Kisah Buruh Asbes dan Penyakit yang Tak Pernah Selesai

Kisah Buruh Asbes dan Penyakit yang Tak Pernah Selesai

Asbes
Ilustrasi/Diakronik

Atun dan Kuswoyo divonis terkena asbestosis karena bekerja puluhan tahun sebagai buruh di pabrik produsen kain asbes. Batuk terus menerus, perasaan sesak di bagian dada, hingga penurunan berat badan karena tidak nafsu makan jadi rentetan gejala penyakit yang mereka berdua alami.


Pria paruh baya itu bernama Kuswoyo (49). Diakronik menemuinya di Kecamatan Pabuaran, Cibinong, Jawa Barat, bersama mantan rekan kerjanya, seorang perempuan bernama Tuniyah (63). Tak jauh dari rumah Kuswoyo, siang itu kami bertemu di rumah Atun, sapaan akrab Tuniyah. 

Kuswoyo merupakan mantan buruh pabrik pembuatan kain asbes yang dulu bekerja di PT Tri Graha Sealisindo (PT TGS), salah satu anak perusahaan milik Fajar Benua Group. Pabrik itu berada di tengah pemukiman warga, dekat sekali dengan rumahnya. Kata Kuswoyo, tak sampai satu kilometer dari rumahnya.

Ia bekerja selama 21 tahun, dari 1996 sampai 2017 hingga akhirnya dipindahkerjakan lantaran pabrik mengalami kebangkrutan. Kini, ia bekerja di salah satu anak perusahaan milik Fajar Benua Group yang lain bernama PT Jeil Fajar Indonesia (JFI). Pabrik itu memproduksi produk-produk sealing seperti gasket yang berfungsi sebagai sambungan antar pipa dan blok mesin untuk mencegah kebocoran.

Sedangkan Atun memulai lebih dulu daripada Kuswoyo. Ia memulai bekerja sebagai buruh di PT TGS sejak tahun 1991 sampai 2014. Berbeda dengan Kuswoyo yang dipindahkerjakan, Atun berhenti bekerja dan harus pensiun lebih dini. Alasannya, karena sejak tahun 2012, PT TGS mengalami penurunan pesanan lantaran tidak lagi memakai asbes sebagai bahan produk kain insulasi buatannya.

Mereka berdua bekerja dari Senin sampai Jumat selama delapan jam, sejak pukul 07.00 sampai 15.00 WIB. Pada hari Sabtu, mereka masuk setengah hari sampai pukul 12.00. Tak jarang, mereka juga kerap lembur hingga pukul 15.00. Pada hari raya Idul Fitri dan Natal, saat pesanan sedang banyak-banyaknya, mereka juga harus lembur di hari Minggu.

Selama 21 tahun bekerja, Kuswoyo mengaku sering merangkap banyak bagian dalam satu lini produksi. Mulai dari bagian pencampuran (mixing), penguraian (carding), pemintalan (spinning), pemutaran (twisting), penggulungan (winding), hingga penganyaman (whipping). Kata Kuswoyo, paparan debu serat asbes secara langsung paling banyak diperoleh pada bagian mixing dan carding.

Biasanya, bahan baku asbes dan polyester akan datang dalam bungkusan karung. Karung-karung besar itu akan disobek dan dijatuhkan ke dalam mesin mixing untuk diaduk bersamaan.

Kuswoyo memperagakan gerakan tangan saat mencampurnya. Dengan kedua tangan, ia mengaduk butiran asbes dan polyester ke dalam wadah pencampuran. Hanya bermodalkan tangan telanjang dan masker medis yang tipis, ia terpaksa menghirup deburan serat asbes sembari mencampur bahan-bahan itu.

Setelah bahan berhasil dicampur, di ruang pabrik yang tertutup itu, bahan campuran dipindahkan ke mesin carding. Bagian ini bertujuan untuk mencacah kembali hasil campuran menuju bentuk yang lebih halus serupa tepung. Kedua tahap ini merupakan tempat di mana paparan serat debu asbes yang paling parah dapat terhirup.

