Mendedah Indonesia dari Tapal Perbatasan

Mendedah Indonesia dari Tapal Perbatasan

Perbatasan Indonesia-Malaysia
Salah satu patok perbatasan negara antara Indonesia dan Malaysia yang terletak di Pulai Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Dok. Muhammad Ad'har Nasir)
Keberagaman dan kompleksitas daerah perbatasan tidak bisa terus-menerus dilihat dari perspektif negara sentris.

“Saya Muhammad Ad’har Nasir, baru lulus SMA. Lahir dan tumbuh besar di Pulau Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara,” begitu saya memperkenalkan diri pada awal masa kuliah.

Hari itu adalah suatu pagi pada Agustus 2017. Bertempat di ruang kelas salah satu kampus di Jakarta, tempat saya berkuliah.

Satu per satu mahasiswa baru memperkenalkan diri, termasuk saya. Namun, raut wajah sedikit kebingungan di antara teman-teman menyeruak saat saya menyebut daerah asal.

Bukan kali pertama saya menerima respons serupa. Pernah sewaktu SMA, saya mengikuti forum pelatihan konseling remaja di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Salah satu peserta dari kota tersebut bertanya, “Pulau Nunukan itu apa?” Saya iseng menjawab, “Pohon!” Mereka tertawa. Saya tidak keberatan.

Sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Karena sepengetahuan saya, penamaan “Nunukan” menurut oral history atau sejarah lokal diambil dari nama pohon Nunuk.

Nunuk berasal dari bahasa Suku Tidung. Ini sejenis pohon beringin yang dulunya banyak tumbuh di Pulau Nunukan.

Kembali ke ruang kelas. Guna memecah kebingungan, saya menambahkan sedikit informasi.

“Pulau Nunukan berada di Kalimantan Utara, berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. Posisinya sangat dekat! Terpeleset sedikit mungkin sudah sampai Malaysia!”

Mereka mengangguk memahami, sebagian sambil tertawa. Saya lega karena tak perlu repot-repot buka globe, atlas, Google Maps, atau risalah sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Beberapa bulan kemudian di acara stand up comedy kampus, saya lontarkan joke yang masih berkaitan dengan hal tersebut.

“Di Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, ada rumah yang bagian depannya di wilayah Indonesia, bagian dapur dan toiletnya di wilayah Malaysia. Bukannya mau sombong. Bayangkan, kami ke luar negeri terkadang hanya buang air kecil saja!” disambut gelak tawa audiens.

Tidak ada rasa keberatan memberi sedikit informasi tentang Pulau Nunukan. Sudah menjadi hal lumrah, meski awalnya saya bingung mengapa harus menambahkan informasi lagi tentang pulau tersebut.

Kebingungan itu membuat saya bertanya-tanya, apakah orang Indonesia lainnya tidak belajar geografi sewaktu sekolah? Atau tidak melihatnya di peta?

Mengapa jika orang dari Jakarta atau kota besar lainnya, langsung mudah dikenali tanpa perlu keterangan apa pun di belakangnya. Misal, “Jakarta itu lho, ada Monas-nya!”

Saya mencoba memahami Pulau Nunukan bukan kota besar layaknya Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Melainkan sebuah daerah yang berada jauh di utara Indonesia, tepatnya di ‘kepala’ Pulau Kalimantan!

Dari Tapal Perbataan

Ketimbang Pulau Jawa, kami lebih dekat dengan Sabah, Malaysia Timur, dan Filipina Selatan. Kehidupan di tempat kami tidak ada di buku-buku pelajaran sekolah.

Jarang pula diliput media nasional, kecuali berita-berita tentang penyelundupan manusia atau narkoba, sengketa dengan Malaysia, perdagangan orang, serta perlintasan atau deportasi buruh migran tanpa dokumen.

Memperkenalkan Pulau Nunukan sebagai apa, acapkali menjadi kebingungan bagi saya ketika bertemu orang-orang dari luar Kalimantan Utara. Sebab, ini daerah bukan penghasil batik, bukan asal kelahiran makanan gudeg, bukan juga Paris van Borneo.

Kalau dipikir-pikir, Indonesia sangatlah luas dengan segala keragamannya. Tentu, kita sulit dan untuk apa menghafal semua nama daerah di seluruh pelosok negeri?

Toh rasa saling memiliki dan berbagi identitas bersama sebagai nation-states, tidak selalu otomatis berbarengan dengan pengetahuan tentang satu sama lain.

Proyek imagined communities rasanya punya keterbatasan? Atau memang sedari awal sudah seperti itu? Entahlah.

Lama kelamaan, akhirnya saya terbiasa menyertakan kata “perbatasan” dan “Malaysia” setelah menyebut Pulau Nunukan kala memperkenalkan diri.

Terkadang, saya juga membawakan oleh-oleh untuk teman-teman di kampus berupa produk Malaysia yang mudah ditemui di Nunukan dan sekitarnya.

