Menelusuri Jejak Tionghoa di Batang Tarang

Menelusuri Jejak Tionghoa di Batang Tarang

Tionghoa
Tradisi Barongsai di Batang Tarang (Dokumentasi pribadi penulis)

Sejarah masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat sering kali dikaitkan dengan kota-kota besar, seperti Singkawang dan Pontianak. 

Jauh dari pusat-pusat itu, komunitas Tionghoa juga telah menjadi bagian dari kehidupan berbagai daerah di pedalaman, termasuk Batang Tarang di Kabupaten Sanggau.

Sayangnya, tidak banyak catatan tertulis yang secara khusus membahas sejarah masyarakat Tionghoa di Batang Tarang. 

Karena itu, sejarah lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi sumber penting untuk memahami keberadaan mereka. 

Pasar Batang Tarang dan Awal Kehadiran Masyarakat Tionghoa

Pasar Batang Tarang
Pasar Batang Tarang (Dokumentasi pribadi penulis)

Belum diketahui secara pasti kapan masyarakat Tionghoa pertama kali datang ke Batang Tarang. 

Namun, berbagai penelitian menunjukkan kelompok Hakka atau Khek telah hadir di Kalimantan Barat sejak beberapa abad lalu.

Keberadaan mereka kemudian menyebar ke berbagai wilayah melalui jalur perdagangan, pertambangan, dan permukiman baru. 

Kehadiran kelompok Khek pun tidak hanya ditemukan di wilayah pesisir, tetapi juga menjangkau daerah-daerah pedalaman.

Kabupaten Sanggau yang berada di sepanjang aliran Sungai Kapuas sejak lama menjadi bagian jaringan perdagangan yang menghubungkan berbagai wilayah di Kalimantan Barat. 

Jalur sungai memungkinkan terjadinya perpindahan manusia, barang, dan budaya dari satu daerah ke daerah lainnya. 

Dalam ingatan masyarakat Batang Tarang, keluarga-keluarga Tionghoa telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi setempat.

Mereka terutama terlihat di kawasan pasar yang menjadi pusat aktivitas masyarakat dengan buka toko sembako, pakaian, elektronik, dan jenis usaha jasa lainnya. 

Salah satu kawasan yang masih dikenal hingga sekarang adalah Pasar Hilir atau yang oleh sebagian warga disebut Gang Meleset. 

Di kawasan inilah terdapat sejumlah rumah dan toko milik keluarga Tionghoa yang menjadi bagian dari kehidupan ekonomi Batang Tarang selama beberapa generasi.

Gang Meleset: Jalan menuju ke Pasar Hilir, tempat pemukiman orang Tionghoa di Batang Tarang
Gang Meleset: Jalan menuju ke Pasar Hilir, tempat pemukiman Tionghoa di Batang Tarang (Dokumentasi pribadi penulis)

Pekong, Sekolah Cina, dan Makam Leluhur

Jejak keberadaan masyarakat Tionghoa di Batang Tarang terejawantahkan pula melalui peninggalan budaya yang masih dapat ditemukan hingga sekarang. 

Salah satu yang paling sering disebut masyarakat adalah sebuah pekong tua yang berada di kawasan Pasar Hilir. 

Pekong di Batang Tarang
Pekong di Batang Tarang (Dokumentasi pribadi penulis)

Sampai kini, bangunan tersebut masih dikenal warga setempat dan tetap digunakan oleh sebagian masyarakat untuk bersembahyang. 

Walaupun belum diketahui kapan tepatnya pekong itu dibangun karena keterbatasan sumber, keberadaannya menunjukkan komunitas Tionghoa telah hadir cukup lama di daerah tersebut.

Selain pekong, masyarakat juga masih mengingat keberadaan sebuah sekolah Cina yang pernah berdiri di kawasan pasar. 

Bangunannya kini sudah tidak ada lagi, tetapi jejaknya masih hidup dalam ingatan sebagian warga. 

Dari cerita yang diwariskan dalam keluarga, sekolah tersebut pernah menjadi tempat pendidikan bagi anak-anak Tionghoa di Batang Tarang pada pertengahan abad ke-20.