“Kan dicampur sama debu, sama polyester kan, terus dimasukin ke mesin carding. Kalo yang paling nyengat itu, pas jaga mesin carding. Itu mah pas (bahan campuran) jatuh itu, hidungnya sakit itu pas ngehirup,” kata Kuswoyo.

Sejak 1996 sampai 2017 bekerja di PT TGS, Kuswoyo mengaku tak pernah mengenakan atau bahkan melihat seseorang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) selain masker kain tipis. Bahkan, bagian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dalam struktur manajemen perusahaan baru ada setelah tahun 2010. 

Sejak saat itu, bukannya ada perubahan pada sistem perlindungan kerja bagi buruh, masker kain masih menjadi satu-satunya pelindung yang digunakan. Satu-satunya perubahan hanya tembok pabrik yang dipenuhi tempelan poster K3. Barangkali, paparan serat asbes memang dapat ditangkal lewat jejeran tempelan itu.

Asbes
PT Tri Graha Sealisindo/Dok. LION Indonesia

“Ohiya, sama poster-poster K3 mulai ada di tembok. Itu ada gambar masker respirator juga,” ujar Kuswoyo, sembari tertawa.

Kata Kuswoyo, hampir seluruh buruh laki-laki di PT TGS harus mampu bekerja di semua bagian lini produksi. Berbeda dengan Atun dan buruh perempuan lainnya, mereka biasanya hanya ada di bagian spinning dan twisting.

Padahal menurut Atun, saat masa awal awal ia bekerja di tahun 1991, ia dan buruh lainnya pernah dilengkapi dengan masker respirator. Namun, lanjut Atun, durasi penggunaan masker itu tak sampai kurun waktu dua tahun. Setelahnya, masker yang disediakan hanya masker berbahan kain tipis, sedangkan sarung tangan hanya dikhususkan pada bagian spinning.

“Sewaktu awal-awal dulu itu pakainya Koken (merek masker respirator), masker yang biasanya dipakai tukang las gitu. Cuma beberapa tahun, paling kayaknya nggak sampai dua tahun karena sudah rusak. Kan itu mahal,” ujar Atun.

Asbes
Atun (jongkok) saat masih bekerja di PT Tri Graha Sealisindo/Dok. LION Indonesia

Masih pada tahun yang sama, Atun bersama lima rekannya pernah dikirim ke Korea Selatan untuk menjalani sebuah pelatihan di salah satu pabrik pengolahan asbes yang masih satu grup dengan PT TGS. Kata Atun, sistem perlindungan bagi buruhnya sangat berbeda jauh.

“Kalau di sana, APD-nya lengkap. Filter masker (respirator) itu rutin diganti seminggu sekali. Kalau di sini (PT TGS) tidak, ya paling-paling sebulan sekali,” ujar Atun.

Selama menjalani pelatihan di Korea Selatan, Atun bersama rekannya diwajibkan untuk mandi seusai bekerja. Hal ini untuk menjaga kebersihan dari bahan berbahaya yang menempel pada tubuh.  

“Dikasih sabun dan sampo. Obat juga dikasih tiap minggu, meskipun tidak sakit. Kalau selesai bekerja, harus mandi di situ,” jelasnya. 

Atun melanjutkan, seragam kerja pun tidak boleh dibawa pulang ke rumah untuk menghindari tercampurnya debu asbes yang menempel di baju dengan pakaian pribadi milik anggota keluarga lainnya. 

Selama 23 tahun bekerja di PT TGS, Atun sering mengeluhkan batuk dan mual yang cukup serius. Bukan tidak mungkin hal ini terjadi akibat interaksi langsungnya dengan paparan serat debu asbes di tempat kerja. Untuk itu, pada 2012, ia mulai melakukan pemeriksaan kesehatan di RS Sentra Medika, Cibinong.

Hal yang mirip juga dirasakan Kuswoyo. Ia mengeluhkan batuk dan rasa sesak di dada yang tiba-tiba bisa kambuh begitu saja. Kuswoyo akhirnya memulai pemeriksaan pada tahun 2017, dari RS Bina Husada, Cibinong, sampai ke RS Persahabatan, Jakarta Timur.

