Pada Desember 2005, puluhan agen federal Amerika Serikat menggelar operasi penyergapan serentak di berbagai negara bagian. Mereka tidak menarget sel jaringan bom, kartel narkoba, atau perampok, melainkan sekelompok anak muda yang membakar gudang kayu dan pembibitan pohon poplar1 hasil dari rekayasa genetik di Oregon, Amerika Serikat.
Sebelumnya, kelompok pemuda tersebut merupakan para pegiat protes dan aktivis lingkungan yang sering menyerukan aksi damai dalam menjaga hutan tua, lantaran banyak ditebang oleh penebang liar dan perusahaan resmi. FBI menyebut kelompok tersebut sebagai Earth Liberation Front (ELF).
Karena jejaknya melakukan blokade ke gudang dan berujung pada pembakaran, FBI kemudian menjadikan keberadaan mereka sebagai ancaman teroris atau yang kemudian disebut sebagai Eco-Terrorist. FBI menganggap ELF sebagai teroris domestik; sebuah organisasi yang lebih berbahaya dibandingkan kelompok Neo-Nazi dan milisi supremasi kulit putih.
Potongan cerita di atas kemudian direkonstruksi menjadi film dokumenter oleh sutradara Marshall Curry dalam If a Tree Falls: A Story of the Earth Liberation Front (2011). Film dokumenter tersebut mendapatkan nominasi Oscar dan menjadi salah satu potret paling jujur tentang bagaimana negara mendefinisikan siapa yang sebenarnya layak disebut ‘teroris’ dan siapa yang cukup disebut ‘vandal’.
Film ini penting ditonton ulang hari ini, ketika krisis iklim dan kerusakan lingkungan terjadi akibat aktivitas korporasi, sementara ruang bagi perlawanan lingkungan justru terus dipersempit lewat bahasa kriminalisasi dan sekuritisasi.
Tulisan ini mencoba membaca ulang If a Tree Falls sebagai pembelajaran tentang radikalisasi dan represi, sekaligus membongkar arsitektur stigma Eco-Terrorist itu sendiri dengan pisau bedah dari tradisi pemikiran ekologi-politik kritis ekologi sosial Murray Bookchin.
Dari Kelas Buruh, Pejuang Lingkungan, hingga Stigma ‘Eco-Terrorist’
Film ini berpusat pada Daniel McGowan, pemuda kelas buruh asal Queens, New York, yang pada akhir 1990-an pindah ke Pacific Northwest dan terlibat dalam gerakan penyelamatan hutan tua. Sang sutradara membangun narasi ketika McGowan menjalani tahanan rumah sambil menunggu vonis yang bisa membuatnya dipenjara seumur hidup.
Selain itu, film ini juga menguraikan dengan baik bagaimana perubahan subjek McGowan, dari seorang aktivis lingkungan dengan pendekatan anti-kekerasan menjadi pejuang militan ELF, dengan taktik protes aksi langsung, seperti pembakaran dua fasilitas kayu senilai jutaan dolar yang terjadi pada tahun 2001.2
Curry mewawancarai McGowan dan mantan para pejuang di ELF dengan menghadirkan jaksa penuntut, detektif yang mengejar mereka selama bertahun-tahun, hingga pemilik perusahaan kayu yang pabriknya dibakar. Sebuah tinjauan di New York Times menyebut film ini seimbang secara cermat dalam mengurai argumennya, sehingga menempatkannya di antara dokumenter terbaik tahun itu.3
Situasi dramatik datang ketika aksi protes damai berulang kali dihadapkan dengan kekerasan aparat dan diabaikan media. Kondisi ini akhirnya mendorong sebagian pejuang lingkungan tiba pada satu kesimpulan: bahwa hanya dengan aksi sabotase properti yang mampu menarik simpati dan menghentikan proses produksi industri kayu pelaku pembabatan hutan tua yang dilindungi.4
Film ini juga cukup jujur ketika menunjukkan keretakan di dalam tubuh ELF itu sendiri—termasuk kegagalan taktik dan penyesalan personal setelah salah satu aksi pembakaran nyaris membahayakan nyawa seseorang, momen yang mendorong McGowan sendiri mundur dari kelompok itu.
