Saya tidak pernah mengenal Cung sebagai sosok yang anteng. Dia sangat lasak. Saban saya pulang ke Kampung Gimba, Cung hampir selalu sedang pergi. Dua belas tahun lalu, saat usianya 17 tahun dan saya pertama kali tinggal di rumah keluarganya. Orang-orang kampung selalu memberikan jawaban berbeda-beda saat saya menanyakan keberadaannya.
โCung sedang merekek,โ kata mereka, berebut sisa-sisa emas di lubang galian resmi. Besoknya, โKe ladang.โ Hari berikutnya, โKe kebun.โ Pun jika sedang di rumah, rasanya tak pernah lebih dari satu jam ia diam bersantai. Kadang Cung baru pulang ketika listrik rumah sudah padam, dengan badan yang masih berlumur lumpur sungai, atau kulitnya mengilap oleh minyak sisa memuat buah sawit ke truk. Bahkan, ia bisa tak pulang ke rumah selama berhari-hari.
Ketika saya berhenti bertanya kapan Cung akan pulang, malah banyak cerita yang berdatangan. Semua selalu bermula dari apa yang ia miliki, yang sempat ia miliki, dan yang mereka harap ia miliki.
Ponsel, Motor, dan Speaker
Pada suatu sore di bulan November 2021, Tor pernah menghitung berapa banyak barang mewah yang telah ia berikan untuk anak tengahnya itu. Katanya, sudah tiga ponsel yang ia belikan. Namun, semuanya tak ada yang bertahan; ada yang dijual untuk bayar utang, ada yang hilang entah kemana. Begitu pula dengan sepeda motor kebanggaan keluarga, yang ikut dilego buat bayar utang.
Padahal, sepeda motor itu acap digunakan Cung untuk berangkat kerja. Setiap kali Tor mengingat cerita-cerita itu, nada suaranya berubah meninggi, tapi tidak marah. Ia hanya kecewa lantaran tiap barang yang hilang, seolah membawa pergi pula harapannya untuk melihat Cung diam di rumah.
May, istri Tor, juga pernah mewanti-wanti. Kalau Cung serius ingin membeli ponsel lagi di bulan Desember, maka mereka hanya bisa menambahkan sedikit uang. Selebihnya harus Cung usahakan sendiri.
Baik Tor maupun May, selalu mengingatkan saya tentang sosok Cung sebagai anak yang rajin dan cepat belajar, meskipun Cung tidak melanjutkan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sosok Cung yang supel membuatnya mudah berkawan dengan siapa pun. Alhasil, Cung dengan mudah bisa mendapatkan berbagai jenis pekerjaan. Ia bisa dengan cepat mendapat pekerjaan di tambang atau ikut bekerja di truk sawit milik kenalannya. Namun, Cung terlalu mudah meninggalkan pekerjaan ketika merasa diperlakukan tidak adil.
Misalnya saja, Cung pernah protes ke mandor panennya karena gaji tak kunjung turun setelah pekerjaan selesai. Karena tindakannya ini, si mandorโyang adalah tetangganya sendiriโmemberikan sanksi. Ia memotong gaji Cung dan memberikan penilaian buruk untuk kinerjanya. Tor dan May berang. Bukan karena si mandor semena-mena, tapi karena Cung tidak patuh dan tidak sabaran kepada atasan sehingga dampaknya negatif.
Kedua orang tuanya selalu ingin Cung membangun karier dan bekerja permanen di perusahaan sawit, seperti Tor yang kini menyambung sebagai tenaga keamanan usai menjabat sebagai โhumas lapanganโโsebuah posisi khusus bagi tokoh lokal yang ditugaskan mencari โlahan nganggurโ di sekitar kampungnya untuk dijual.
Suatu hari kakek Cung juga pernah bertanya kepada sepasang suami istri itu, mengapa mereka selalu melarang anaknya untuk bekerja di luar perkebunan sawit? Maksudnya, mungkin Cung bisa membuka jasa menempa dan asah parang seperti sang Kakek. Saat itu, Tor membalas โAda pilihan apa lagi?โ Baginya, โKerja di PT sudah yang terbaik.โ
Keinginan Tor bukan tanpa alasan. Bagi Tor dan sebagian warga Gimba, kerja sawit merupakan sebuah keniscayaan yang dijalani dengan bangga, sementara pekerjaan yang lain dianggap terlalu berisiko. Ngerekek mungkin menjadi pilihan kerja dengan risiko yang paling parah, kendati imbal balik sangat menggiurkan.
Pada suatu waktu di tahun 2016, Tor pernah memamerkan plastik bening berisi butir emas hasil Cung ngerekek. Abangnya Cung yang saat itu sedang bersantai setelah kerja panen menjelaskan, harga satu gram emas kabarnya mencapai Rp420.000.
โNah di kampung sebelah pernah ada yang dapat 30 gram sekaligus, bayangkanlah! Langsung beli motor trail, TV, kulkas,โ papar abang Cung.
