Refleksi Fan-Owned Klub Sepakbola Alternatif

Refleksi Fan-Owned Klub Sepakbola Alternatif

Sepakbola Alternatif
Ilustrasi Sepakbola Alternatif. Sumber: Fred Yates, Saturday Afternoon, 1953

Pada suatu hari, dalam sebuah obrolan yang santai, perdebatan tentang bagaimana cara mengelola klub sepakbola alternatif kembali mencuat dalam obrolan kami. Konsep itu bagi kami bukanlah konsep yang final, sehingga obrolan soal itu berpotensi untuk terus menerus muncul—seiring dengan pengalaman serta pengetahuan orang-orang di dalamnya yang kian tumbuh.

Kami menanggapi obrolan itu sebagai tempat kami bertukar gagasan sekaligus wadah saling belajar. Itu pula yang mendorong saya menuliskan catatan singkat ini berbasis pengalaman dalam mengelola Tribun Kultur FC.

Jika kita kilas balik kemunculan klub ini, salah satu semangat yang mendorongnya adalah semangat alternatif. Istilah alternatif, bagi saya, bukan cuma soal pilihan kompetisi alternatif yang diikuti. Bukan pula sebatas gaya pengelolaan klub yang amatir.

Tapi yang jauh lebih penting dan relevan adalah soal sudut pandang. Bagaimana sudut pandang alternatif ini kita gunakan sebagai kacamata dalam melihat berbagai persoalan, yang kemudian turut membentuk keberpihakan yang kita yakini. Keberpihakan itu kemudian mempengaruhi tindakan dan sikap yang kelak kita ambil.

Obrolan ini muncul saat teman-teman sedang mendiskusikan pendanaan klub. Maka saya pikir topik itu bisa menjadi contoh yang relevan untuk menjelaskan bagaimana sudut pandang alternatif menentukan cara pendanaan yang dipilih oleh klub sepakbola alternatif.

Dalam cara-cara umum pengelolaan klub sepakbola misalnya, cara pendanaan yang lumrah kita temui ada dalam berbagai model. Misalnya, model sponsor yang mengandalkan dukungan finansial dari pemodal. Atau model iklan yang biasanya terjadi dalam hubungan bisnis produk.

Cara-cara itu seringkali mengharuskan adanya beberapa prasyarat. Dan konsekuensi yang biasanya muncul adalah: orientasi profit, mengutamakan hubungan bisnis, dan—dalam titik tertentu, rentan ada hubungan kerjasama yang tidak setara. Untuk yang terakhir, dengan kata lain: ada potensi satu pihak mendominasi pihak lainnya.

Apakah cara-cara itu buruk jika diterapkan oleh klub sepakbola alternatif? Belum tentu. Tapi sebagai klub yang mengusung nilai-nilai alternatif, tantangan kita adalah melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa ditempuh.

Kemungkinan lain itu yang tidak mengandalkan sponsor maupun hubungan bisnis periklanan, bisa jadi adalah praktik dari bagaimana cara kita mengelola sekaligus menghidupi klub ini secara alternatif. Dengan begitu, prinsip kemandirian yang dipegang sejak awal, bisa jalan terus. Tanpa diganggu gugat, juga diotak-atik.

Mungkin konsep itu terlalu abstrak untuk jadi bahan obrolan di sela-sela pertemuan atau waktu luang selepas kelar pertandingan.

Tapi, barangkali kita bisa memulainya lewat pertanyaan sederhana: gimana ya cara yang bisa dilakukan untuk mendanai klub ini secara mandiri, tanpa harus menggadaikan prinsip yang kita pegang? Tak pernah ada yang ideal, tapi beberapa cara yang telah kita lakukan bisa jadi adalah pintu masuk untuk memulainya.

Pertama, budaya patungan. Praktik ini dimulai sejak awal klub ini dibangun. Untuk bisa bermain dan menyewa lapangan, para pemain membiayainya dengan patungan. Setiap orang membayar dengan nominal yang ditentukan atau sesuai dengan ongkos yang ia punya.

Begitupun supporter, untuk bisa mencetak zine yang terbit tak beraturan, mereka berpatungan. Dua ribu, lima ribu, sepuluh ribu, hingga akhirnya zine itu terbit, dan disebarkan secara suka-suka.

Cara itu terlihat sangat remeh dan tak heroik. Tapi dengan patungan, kita bisa melatih sekaligus menguji komitmen kita terhadap keseriusan mengelola klub. Namun, bukan berarti tidak turut patungan adalah tidak komitmen.