Saat itu, ia ditemani LSM yang berfokus pada isu K3 di tempat kerja, Local Initiative for Occupational Safety and Health Network (LION) untuk melakukan Medical Check Up (MCU) di RS Bina Husada, Cibinong. Hasil rontgen memperlihatkan kecurigaan penyakit paru yang diakibatkan paparan asbes.

Pada pemeriksaan itu, Kuswoyo belum divonis terkena salah satu jenis penyakit dalam kategori Asbestos Related Disease (ARD). Baru setahun setelahnya, pada 2018, ia melakukan pemeriksaan lanjutan di RS Siloam, Bogor. Pemeriksaan itu dilakukan untuk membuktikan kecurigaan yang ditemukan saat pemeriksaan di RS Bina Husada.

Di RS Siloam, Kuswoyo menjalani pemeriksaan darah hingga rontgen. Setelahnya, atas rekomendasi pemeriksaan rumah sakit, Kuswoyo diliburkan kerja. Ia disuruh dokter untuk beristirahat selama 10 hari sembari mengonsumsi obat hisap yang diberikan. Obat itu berfungsi untuk mengidentifikasi zat berbahaya yang mempengaruhi laju penurunan fungsi parunya.

“Jadi setelah saya dikasih obat, 10 hari itu saya libur kerja, disuruh istirahat. Setiap hari saya minum obat yang nyedot itu selama 10 hari,” tutur Kuswoyo.

Benar saja, ditemukan kaitan antara paparan asbes dengan gejala sakit yang dialami Kuswoyo. Pada tahun yang sama, Ade Dwi Lestari, dokter K3 di tempat kerjanya, menyarankan Kuswoyo agar melakukan pemeriksaan di RS Persahabatan, Jakarta Timur. Hasil pemeriksaannya pun sama. Kuswoyo juga divonis terkena asbestosis.

“Kalo nggak salah dari pas di Siloam saya divonis sakit karena asbes gitu. Pas itu saya dikasih cairan sebelum di-scan, kaya buat ngecek penyakitnya tuh apa. Lupa tapi saya,” tutur Kuswoyo.


Sesak, Tertusuk, dan Sempat Pingsan

Kuswoyo tidak ingat betul kapan pertama kali ia merasakan sesak di dadanya. Yang jelas, sejak sebelum pemeriksaan yang ia lakukan pada tahun 2017, ia mengaku telah merasakan sesak sejak lama. Biasanya, rasa sesak ini dipicu saat cuaca hujan, kala hawa dingin terasa di udara. 

“Kalo hawanya dingin aja. Kalo nggak hawa dingin, enggak,” kata Kuswoyo.

Tepat 25 tahun sejak pertama kali bekerja di PT TGS pada 1996, Kuswoyo mengeluhkan rasa sakit di dada yang datang tiba-tiba. Kejadian itu berlangsung pada tahun 2021. Cerita itu bermula saat Kuswoyo mengajukan izin kepada manajemen perusahaan di tempat kerjanya sekarang untuk melakukan pembayaran pajak motor di daerah Citeureup.

Proses pembayaran itu berjalan lancar. Sampai saat perjalanan pulang mengendarai sepeda motor, ia tiba-tiba mengalami rasa sakit di dadanya.

“Sesak kan, telepon dokter pabrik. Itu saya habis bayar pajak motor, pulang dari kantor pajak naik motor, terasa sesak tuh. Nyesek di situ, terus akhirnya berhenti tuh,” ujar Kuswoyo, sambil mengingat-ingat kembali kejadian itu. 

Ia sempat berhenti di tengah jalan, tepat di depan sebuah rumah sakit. Awalnya, ia berniat masuk karena sudah merasa tak kuat dengan rasa sakit yang dialaminya.

Akhirnya ia memaksa tubuhnya terus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia beristirahat, tidak kembali ke pabrik di tengah izin jam kerja yang sedang ia lakukan. Istrinya sempat bertanya, “Kenapa pulang?”, kata Kuswoyo, dadanya sakit, sesak.

