, tegak penuh gairah juang memancar dari wajah-wajah berseri.
Beratus pasukan berkumpul di lapangan dekat pasar tempat teman-teman kita yang gugur beberapa hari yang lalu dikuburkan. Tanahnya masih merah basah, menderaskan arus kegeraman terhadap kekejaman penjajah.
Mereka pahlawan-pahlawan tak bernama tersebar dalam taman-taman bahagia disegenap sudut Tanah Air.
Kuingat jelas betapa teman-teman berbaris menyandang bermacam-macam senjata, mulai dari bren, sten, pistol, sampai klewang dan pedang, juga pos Palang Merah tak ketinggalan.
Meskipun baju satu-satunya yang dulu pernah hijau kekuningan seragam kini telah usang beralih warna dan di sana-sini bertambal… meski kaki penuh lumpur tak ada yang bersepatu.
Bukankah gerilya harus bergerak dengan diam, menyerang untuk kemudian menghilang secepat kilat? Untuk itu sepatu memang tak diperlukan!
Tetapi hal itu tak sedikit mengurangi ketetapan langkah. Itu Pak Djon dengan pasukan gerak-cepat, Siwo dengan staf markas komando, Yoto dengan kompi penyerangnya, Kak Titiek dengan tas palang merah yang melekat selalu.
Sedang yang terakhir, Totok, Husin, dan aku mengiring anak-anak sekolah berbaris hampir seratus banyaknya. Penduduk desa berjejal melihat pawai gerilya penuh semangat itu.
Di atas batu yang agak tinggi di bawah rindang pohon waringin komandan menjelaskan:
“… Biar kita terlempar jauh di atas bukit, kita takkan putus asa. Musuh pasti takkan bisa tahan lama. Bukankah kita tak ada Belanda yang berani berpatroli kalau tak dengan konvoi tank-tank yang kuat?
Kita lihat, siapa yang lebih lama bisa bertahan, kita di Tanah Air kita sendiri dengan bantuan dan kasih sayang rakyat sendiri atau mereka NICA (Netherlands Indies Civil Administration—ed) dengan Belanda yang semakin hari semakin habis dan dimusuhi penduduk desa.
Meskipun kami dengar akan ada perundingan antara Republik dan Belanda, kita akan terus melawan sampai kota dan daerah kita rebut kembali. Untuk itu semua, kita harus berani berkorban, meski kita berhari-hari harus bertempur tanpa makan…
Sekali kita menancapkan Sang Merah Putih… cita-cita akan tercapai pada akhirnya. Itu sudah pasti!”
Api kesungguhan juang memancar dari pandang para gerilya ketika Sang Merah Putih melambai sedang matahari pagi menyinari hangat, seolah-olah membayangkan kecerahan hari depan sehabis kegelapan penderitaan.
Malamnya kami berpesta pora dengan singkong rebus dan “wedang jahe”, minuman jahe yang memanaskan badan, sedang sandiwara Pak Pi sungguh merebut hati penonton.
Penduduk desa yang beramah tamah erat sayang dengan pasukan gerilya kami, batalion Panah Api, yang biasa sedia untuk dilepaskan tepat mengenai sasaran.
Hari itu bertambah banyak pemuda-pemuda desa yang ingin dilatih untuk “pagar desa” pasukan-pasukan penjaga desa yang akan meneruskan perlawanan, apabila kami, terpaksa berpindah.
Dalam kegelapan malam berbintang, kami berbondong kembali ke gubuk dan pos-pos penjagaan masing-masing. Betapa semakin mendalam rasa cinta Tanah Air yang luas indah pada malam seperti itu.
Ya… kami, pemuda-pemuda menyediakan segenap hidup kemampuan untuk kemerdekaan, juga jiwa kami bila diperlukan.
Bukankah tak ada keindahan yang melebihi perjuangan untuk kemerdekaan dan kebahagiaan Tanah Air?
Sayang pelita semakin pudar, terpaksa kututup catatan harian pada secarik kertas merang ini. Tetapi, bukankah besok masih ada hari yang membawa segenap kemungkinan serta harapan? … Ya… pasti kita akan menang!