Titik paling krisis dari film ini bukan pada adegan aksi, melainkan sidang vonis. Dalam sidang ini, McGowan bersama sembilan terdakwa lain dalam “Backfire Operation” dijatuhi hukuman sebagai bentuk peningkatan kejahatan terorisme (terrorism enhancement5). Meskipun tidak terbukti ada satu pun korban jiwa dalam seluruh aksi ELF yang didakwakan, McGowan tetap dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara dan status ‘teroris domestik’ permanen.6
National Lawyers Guild (NLG) paralegal progresif Amerika Serikat menyebut bahwa penyematan label dan stigma terorisme kepada McGowan sebagai tindakan yang berlebihan dan itu tidak perlu, terlebih hanya untuk membungkam ekspresi politik para pejuang keadilan lingkungan.
Stigma ‘Eco-Terrorist’ kepada Pejuang Lingkungan
Hal yang membuat film ini relevan untuk dipelajari bukan hanya sekadar kisah personal McGowan, melainkan pertanyaan struktural yang ia ajukan: mengapa pembakaran gudang kosong tanpa korban jiwa dihukum lebih berat dan kemudian diberikan label yang lebih menakutkan ketimbang kejahatan kekerasan konvensional?
Sejarawan yang menelusuri kelahiran istilah “Eco-Terrorism” mencatat bahwa definisi resmi FBI sendiri sesungguhnya kabur. Biro itu gagal merumuskan secara jelas apa yang dimaksud dengan tindakan kekerasan dalam konteks ini7, sehingga penafsirannya diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum dan pengadilan.
Penelusuran investigatif The Intercept atas 70 kasus penuntutan federal terhadap aktivis lingkungan dan hak binatang menemukan fakta yang mengejutkan bahwa sekitar 52 dari 70 kasus itu sama sekali tidak didakwa di bawah undang-undang antiterorisme, namun para terdakwanya berulang kali disebut “teroris” dalam pernyataan publik Departemen Kehakiman.8 Label itu, dengan kata lain, bekerja lebih sebagai instrumen wacana saja ketimbang kategori penegakkan hukum yang presisi.
Dalam buku Murray Bookchin berjudul “The Ecology of Freedom: The Emergence and Dissolution of Hierarchy”, istilah “Eco-Terrorism” pertama kali dipopulerkan bukan oleh lembaga keamanan negara, melainkan oleh Ron Arnold, seorang aktivis anti-lingkungan yang berafiliasi dengan gerakan Wise Use—koalisi lobi industri kayu, tambang, dan minyak yang menentang regulasi lingkungan.
Keterlibatan kelompok industri dalam mempopulerkan label ini terjadi tak lama setelah ELF dan Animal Liberation Front terbentuk pada awal 1980-an. Istilah yang lahir sebagai retorika politik itu kemudian diberi muatan konsekuensi hukum, sosial, dan moral yang substantif.
Dengan kata lain, sebelum menjadi kategori keamanan negara, istilah “Eco-Terrorism” lebih dulu menjadi senjata framing korporasi kepada masyarakat sipil yang menolak apropriasi sumber daya alam dan lingkungan oleh kelompok industri.
Mungkin, jika kita ingin melakukan refleksi yang sangat layak, seharusnya pelabelan Eco-Terrorist lebih tepat disematkan kepada para kelompok industri yang merampok sumber daya alam hanya untuk keuntungan ekonomi mereka tanpa memperhatikan keberlanjutan ekosistem lingkungan dan masyarakat lokal.
Ketika Pejuang Keadilan Lingkungan Menjadi Ancaman Teroris dan Kriminalisasi
Persoalan yang diangkat If a Tree Falls jauh dari usang. Justru sebaliknya, pola sematan ancaman teroris dan kriminalisasi pembela lingkungan kini berlangsung dalam skala yang jauh lebih mengerikan. Bahkan, gejala ini terjadi juga di berbagai belahan dunia.
Laporan tahunan Global Witness bertajuk Roots of Resistance mencatat sedikitnya 146 pembela lahan dan lingkungan terbunuh atau dihilangkan secara paksa sepanjang tahun 2024. Sejak pendokumentasian dimulai angka kasus kematian pembela lingkungan terus meningkat. Sepanjang tahun 2012-2024 jumlah kasus kematian telah mencapai 2.253 orang. Rata-rata tiga orang terbunuh atau dihilangkan setiap minggu.9
Lebih detail, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar 82 persen kasus terjadi di Amerika Latin, dan daerah Kolombia menempati posisi teratas sebagai negara paling mematikan selama tiga tahun berturut-turut. Dari sisi korban, masyarakat adat menyumbang hampir sepertiga dari seluruh serangan mematikan, padahal populasi mereka hanya sekitar 6 persen dari populasi global.