Asbes
Kuswoyo/Dok. LION Indonesia

Semakin lama rasa sakitnya kian parah. Akhirnya, ia menelpon Ade Dwi Lestari, seorang dokter K3 di tempat kerjanya. Sontak, Ade menyuruh Kuswoyo untuk segera kembali ke pabrik dan menjalani pemeriksaan medis. 

Tak lama setelah diperiksa di klinik pabrik, Kuswoyo langsung dipindahkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit setempat. Rasa sakit yang menusuk dadanya sangat luar biasa. Untuk meredakan rasa sakitnya, Kuswoyo diberikan pil kecil berwarna putih yang ia telan bersamaan dengan air putih. 

Setelah menelan pil, Kuswoyo mengaku tak sadarkan diri. Ia baru sadar kalau dirinya sempat pingsan setelah mendengar suara seorang pasien di sampingnya. Sebelum pingsan, Kuswoyo sempat berpikir kalau hari itu adalah saat terakhirnya di dunia.

Satu tahun berikutnya, pada 2022, ia kembali mengalami rasa sesak seperti ditusuk-tusuk secara  tiba-tiba. Kejadian itu terjadi di rumahnya. Kata Kuswoyo, beruntung saat itu adalah hari libur kerja. 

Keringat dingin bercucuran selama 30 menit ia menahan rasa tertusuk di bagian dada. Saat itu ia putuskan untuk berdiam diri saja di rumah, tanpa melapor kepada dokter seperti tahun sebelumnya ataupun pergi ke rumah sakit setempat.

Sampai saat ini, Kuswoyo mengaku sering merasakan sesak saat bekerja. Padahal, suhu ruangan di tempat kerjanya tidak dingin. Rasa sesak itu mungkin saja muncul karena kelelahan bekerja dan kondisi paru yang kian memburuk. Kuswoyo mengakalinya dengan beristirahat sekitar lima menit duduk di kursi.

“Kalo saya pernah ngalamin sesak di pabrik itu saya duduk. Pas (sekarang bekerja) di PT JFI. Kalau lagi sesak, saya duduk aja. Saya sudah siap, kalo ditegur atasan saya sudah siap,” ujar Kuswoyo.


Berjuang Melawan Gejala Sakit

Atun bukannya tidak mau makan atau sayang uang. Batuk terus menerus, badan lemas, hingga berefek pada perasaan tidak enak makan, mulai ia alami menjelang 2012. 

“Kamu tuh kalau makan yang bener. Kalau pengen apa, ya beli sih, jangan sayang-sayang,” ujar Atun, menirukan nasihat rekan kerjanya.

Saat itu, Atun sudah bekerja kurang lebih 21 tahun lamanya. Sebetulnya, ia telah melakukan pengecekan pernapasan dua tahun sebelumnya, pada 2010, di RS Cipto Mangunkusuno, Jakarta Pusat. Saat itu, dokter mengatakan Atun mengalami gejala yang berkaitan dengan  penyakit pernapasan dengan sebab yang belum diketahui.

Namun, Atun menolak percaya dengan ucapan dokter. Ia merasa tubuhnya baik-baik saja, masih dapat digunakan untuk bekerja setiap harinya di PT TGS. Tetapi, kian lama, kondisi pernapasannya semakin memburuk sampai menjelang tahun 2012. 

Batuknya semakin parah, perasaan tidak enak makan berbuah menjadi rasa mual saat menelan makanan. Akhirnya, asupan makan ke dalam tubuhnya berkurang. Badannya semakin lemas, semakin kurus.

Saat itu ia memutuskan untuk berobat ke mantri setempat. Sang mantri tidak bisa mendeteksi penyakit Atun. Akhirnya, ia disuruh melakukan pengecekan medis ke rumah sakit. Ia dirujuk ke RS Sentra Medika, Cibinong. Di sana, ia positif terkena penyakit paru.

Kata Atun, saat itu dokter belum bisa menemukan jenis penyakit yang dideritanya. Dokter hanya bilang, ia terkena penyakit paru. Kemudian, diberi  obat untuk dikonsumsi setiap harinya selama 9 bulan penuh.

Asbes
Tuniyah (ke-2 dari kanan)/Dok. LION Indonesia

“Kalau lupa sehari (minum obat), harus mengulang dari awal. Kalau di sini (RSCM Cibinong), dokternya belum tau spesifik penyakit parunya itu apa,” ujar Atun.