Peninggal Sekolah Cina
Peninggal sekolah Cina berada di sekitar rumah di seberang sungai (Dokumentasi pribadi penulis)

Jejak lain yang masih dapat ditemukan adalah makam-makam tua bertulisan Cina yang tersebar di beberapa lokasi sekitar Batang Tarang. 

Sebagian makam memiliki bentuk khas yang berbeda dengan makam pada umumnya. 

Tulisan Mandarin masih terlihat pada beberapa batu nisan, menjadi salah satu penanda keberadaan komunitas Tionghoa di daerah ini sejak beberapa generasi yang lalu.

Bagi masyarakat Tionghoa, makam leluhur bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan penghubung dengan generasi sebelumnya melalui tradisi penghormatan yang masih dikenal sampai kini.

Bahasa Khek dan Kehidupan Bersama

Di antara berbagai warisan yang masih tersisa, Bahasa Khek merupakan salah satu yang paling hidup. 

Bahasa ini pernah menjadi bahasa sehari-hari yang digunakan oleh banyak keluarga Tionghoa di Batang Tarang. 

Bahkan sebagian masyarakat non-Tionghoa yang sering berinteraksi dengan mereka juga memahami beberapa kosakata Khek.

Fenomena tersebut sejalan dengan perkembangan Bahasa Khek di Kalimantan Barat yang mengalami pengaruh dari bahasa-bahasa lokal serta bahasa Melayu, yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Bahasa Khek tidak hanya digunakan di Pontianak dan Singkawang, tetapi juga di sejumlah wilayah Sanggau, Sekadau, dan Sintang yang memiliki komunitas Tionghoa cukup lama.

Kehidupan pasar menjadi ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat. Banyak warga Dayak datang ke Batang Tarang untuk menjual karet, sayur-sayuran, buah-buahan, dan hasil kebun lainnya. 

Di tempat yang sama mereka membeli kebutuhan sehari-hari dari toko-toko milik masyarakat Tionghoa. Interaksi yang terus-menerus ini membentuk hubungan sosial yang erat di antara mereka.

Selain bahasa, berbagai tradisi Tionghoa juga masih dikenal masyarakat. 

Perayaan Imlek, pembagian angpao, kue keranjang, sembahyang kubur, dan penghormatan kepada leluhur pernah menjadi bagian yang akrab dalam kehidupan masyarakat Batang Tarang. 

Sebagian warga juga masih mengingat kertas merah bertulisan Cina yang ditempel di pintu rumah-rumah Tionghoa, serta koran Mandarin yang dahulu dibaca oleh generasi tua.

Seiring perubahan zaman, penggunaan Bahasa Khek memang tidak lagi seramai beberapa puluh tahun lalu. Generasi muda kini lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. 

Namun demikian, bahasa, tradisi, dan berbagai peninggalan budaya tersebut tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Tionghoa setempat.

Tugu Bambu Runcing Ikon Batang Tarang
Tugu Bambu Runcing sebagai ikon Batang Tarang (Dokumentasi pribadi penulis)

Mungkin kita tidak akan pernah mengetahui secara pasti kapan orang Tionghoa pertama kali datang ke Batang Tarang. Tapi, jejak mereka masih dapat ditemukan hingga sekarang. 

Pekong tua, cerita tentang sekolah Cina, makam-makam leluhur, Bahasa Khek, dan berbagai tradisi yang masih dikenang masyarakat menjadi bagian dari memori sejarah daerah ini.

Melalui jejak-jejak tersebut, kita dapat melihat sejarah Batang Tarang dibangun oleh banyak kelompok masyarakat yang hidup berdampingan selama puluhan tahun. 

Karena itu, sejarah masyarakat Tionghoa di Batang Tarang bukan hanya sejarah satu komunitas, melainkan bagian dari sejarah Batang Tarang itu sendiri.

Sumber:

Kawan Redaksi

Penulis: Vinsensius
Editor: Tim Redaksi

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!