Di Indonesia sendiri, dalam laporan yang sama, tercatat adanya lima kasus pembunuhan pembela lingkungan pada 2024.
Data ini menegaskan sebuah paradoks yang juga menjadi inti argumen If a Tree Falls, bahwa kekerasan struktural terhadap pembela lingkungan terus meningkat, sedangkan aparatus hukum negara justru lebih sibuk memburu dan melabeli aktivis sebagai ancaman keamanan ketimbang melindungi mereka. Global Witness bahkan mencatat tren yang mengkhawatirkan tentang weaponization of law, bahwa hukum menjadi senjata untuk membungkam para pejuang keadilan lingkungan.
Ada pola yang sama, ketika fokus yang semula berakar pada kerusakan ekologis yang diciptakan oleh industri dialihkan kepada perlawanan yang ditimbulkannya. Logika peralihan ini persis diperlihatkan dalam kasus McGowan. Negara tidak menaruh perhatian pada pembalakan hutan tua atau rekayasa genetika pohon yang diadili sebagai kejahatan terhadap masa depan ekologis, melainkan orang-orang yang menentangnya.
Di Indonesia, nama Salim Kancil dan Budi Pego dikenal sebagai contoh pejuang lingkungan hidup yang berujung pada penghilangan nyawa dan kriminalisasi hukum.
Sedikit cerita soal Salim Kancil, ia merupakan petani dan aktivis lingkungan asal Lumajang yang menolak aktivitas penambangan liar di kawasan Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Pasirian, Kabupaten Lumajang. Ia dikenal sangat keras dalam mempertahankan ruang hidup wilayahnya.
Namun, negara dan aparat represif memandang terbalik. Keberadaan Salim Kancil dianggap sebagai ancaman yang kemudian berujung pada tindakan kekerasan, yakni pengeroyokan oleh orang tidak dikenal hingga menyebabkan Salim Kancil meregang nyawa.10 Disinyalir bahwa orang tidak dikenal tersebut memiliki hubungan antara korporasi industri pemilik tambang yang dekat dengan aparatur negara.
Cerita lain adalah kisah tentang Budi Pego, seorang mantan buruh migran di Arab Saudi yang memutuskan pulang untuk menjadi petani buah naga sederhana di rumahnya. Budi Pego merupakan sosok petani yang kritis dalam menyuarakan penolakan tambang emas di Gunung Tumpang Pitu yang sebagian besar menggusur lahan milik warga petani.
Di tengah aksi penolakan tambang, muncul satu spanduk bergambar palu arit yang identik dengan lambang Partai Komunis. Menurut pengakuan Budi dan kesaksian Komnas HAM, spanduk tersebut tidak pernah dibuat oleh warga, melainkan disisipkan oleh pihak lain ke dalam barisan massa.
Alih-alih dicap ‘teroris’, Budi justru dijerat dengan tuduhan jauh lebih tua dan tak kalah traumatis dalam sejarah politik Indonesia, yakni penyebaran ajaran komunisme yang dilarang dalam Ketetapan MPR Nomor XXV/MPRS/1966.11 Budi didakwa dengan Pasal 107a KUHP tentang penyebaran ajaran Marxisme, Komunisme, dan Leninisme, sebuah pasal warisan rezim keamanan negara yang jauh lebih biasa dipakai untuk membungkam oposisi politik ketimbang mengadili perusak lingkungan.
Kedua cerita kasus yang terjadi di Indonesia di atas memiliki keterkaitan kontekstual dengan film If a Tree Falls (2011) yang menimpa Daniel McGowan dengan tuduhan ‘Eco-Terrorist’, Budi Pego dengan tuduhan ‘komunisme’, hingga tindakan ‘pengeroyokan’ yang menewaskan Salim Kancil.
Kondisi demikian terjadi bukan karena substansi ancamannya yang nyata dalam mempersoalkan keadilan lingkungan, melainkan upaya untuk membungkam para pejuang lingkungan demi memuluskan investasi pembangunan dan industri pertambangan.