Namun, Tor mengingatkan bahwa kerja ngerekek, bukan hanya soal kucing-kucingan dengan polisi, melainkan juga bertaruh nyawa. Tidak jarang penambang tertimbun longsor saat berebut lubang atau terpaksa pulang tanpa hasil. Saya yakin sebenarnya Cung juga paham. Tapi, setiap kali ada kabar lokasi galian baru yang sedang menghasilkan, keesokan paginya ia sudah pergi lagi.
Kartu BPJS, Surat Agunan, dan Pasangan
Janji dari bertahun-tahun kerja di kebun orang lain, jika ditambahkan sedikit utang, adalah sebuah kebun pribadi. Pada tahun 2021, Tor berencana meminjam Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mengerjakan dua hektar kebun baru di lahan warisan moyangnya. Ia menyebut KUR โbank dari presiden untuk orang miskinโ, dan untuk meyakinkan presiden, ia sudah mengumpulkan fotokopi dokumen miliknya beserta milik kedua anaknya yang sudah menikah: kartu BPJS, kartu keluarga masing-masing, lengkap dengan KTP, pasfoto, dan surat izin usaha dari kepala desa. Selain itu, rumah yang ia tempati dijadikan agunan untuk pinjaman tersebut. Atas keberaniannya ini, ia yakin akan dapat setidaknya Rp50 juta. Ia juga yakin tidak akan gagal bayar, karena Cung beserta abang dan adiknya akan melanjutkan tanggung jawab ini sekalipun ia meninggal.
Mampu mengajukan pinjaman ke bank, menurut Tor maupun May, adalah salah satu keuntungan dari berumah tangga. Di dalam sebuah keluarga, seseorang melatih diri mengelola keuangan dan belajar disiplin dalam membayar utang. Jika dilakukan dengan konsisten, ia bisa punya usaha kebun sendiri atau memperluas yang sudah ada. Cung belum sampai ke tahap tersebut.
Mungkin karena ini pula, Cung selalu dibandingkan dengan abang dan adiknya. Abangnya menikah dengan seorang perempuan yang bekerja di warung tempat ia rutin beristirahat saat masih kerja ngerekek. Setelah menikah, ia berhenti mencari emas dan memilih kerja sebagai buruh panen dan pemuat di sebuah CV (Commanditaire Vennootschap), milik orang terkaya di Gimba dengan upah Rp150 per kilogram. Sisa waktunya ia pakai mengurus kebun pribadi Tor yang menghasilkan Rp2 juta per bulan, dan kelak kebun itu akan diwariskan kepadanya.
Sementara itu, sang adik menikah dengan seorang lelaki yang ia temui ketika sedang kerja jaga toko di kota kecamatan. Segera setelah menikah, ia mangkat dari pekerjaannya, lalu ikut hidup di kampung suami ataupun di kamp perusahaan sawit tempat suaminya bekerja bulan itu. Terkadang gajinya mencapai Rp3 juta per bulan, sebelum dipotong berbagai pinjaman kebutuhan sehari-hari di perusahaan.
Ketika semua anak dan menantu berkumpul di rumah Tor dan May, Cung hampir selalu menyapa sebentar sebelum kemudian pergi lagi. โGimana mau punya istri dia tuh,โ adiknya kadang khawatir.
Dua Liter Arak, Erigo, dan Pance Pondaag
Kalau diingat-ingat, hanya tiga kali saya dan Cung sempat ngobrol panjang. Satu kali ketika saya meminta tolong diantarkan ke pusat desa dan dua kali ketika kami sedang berkaraoke di rumah salah seorang kawan. Di ketiga kesempatan itu pula, Cung selalu tampak lega, seolah udara di ruangan itu lebih segar dibanding di rumahnya.
Kali ini Cung punya uang yang berhasil disimpan dari hasil kerjanya. Nominalnya tidak banyak, namun cukup untuk akhirnya melunasi kaus dan topi Erigo imitasi, yang sejak lama ditaksirnya dari laman Facebook, milik seorang pedagang di kota kecamatan. Sebagian lagi, ia gunakan untuk mentraktir kawan-kawannya dua liter arak dan makanan ringan, sebagai selingan karaoke lagu-lagu tembang kenangan.

Sama seperti Cung, kawan-kawan yang menemaninya malam itu juga hampir tidak pernah menetap di satu pekerjaan. Mereka berpindah-pindah; dari kebun karet ke sawit, dari sawit ke tambang, lalu dari tambang kembali ke kebun sawit. Mereka beralih kerja mengikuti upah, harga, kontrak, dan rumor tentang tempat kerja yang katanya sedang โbagus.โ Rasanya tidak berlebihan, jika saya bilang bahwa diam di kampung adalah kemewahan bagi anak muda seumuran Cung. Orang lain mungkin tahu apa yang mereka kerjakan, namun jarang ada yang tahu di mana persisnya mereka bekerja.