Setelah 9 bulan menjalani pengobatan, kesehatan tubuhnya mulai kembali pulih seperti sediakala. Empat tahun setelahnya pada 2016, sama seperti Kuswoyo, Atun bersama LION pergi ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), Jakarta Selatan, untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.

Di sana, Atun menjalani MCU untuk mencari tahu jenis penyakit paru yang sebenarnya ia alami. Saat itu, hasil rontgennya dibawa oleh LION dan beberapa dokter ke Jepang dan Korea Selatan. Hal ini dilakukan karena keterbatasan fasilitas dan pengetahuan tenaga kesehatan yang mengerti seluk beluk pengecekan ARD. 

Dari hasil rontgen yang dibawa ke kedua negara itu, kecurigaan awal akhirnya berhasil dibuktikan. Sebagai seorang buruh pabrik asbes yang telah bekerja puluhan tahun tanpa APD serta protokol K3 yang baik, paparan asbes terbukti jadi faktor utama penyebab gejala sakit yang Atun alami.

Setelahnya, beberapa kali Atun menghadiri seminar yang menjelaskan bahaya asbes terhadap tubuh manusia di Universitas Binawan, Jakarta Timur. Dari sana, Atun bertemu dengan Anna Suraya, salah satu dokter toksikologi paru yang ahli mendeteksi ARD di Indonesia.

Sosok Anna memiliki peran tersendiri bagi Atun. Beberapa kali, Anna tampil jadi media penghubung pada dokter yang akan memeriksa Atun.

Contoh kasusnya terjadi pada 2021. Saat itu, penyakitnya kembali kambuh cukup parah. Batuk-batuk dan rasa mual kembali menyerangnya. Berat badannya kembali turun, tubuhnya kembali melemas.

Rasa mual yang dirasakan membuat segala makanan yang masuk ke tubuhnya dimuntahkan. Bahkan, mencium aroma makanan seenak apapun, Atun akan tetap merasa mual.

“Dari kamar ke kamar mandi saja merasa lemas,” ujar Atun.

Atun merasa tubuhnya perlu perawatan intensif. Seperti biasa, ia kembali ke RS Sentra Medika Cibinong untuk menjalani pemeriksaan. Ia diperiksa oleh seorang dokter laki-laki bernama Hermawan.

Saat pemeriksaan, Hermawan sempat kebingungan dengan penyakit yang diderita Atun. Wajar, karena memang tak semua dokter mengerti apa itu ARD. Baru lah saat itu, Atun menyarankannya menelepon Anna Suraya untuk menjelaskan kondisi penyakitnya.

Asbes
Dokter Anna Suraya dihadirkan sebagai saksi ahli dari pihak tergugat dalam sidang lanjutan perkara dugaan perbuatan melawan hukum yang diajukan FICMA di PN Jakpus, Senin (22/9/2025)/Diakronik

Anna menjelaskan kalau Atun menderita asbestosis, penyakit yang dihasilkan dari paparan asbes yang ia terima saat bekerja puluhan tahun di pabrik kain asbes. Setelah dijelaskan, Hermawan langsung mengerti. Lalu seperti biasanya, Atun diberikan obat untuk meredakan gejala sakit yang saat itu ia alami.

“Sedangkan penyakit paru karena asbes itu belum ada obatnya, hanya obat yang sifatnya untuk pencegahan,” ujar Atun. 

Atun terakhir melakukan kontrol atas penyakitnya pada 2023, ia kembali menjalani pemeriksaan medis didampingi oleh LION. Hasil rontgennya menunjukkan tingkat penebalan selaput pada paru-parunya tampak semakin tinggi.

Ia menyadari penyakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan. Obat yang diberikan hanya bersifat meredakan. Saat ia tahu selaput pada paru-parunya semakin tebal, secara spontan ia bertanya dengan salah satu orang yang ikut mendampinginya.