Hal demikian yang menjadi pengingat bahwa di mana pun perjuangan ekologis berlangsung, kekuasaan selalu punya kosakata sendiri untuk mengubah pembela menjadi terdakwa kriminalisasi hingga penghilangan nyawa seseorang pejuang lingkungan.
Secercah Refleksi dari Bookchin: Krisis Ekologi sebagai Krisis Hierarki
Untuk memahami secara lebih dalam mengapa ELF—komunitas pejuang lingkungan McGowan—memilih jalan sabotase, dan mengapa jalan itu banyak dipandang problematik dari sudut pandang anarkisme hijau itu sendiri, ada baiknya kita menengok kerangka ekologi sosial yang dibangun Murray Bookchin.
Sebelum masuk lebih jauh, Bookchin merupakan salah satu pendiri Institute for Social Ecology, yakni lembaga pendidikan dan penelitian radikal yang didirikan pada tahun 1974 di Vermont, Amerika Serikat. Sepanjang lebih dari empat dekade, ia cukup aktif dalam gerakan ekologi dan anarkisme.
Visi politiknya bermuara pada apa yang ia sebut libertarian municipalism, yakni demokrasi langsung berbasis komunitas yang membongkar hierarki, bukan sekadar mengganti kapitalisme yang merusak dengan kapitalisme yang “lebih hijau”.
Dalam magnum opus-nya, The Ecology of Freedom (1982), Bookchin membuka argumennya dengan tesis yang menjadi fondasi seluruh pemikirannya. Menurut Bookchin, gagasan tentang dominasi manusia atas alam sesungguhnya berakar dari dominasi manusia atas manusia itu sendiri yang sudah lebih dulu ada.
Fenomena krisis ekologis, bagi Bookchin, bukanlah persoalan teknis yang bisa diselesaikan lewat regulasi atau teknologi hijau semata, melainkan gejala dari struktur hierarki dan logika—kelas, negara, patriarki, dan sistem kapitalisme yang memperlakukan baik manusia maupun alam sebagai objek yang bisa dieksploitasi terus menerus untuk keuntungan ekonomi segelintir manusia lain.
Bagi Bookchin, pembebasan ekologis tidak mungkin dicapai tanpa pembebasan sosial terlebih dahulu. Melalui tesis ini, ia menegaskan bahwa perjuangan lingkungan pada dasarnya adalah perjuangan politik melawan struktur kekuasaan.
Menariknya, jika kita menempatkan aksi ELF dalam kerangka Bookchin sendiri, ketegangan justru muncul. Dalam pamflet kontroversialnya, Social Anarchism or Lifestyle Anarchism (1995), Bookchin justru mengkritik keras arus anarkisme hijau yang individualistis dan berorientasi pada aksi langsung spektakuler tanpa basis massa yang terorganisasi. Ia menuduh gerakan ini sebagai bentuk “anarkisme gaya hidup” yang lebih menyerupai pemberontakan personal ketimbang proyek transformasi sosial yang koheren secara kolektif dan mengakar.
Bagi Bookchin, sabotase oleh sel-sel rahasia yang terputus dari gerakan massa berisiko menjadi aksi simbolik yang mudah dipatahkan negara, karena tidak berakar pada basis sosial yang luas. Teori ini persis seperti yang ditunjukkan film If a Tree Falls, ketika ELF hancur bukan oleh penyergapan spektakuler, melainkan oleh satu informan yang berbalik bekerja sama dengan FBI.
Ironi tersebut menjadi salah satu pelajaran pahit paling penting dari film ini, bahwa taktik klandestin tanpa jaringan solidaritas yang kokoh sangat rentan diruntuhkan dari dalam. Sehingga, jaringan metode gerakan yang kuat dan mengakar dengan warga sangat diperlukan agar sebuah gerakan tidak hancur karena satu, dua, atau tiga perseorangan yang hilang.
Selain itu, jika solidaritas dan jaringan organiknya kuat, maka usaha dari kriminalisasi, stigma, maupun pengeroyokan dapat dipatahkan secara bersama-sama dengan rekan seperjuangan.
Menonton Ulang, Berpikir Ulang
If a Tree Falls pantas disebut sebagai salah satu dokumenter politik terpenting sepanjang dekade 2010-an bukan karena ia membenarkan sabotase sebagai taktik, melainkan karena ia menolak jalan pintas moral—baik glorifikasi buta terhadap ELF maupun demonisasi sepihak ala “war on eco-terror” oleh rezim kekuasaan negara dan korporasi. Film ini mengajak penonton menimbang pertanyaan yang jauh lebih sulit tentang apa yang harus dilakukan ketika saluran demokratis untuk menyuarakan krisis ekologis terus-menerus diabaikan, dikriminalisasi, bahkan direpresi.