Cung dan kawan-kawannya, yang tidak pernah diam di satu tempat, acap kali dinilai tidak stabil. Tidak mau bertahan bekerja sawit di perusahaan. Tidak mampu meminjam kredit untuk membuka kebun pribadi. Tidak punya cukup uang untuk berkeluarga. Tidak setara dengan manusia dewasa lainnya. Namun, lirik dua lagu yang Cung nyanyikan hingga tertidur bisa jadi sedikit pertanda tentang isi hatinya. Salah satu lagu yang ia sering ulang adalah Jatuh Bangun oleh Meggy Z.
Lagu lainnya yang tak luput menjadi favorit mereka adalah Demi Kau dan si Buah Hati oleh Pance Pondaag, sebuah lagu yang juga sering dinyanyikan oleh kebanyakan supir truk sawit.
Saya tidak tahu apakah Cung menyanyikan lagu-lagu itu karena teringat seseorang atau hanya karena semua orang kenal liriknya. Yang pasti, setelah lagu terakhir dinyanyikan dan arak tandas ditenggak, Cung pulang ke rumah, menyantap sisa masakan sore yang dibuat oleh May, lalu tidur. Keesokan paginya, sebelum orang tuanya pergi menyadap karet, ia sudah berangkat kerja lagi.
Sekantung Ponsel, Segenggam Rokok, dan Sekantung Arak Bocor
Tahun 2023 saya kembali ke Kampung Gimba. Untuk pertama kalinya, setelah hampir satu dekade, saya tidak perlu lagi bertanya tentang keberadaan Cung. Semua orang di kampung seolah berlombang-lomba ingin memberi tahu jawabannya. Mereka juga mempunyai jawaban yang sama.
Cung meninggal di kamarnya, sekitar dua minggu setelah ia dirawat karena tidak sengaja meminum herbisida saat kampung sedang mati listrik. Racun itu diletakkan di dapur, dekat tong โair matiโ yang memang disiapkan May untuk keluarga minum. Selama dua minggu, ia dirawat di rumah sakit di kota kecamatan. Dokter memintanya agar rutin kembali berobat untuk cuci darah. Namun, dari apa yang diceritakan May, ia pernah mangkir dari salah satu jadwal kunjungannyaโentah atas keputusan sendiri, oleh keluarganya, atau perlahan-lahan terbentuk dari keadaan yang membuat perjalanan ke rumah sakit terasa mustahil.
Sebagian orang di kampung menyebut kalau kasus meninggalnya Cung, sebagai โmati sia-siaโโmeninggal tanpa mencapai potensi sepenuhnya dan hanya menyisakan kesesakan. Mati sia-sia seolah menjadi ungkapan lazim bagi warga untuk mendeskripsikan beberapa kematian lain di sekitar kampung.
Beberapa bulan sebelumnya, ada seorang ibu yang meninggal karena dikutuk oleh tetangganya yang cemburu tentang hasil panen. Tidak lama berselang, seorang ibu lain meminum herbisida karena tak tahan mendengar kabar bahwa suaminya selingkuh saat kerja di kampung seberang.
Ketika kabar mati sia-sia beredar, kampung sejenak gempar dan spekulasi berputar: apakah Cung betul-betul tidak sengaja minum herbisida? Bukankah baunya sangat menyengat? Atau jangan-jangan dia bunuh diri? Namun, secepat orang-orang membanun praduga, secepat itu pula segala spekulasi itu mereda. Lalu, kehidupan kampung Gimba kembali berjalan seperti biasa. โSeolah terjadi begitu saja,โ cerita salah seorang tetangga.
Namun, sebuah kematian tidak pernah membuat segala sesuatunya betul-betul selesai. Meninggalnya Cung menyisakan utang biaya pengobatan bagi Tor dan anak pertamanya, masing-masing menanggung Rp20 sampai Rp30 juta. Setiap bulan, mereka harus mengatur berbagai sumber pemasukan keluarga untuk membayar utang yang terus bertambah sejalan dengan masalah kesehatan lain di keluarga yang terus bermunculan.
Di luar urusan utang, ada hal-hal lain yang tetap tinggal. Keesokan pagi setelah saya tiba di Kampung Gimba, saya menemani Tor dan May berziarah ke makam Cung di bukit belakang kampung. Penanda makamnya terbuat dari dua kayu silang yang dicat merah. Di salah satu sisinya, tergantung tiga barang yang paling akrab dengan Cung, ketiganya dibungkus dalam sebuah plastik bening: ponsel terakhirnya, rokok lokal yang selalu ada di kantong celananya, dan seplastik arak lengkap dengan sedotan plastiknya.ย
Ini adalah kali pertama saya melihat May menangis sambil Tor membacakan doa-doa sembari membersihkan makam. โApa saja yang dia minta, pasti ku belikan,โ ucap Tor lirih di jalan pulang.
Untuk pertama kalinya, Cung tidak sedang di kebun, di tambang, di rumah kawan berkaraoke, atau dalam perjalanan menuju pekerjaan berikutnya. Cung akhirnya berhenti bergerak. Dunia di sekelilingnya tidak.