Kompensasi PAK dan Hidup Bersama Penyakit

Bagi Atun dan Kuswoyo, terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja (PAK) jadi momen tersendiri dalam memperjuangkan haknya, khususnya pada bagian klasifikasi jenis penyakit saluran pernapasan dan penyakit kanker akibat kerja.

Dalam aturan itu, penyakit akibat asbes akhirnya diakui sebagai jenis PAK. Hal ini jadi perjalanan yang panjang bagi dua buruh yang menjadi korban eksploitasi perusahaan itu agar penyakit yang dideritanya bisa diakui oleh negara. 

Proses terbitnya aturan itu tidak terwujud karena belas kasih negara. Di baliknya, ada proses advokasi yang dikerjakan oleh para korban, LION, dan para dokter yang peduli terhadap kesehatan buruh di tempat kerja.

Anna Suraya mengaku, ia dan tim advokasi rutin bertemu dengan departemen kesehatan di Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Bogor hingga Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) untuk membahas masalah ini sejak tahun 2017. Pihak Kemnaker pun kebingungan dengan analisis ilmiah yang diserahkan Anna dan para tim advokasi saat itu.

“2016 saya menemukan dari 20 pekerja ditemukan 10 (penyakit asbestosis). Waktu itu pembuktian ini kami ajukan ke Kemenaker. Lalu mereka jawab, ‘wah ini penyakit baru’,” ujar Anna saat ditemui Diakronik di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (22/9/2025).

Sebelum aturan itu terbit, Kuswoyo pernah memperjuangkan haknya atas kesehatan pada pertengahan 2018. Ia berusaha mengklaim kompensasi atas PAK yang menimpa dirinya. Tetapi, saat itu kompensasinya harus ditunda karena belum adanya aturan yang dapat mengakomodir PAK akibat asbes. 

Tepat dua tahun setelahnya, pada 8 Mei 2020, akhirnya kompensasi PAK diberikan kepada Kuswoyo. Berbeda dengan Atun yang telah lebih dahulu diberikan kompensasi pada 2019. 

Kalau saja aturan itu tak pernah ada, barangkali Atun dan Kuswoyo tak akan pernah mendapatkan kompensasi atas pengabaian protokol K3 yang dilakukan perusahaan tempatnya bekerja. Walau, besaran kompensasi memang tak akan pernah setara dengan jenis penyakit yang tidak akan bisa disembuhkan. 

Asbes
Buruh PT Tri Graha Sealisindo/Dok. LION Indonesia

Kini, Atun, Kuswoyo, dan para korban lain masih menjalani hidupnya seperti biasa. Kuswoyo bekerja di PT JFI, pabrik gasket yang juga milik Fajar Benua Group. Sedangkan Atun harus berhenti bekerja karena umur yang tak lagi muda dan kondisi penyakit yang mempengaruhi kesehatan tubuhnya.

Sekali-sekali, Atun mengerjakan pesanan pengecilan ukuran baju atau celana dengan alat jahit sederhana di rumahnya. Kata Atun, lumayan untuk menambah pemasukan rumah tangga. Sedang Kuswoyo, nampak bugar, seperti orang yang tidak mengidap penyakit apapun.

Kata Kuswoyo, penyakit tidak boleh terlalu dipikirkan. Kekuatan pikiran juga menjadi salah satu alat pertahanan utama kala menghadapi penyakit yang dideritanya. Kekuatan itu berasal dari kelahiran anak keduanya, tepat ketika Kuswoyo pertama kali menjalani pemeriksaan pertamanya.  

“Di samping itu ada penyemangatnya, dari anak lah. Kan anak baru lahir di tahun 2017 juga. Jadi ada penyemangatnya di situ,” tutur Kuswoyo, sembari tertawa.


Tulisan ini merupakan bagian ketiga dalam serial liputan mendalam berjudul Ancaman Endemi Di Balik Bayang-Bayang Asbestos. Serial ini mengurai berbagai permasalahan terkait bahaya material asbes dan menghubungkannya pada kemungkinan endemi dari penyakit akibat asbes atau Asbestos Related Disease (ARD) di Indonesia.

Kawan Redaksi

Editor: Hastomo Dwi Putra

ARTIKEL LAINNYA

Share

Temukan Artikel Anda!