Dari Bookchin kita belajar bahwa pembebasan ekologis tidak bisa dilepaskan dari pembongkaran hierarki sosial dan pembangunan basis gerakan yang solid, alih-alih sekadar aksi heroik individual yang mudah dipatahkan.
Sebagai catatan kecil, kita juga bisa belajar dari Arne Naess, seorang pemikir Deep Ecology. Dalam karyanya “The Deep Ecology Platform” (1984), ia menunjukkan bagaimana pentingnya transformasi kesadaran dan penghayatan nilai intrinsik alam sebagai fondasi etis perjuangan.
Beberapa kisah nyata yang telah dipotret seperti Daniel McGowan, Salim Kancil, Budi Pego serta ribuan pembela lingkungan yang kini menghadapi ancaman jauh lebih mematikan di seluruh dunia, kita belajar bahwa perlu kehati-hatian dan jaringan solidaritas yang kuat dalam perjuangan ekologis, agar segala ancaman baik itu teror, kriminalisasi, pengeroyokan atau kekerasan yang lain dapat dipatahkan!
Catatan Kaki
- Pohon poplar adalah pohon berukuran besar yang tumbuh sangat cepat, menghasilkan kayu ringan, dan termasuk dalam genus Populus. Tanaman ini berasal dari wilayah beriklim sedang di belahan bumi utara ↩︎
- Marshall Curry Productions. n.d. “If A Tree Falls: A Story of the Earth Liberation Front (2011).” https://www.marshallcurry.com/iatf.html ↩︎
- Ibid ↩︎
- Democracy Now! 2011. “‘If a Tree Falls’: New Documentary on Daniel McGowan, Earth Liberation Front and Green Scare.” June 21. https://www.democracynow.org/2011/6/21/if_a_tree_falls_new_documentary. ↩︎
- Terroris Enhancement adalah sebuah ketentuan dalam pedoman hukuman federal AS yang memperberat hukuman jika hakim menilai kejahatan dimaksudkan untuk “memaksa” kebijakan pemerintah ↩︎
- Democracy Now! 2007. “Exclusive: Facing Seven Years in Jail, Environmental Activist Daniel McGowan Speaks Out About the Earth Liberation Front, the Green Scare and the Government’s Treatment of Activists as ‘Terrorists.'” June 11. https://www.democracynow.org/2007/6/11/exclusive_facing_seven_years_in_jail ↩︎
- HuffPost, “I ‘Got Snatched’: Daniel McGowan’s Bizarre Trip Through America’s Prison System,” 2013. https://www.huffpost.com/entry/daniel-mcgowan-prison_n_3860426 ↩︎
- Alle Brown. 2019. The Green Scare: How a Movement That Never Killed Anyone Become FBI’s No. 1 Domestic Terrorism Threat. The Intercept. https://theintercept.com/2019/03/23/ecoterrorism-fbi-animal-rights/ ↩︎
- Peace Brigades International-Canada, “Global Witness report: 146 land and environmental defenders murdered or disappeared in 2024,” 2025. https://globalwitness.org/en/campaigns/land-and-environmental-defenders/roots-of-resistance/?gad_source=1&gad_campaignid=240157824&gbraid=0AAAAADm6LOCJbvuVviLWOMi0wON7cWLWx&gclid=Cj0KCQjwkOvTBhDgARIsAKUNyRt35iHF_OUAUDfVd6D6CTKCpSY17Ss4CqFpjKiDNUyI1fKvnDntF7UaAq24EALw_wcB ↩︎
- WALHI Jatim, “9 Tahun Salim Kancil Mati Karena Melawan Tambang”. 2024. https://walhijatim.org/2024/09/27/9-tahun-salim-kancil-mati/ ↩︎
- BBC, “Aktivis menolak tambang emas di Banyuwangi ‘dicap komunis’, dipenjara setelah kasusnya ‘digantung’ empat tahun – mengapa pegiat lingkungan ‘harus dilindungi’?”. 2023. https://www.bbc.com/indonesia/articles/cv290lyn293o ↩︎