Buah tangannya beragam, seperti mie instan maggi kari, milo Malaysia, camilan berbahan dasar cokelat, dan beragam produk lainnya.

Menyertakan komoditas Malaysia saat merantau menjadi kebiasaan saya, keluarga, dan beberapa teman sesama penduduk Nunukan. Barangkali sudah jadi semacam ciri, keunikan, dan mungkin saja identitas kolektif.

Tak jarang teman-teman dan dosen di tempat perantauan menanyakan lebih jauh tentang bagaimana kehidupan di perbatasan. Saya bersedia menjawabnya panjang lebar.

Soalnya, selain senang cerita, saya bisa sekalian buka jasa titip. Misal, sepatu bekas murah merek beken asal Jepang dan Korea Selatan yang masuk lewat Sabah, yang kemudian bertebaran di kampung saya.

Tapi, ada hal lebih penting dari semua itu, yakni suara-suara dari bawah, dari perbatasan, yang saya dorong untuk muncul ke permukaan. Ini penting, karena banyak hal tentang kehidupan di perbatasan yang jarang diketahui banyak orang.

Selama ini narasi perbatasan didominasi oleh perspektif negara. Sebagai contoh, praktik mobilitas transnasional ruang antarnegara—tapi tidak melalui jalur dan prosedur hukum negara.

Negara dan banyak media massa hobi menyebutnya sebagai jalur ‘tikus’ dan ‘ilegal’, atau sebagai kegiatan bolak-balik Indonesia-Malaysia lewat jalur ‘tikus/ilegal’.

Berbeda dengan itu, kami mengenal dan menyebutnya sebagai jalur samping/lewat samping, atau sebagai kegiatan ke sebelah/pergi ke sebelah lewat samping.

Gamblang sudah perbedaannya. Negara mengotak-ngotakkan, sedang perspektif lokal tak hanya dekat secara jarak, tapi menggambarkan hubungan sosial erat masyarakatnya.

Ini menjadi bernas soal bayangan tentang Malaysia bukan sebagai sesuatu yang lain (the others), bukan pula tentang kami versus mereka.

Dari terminologinya, bagaimana mungkin mendefinisikan (membatasi) perbatasan itu sendiri? Yang terasa jelas, perbatasan kompleks dan beragam.

Perbatasan menghasilkan pemisahan, tapi secara bersamaan terjadi konektivitas lewat interaksi, seperti ekonomi, gagasan, sosial, budaya, dan hubungan kekerabatan.

Sepanjang prosesnya, pun melibatkan berbagai dinamika, kontestasi, konflik, dan/atau negosiasi antaragensi maupun institusi.

Dalam praktiknya, apa yang disebut perbatasan ada kalanya mudah dilintasi lewat samping; terkadang sulit.

Ada kelompok sosial tertentu mudah melintas, seperti warga setempat yang sedang berlibur atau silaturahmi kekerabatan. Ada juga yang sulit namun selalu ada jalan, seperti dialami buruh migran tanpa dokumen.

Perbatasan yang dibayangkan dan diketahui selama ini sebagai sesuatu yang tetap—kadung berkerak di kepala banyak orang—lewat penggambaran di permukaan peta sejak era kolonial hingga kemerdekaan, tidak sesederhana itu.

Jika kita menyelami lebih jauh di lapangan, perbatasan—sebagaimana di banyak tempat—sesungguhnya cair, kompleks, dan beragam.

Kami adalah Subjek

Oleh karena itu, bagi saya, keberagaman dan kompleksitas daerah perbatasan tidak bisa terus-menerus dilihat dari perspektif negara sentris.

Dari bawah, perbatasan selalu ditantang dan dikangkangi, tidaklah sepenuhnya bisa membatasi, bahkan sejak awal pembentukannya yang secara sewenang-wenang oleh kolonial kapitalis untuk tujuan monopoli dan eksploitasi.

Syahdan, setelah lulus kuliah dan bekerja di Jakarta selama satu tahun, pada 2023, saya memutuskan pulang ke kampung halaman.

Berbagai pertanyaan dari pertemuan dengan banyak orang saat merantau dahulu, dan masih kerap dilayangkan hingga sekarang, sangat membantu saya dalam proses mengenali dan merenungkan ulang tentang perbatasan secara luas dan mendalam.

Memang, pengalaman bukan hanya mengalaminya sejak lahir hingga tumbuh dewasa, tapi juga memikirkannya secara kritis terus-menerus, hingga membuka kesempatan menyajikan narasi dan argumentasi alternatif dari bawah:

“Kami tidak melintasi perbatasan, perbatasan yang melintasi kami!”

Kata Kunci:

Kawan Redaksi

Editor: Akbar Ridwan

ARTIKEL TERKAIT

Share

Temukan Artikel Anda!