Poinnya adalah budaya patungan yang selama ini dilakukan bisa membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya punya kontribusi dalam menghidupkan klub. Di saat yang sama, ikatan emosional terhadap klub bisa bertumbuh.

Lewat patungan, kita bisa merawat dan menumbuhkan keterikatan sambil tetap berada di jalur yang kita percayai sebagai prinsip.

Cara lainnya adalah jualan merchendise. Ruang untuk mendapatkan sponsor bisa jadi terbuka luas. Tapi dengan kita memilih berjualan kaos, jersi, atau semacamnya, itu jadi semacam cara untuk melatih insting bertahan hidup dalam membiayai klub. Di saat yang sama juga bisa menumbuhkan kreativitas karena memungkinkan kita mengeksplorasi banyak hal.

Dengan jualan merchendise, kita memikirkan untuk menentukan barang apa yang kelak akan dijual, mengamati model macam apa yang banyak disukai oleh teman-teman maupun supporter, serta belajar menghitung berapa modal yang akan digunakan, harga yang terjangkau untuk ditetapkan, sekaligus berapa keuntungan yang akan didapat.

Dari situ, kita juga bisa belajar untuk menentukan berapa uang yang dibutuhkan untuk bisa menghidupi klub—setidaknya untuk satu, dua, hingga tiga pertandingan.

TAPI, ngapain sih kita susah payah melakukan cara-cara itu ketika kita bisa memilih cara yang lebih mudah?

Pertanyaan itu barangkali muncul dalam benak banyak orang—entah diucapkan atau tidak. Tapi saya berusaha mengilustrasikannya seperti ini: susah payah itu adalah cara kita melatih diri, mengukur komitmen, dan memperkuat pondasi klub.

Sebab, ketika kita terbiasa dapat gelontoran modal, apakah kita perlu susah-payah-jungkir-balik untuk memikirkan gimana caranya bertahan hidup sambil mempertahankan prinsip yang kita pegang? Bisa jadi insting kita akan tumpul dan imajinasi kita tentang dunia alternatif itu akan terbatas.

Dengan begitu kita bisa sepakat: bahwa jualan merchendise bukan untuk melipatgandakan keuntungan, melainkan untuk terus menerus mengupayakan mengelola klub secara mandiri. Meski gak jarang ketika sudah melakukan berbagai hal, tapi hasilnya gak selalu maksimal.

Situasi semacam ini juga kerap mendorong kita memikirkan cara lain. Maka muncullah penetrasi lain: kolaborasi. Cara ini bisa dilakukan untuk banyak macam: kolaborasi bisnis, ide, massa, dan seterusnya.

Kolaborasi ini bukan jadi hal tabu. Dalam banyak kasus, kolaborasi justru memungkinkan sesuatu yang sedang dikerjakan bisa jadi lebih maksimal. Tapi, hemat saya, kita juga harus tetap teliti dalam menentukan model-model kolaborasi.

Saya membayangkan momen kolaborasi ini jadi semacam momen “tumbuh bersama” atau “belajar bersama” antara dua pihak yang berkolaborasi. Dengan konsep seperti itu, proses kolaborasi yang dilakukan memungkinkan kita sama-sama punya ruang untuk mendiskusikan sesuatu yang akan disepakati secara bersama.

Memungkinkan kita bilang gak setuju tanpa ada perasaan canggung. Memungkinkan kita mengoreksi atau mengkritik satu sama lain. Memungkinkan kita saling menghormati dan memahami prinsip yang kita pegang. Memungkinkan kita memiliki posisi tawar ketika dihadapkan dalam situasi yang dilematis.

Dengan begitu, kemungkinan salah satu pihak akan mendominasi pihak lainnya—sebagaimana model sponsor—itu bakalan minim. Juga, kerjasamanya menjadi lebih setara.

Mungkin ini terdengar rumit. Tapi, proses ini bisa terus menerus dilatih untuk mengupayakan pengelolaan klub secara alternatif. Latihannya gak perlu muluk-muluk, sesederhana kita mendiskusikan sesuatu lebih dulu sebelum mengambil keputusannya.

Sesederhana kita saling mengoreksi maupun mengkritik satu sama lain ketika dirasa itu gak sesuai prinsip. Juga sesederhana kita berbagi peran dalam proses menghidupkan dan mengelola klub ini.

Barangkali emang gak ada yang ideal di dunia ini. Tapi yang demokratis, yang setara, yang menyenangkan, itu bisa selalu kita upayakan.

Kawan Redaksi

Editor: Syaukani Ichsan

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!